SHOLAT BAGIAN III

by Zulkarnain Bandjar

Ingat !!

Jangan terjebak dengan kata-kata, sebab kata-kata hanya sebatas pengantar saja, fokuskan pada maksud yang terkandung dalam kata-kata itu sendiri, dalam tulisan ini kata sholat dan sembahyang di maksudkan sama.

 

 ( Lanjutan dari Sholat bagian II )

 

Adapun kenapa dikatakan lafaz takbiratull ikhram itu dengan lafaz Allahu Akbar dan bukan melafazkan dengan lafaz yang lain, adalah karena selain mengambil dari pada ilmu hakekat usul diri ketika Nabi Adam a.s. pertama kali menilik dirinya berucap Allahu Akbar, juga karena perkataan Allahu Akbar jelas menyatakan tajalli diri rahasia Allah sehingga dapat ditanggung oleh empat perkara yaitu ….

Sesungguhnya perkataan dalam ucapan Allahu Akbar mengisyaratkan kepada martabat sifat, menandakan zat dan sifat sama-sama saling puji memuji diantara satu dengan yang lain, disamping itu perkataan Allahu Akbar juga bermaksud untuk menjelaskan bahwa sifat itu tidak boleh terpisahkan, bagai tidak boleh dipisahkan antara manis dengan gula, atau pedas dengan lada.

 

Adapun yang dikatakan wudhu adalah mengambil air sembahyang, wudhu gunanya untuk membersihkan diri sebelum menunaikan sembahyang. Hal-hal wajib yang harus dilakukan oleh kita ketika mengambil wudhu adalah pertama niat, kedua membasuh muka, ketiga membasuh tangan, keempat membasuh kepala, kelima membasuh kaki dan keenam adalah tertib.

Hal ini sesuai dengan firman Allah didalam al-Quran.

Artinya  :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka hendaklah kamu membasuh mukamu, dan basuhlah tanganmu hingga kesiku dan sapulah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai kemata kaki.

           

Didalam membicarakan sembahyang ini, maka sepantasnya kita membicarakan hakekat wudhu yang terdiri dari niat, basuh tangan, sapu kepala dan basuh kaki.

Adapun hakekat niat wudhu itu adalah membawa kepada ketepatan yang bermaksud kepada : ….

Yaitu sebelum kita menunaikan sholat maka kita haruslah terlebih dahulu menafikan hak kita, sebaliknya hendaklah mengisbabkan sepenuhnya hak itu kepada Allah semata.

Ini sesuai dengan Firman Allah didalam al-Quran : Surah: Al-Qashash ayat 88

………………….

 

Pandangan Ahli Tasauf :

Tiada yang wujud hanya Zat-Nya semata-mata, maka setiap sesuatu (yang zahir) adalah lenyap (tidak sebenarnya) kecuali semua yang zahir itu adalah wajahNya semata-mata. Dialah yang benar-benar berhak dan kepadaNya haruslah dikembalikan.

Kita mengisbabkan hidup kita, ilmu kita, pandangan kita, penglihatan kita, kuasa kita, kata-kata kita, semuanya adalah hak Allah semata dan bukan sekali-kali hak kita, dan sesungguhnya konsep diatas inilah pengertian hakekat wudhu yang sebenar-benarnya pada pandangan ahli tasauf.

 

HAKEKAT WUDHU

1. Adapun hakekat membasuh muka adalah membawa arti bahwa sebelum kita menunaikan sembahyang, kita haruslah terlebih dahulu membersihkan atau membuang segala sifat–sifat tercela yang ada pada diri kita. Kita harus membuang segala sifat-sifat mustakbir, bermegah-megahan, sombong, merasa mulia, merasa besar dan sebagainya pada diri kita sebelum kita menunaikan sembahyang dan sesungguhnya muka adalah simbol mukaNya kepada manusia.

 2. Adapun hakekat membasuh  tangan adalah membawa arti bahwa sebelum kita menunaikan sembahyang kita haruslah terlebih dahulu membersihkan atau membuang dari diri kita segala sifat-sifat, aku berkuasa, aku orang kuat, aku orang besar, aku orang …., semuanya di hilangkan dari diri kita dan dikembalikan kepada Allah s.w.t.

3. Adapun hakekat membasuh kepala adalah bermakna sebelum dan ketika kita menunaikan sembahyang kita haruslah membersihkan segala pikiran kita dengan sifat-sifat syirik dan mazmumah pada diri kita, haruslah pula membersihkan segala pikiran kita dari hal-hal yang lain dan pusatkan segala-galanya kepada Allah semata-mata.

4. Adapun hakekat membasuh kaki pada pengertian ini adalah berarti kita haruslah membetulkan jalan perjalanan kita hanya untuk satu tujuan yaitu Allah semata. Kita harus mengarahkan perjalanan kita hanya kepada Allah semata mata, tidak lagi kejalan-jalan lain sebelum kita menunaikan sembahyang.

 

Masih berlanjut…

 

Salam : Zulkarnain Bandjar