TENTANG HAJI (2)

by Zulkarnain Bandjar

TENTANG HAJI (2)

Haji adalah Rukun Islam kelima, ini mengartikan bahwa rukun ini hanya boleh di-kerjakan bagi mereka yang sudah menguasai (mampu) menunai-kan rukun – rukun yang lain, yaitu  :

1.Tentang mengucapkan syahadat yang benar, hati-hati dengan syahadat karena hal ini kalau kita tidak pahami maka akan menjadi bumerang buat kita, sebagaimana kita ketahui pada akhirnya banyak dari mereka yang sudah berhasil meningkat-kan level ke-imanannya bertobat dengan kalimat ini karena sebelumnya belum mengetahui kalau syahadat ini jika salah di-ucapkan akan menjadi kalimat ingkar atau mensyirikan Allah s.w.t.

2.Tentang Sholat yaitu bagaimana menunaikan yang benar, bahwa sholat ini adalah suatu tata-cara dalam beribadah untuk kita bisa menyaksikan diri kita, bukan untuk menyembah apa yang ada di hadapan kita, karena hal ini-pun akan menjadi bumerang buat kita karena kita juga sudah mensyirikan Allah s.w.t.

3. Tentang Puasa, sesungguhnya puasa itu pengendalian diri lahir dan batin agar kita bisa selalu ber-hubungan dengan Allah setiap waktu, setiap saat, karena jika dalam satu detik saja kita tidak meng-ingat kepada Allah ber-arti yang hadir adalah selain Allah maka kitapun sudah mensyirikan Allah s.w.t.

4. Tentang Zakat ini berkaitan dengan harta benda atau apa saja yang kita anggap adalah milik kita, sesungguhnya diri kita dan alam semesta ini adalah Haq dari pada Allah, maka tidak satupun yang berhak kecuali Haq Allah, oleh karena-nya semua harus bisa kita kembalikan karena ini hanya titipan belaka, jika ada terselip di hati bahwa ini adalah haq kita maka kita pun sudah ingkar sama dengan kita mensyikan Allah s.w.t.

5. Tentang Ibadah Haji ini di khusus-kan kepada mereka yang sehat lahir dan batin serta sudah berumah tangga dan mampu menguasai ke-empat rukun sebelumnya karena jika mereka tidak menguasai ilmunya, maka sama saja mereka telah menyembah ka’bah yang hanya merupakan batu hitam sebagai perlambangan rumah Tuhan yang artinya mereka-pun telah mensyirikan Allah s.w.t.

Nampak-nya ke-lima RUKUN di-atas ini harus kita pahami lebih dulu ilmunya baru boleh kita kerjakan, jangan sampai di-kerja-kan karena ikut-ikutan, yang diikuti juga ikut-ikutan akhirnya kalau kepalanya masuk ke-jurang maka ekor-nya juga yaa.. ikut masuk ke-jurang.

Adapun mereka yang hakiki lagi makrifat tidak sedikit-pun tertarik dengan cara ikut-ikutan ini, mereka hanya mengerjakan amalan sesuai dengan apa yang mereka dapat-kan langsung melalui cara LADUNI.

Singkat kata bagi mereka yang men-dapatkan karena ikut-ikutan, karena pernah melihat orang mengerjakan seperti itu, atau karena dengar dari orang cerita, karena pernah baca dan karena-karena yang lain tapi bukan dari pengalaman spiritual mereka sendiri maka akhirnya banyak timbul perdebatan karena mereka tahu bukan dengan tahunya, sedangkan pada level pengalaman apa yang mau di perdebat-kan?

Pada bab ini, sehubungan dengan bulan Haji, marilah kita coba mengurai sedikit saja apa makna haji yang sesungguhnya jangan sampai :

1.       Wukuf di Arafah hanya menjadi renungan yang kosong

 2.       Melempar jumrah di Mina tapi tidak bisa mengusir setan dalam diri

 3.       Tawaf mengelilingi Kabah hanya sekedar berputar-putar menyembah batu

 4.       Sai antara safa dan marwah hanya lari-lari kecil yang tidak ada makna.

Adapun bagi mereka yang mau berangkat ke-Haji  maka wajib mempelajarinya pada guru-guru yang sudah Mursyid.

Saran :

karena Ka’bah itu warna hitam jadi carilah juga pada mereka yang pakai kopiah warna hitam bukan yang warna putih saja karena sepengetahuan saya banyak yang sampai pada martabat ini dari mereka yang seperti itu.

Adapun cara-cara haji itu adalah :

Awal mula berniat :

Niatku berhaji ke Baitullah di tanah suci Mekkah untuk menyaksikan Diri Rahasiaku karena Allah semata-mata

Keluar dari rumah :

Rumah ini adalah Baitul insan, didalam-nya terkandung 30 huruf yang ada dalam alqur’an, saya ke Baitullah membawa huruf Alif dan akan saya kembali hingga menjadi 30 huruf kembali.

Berangkat ke penampungan (Mesjid ), keluar dari mesjid dengan niat :

Saya keluar dari Baitul maal membawa satu juz yaitu juz alif, lam, Mim dan saya akan kembali lagi ke tempat ini untuk melengkapi menjadi 30 juz agar bisa menjadi al-quran yang sempurna

Berangkat ke bandara meninggalkan Tanah Air,

Saat meninggalkan tanah air …

Masuk kedalam pesawat niatkan saya masuk kedalam kandungan ibu.

Sampai di Jeddah, saya bertemu dengan jodoh saya.

……………………………………………………

Sebelum masuk ke tanah haram kita di-wajib-kan memakai pakaian Ihram ( ini sama dengan ketika sholat kita takbiratul ihram ) mengartikan  sebagai pembatas antara dua alam, yang satu tanah halal yaitu tubuh jasmani (fana) atau dunia sedangkan yang satu tanah haram yaitu tubuh rohani (baqa) atau kampung Akhirat.

Memakai pakaian ihram artinya kita masuk kedalam sarung saat kita berada di-alam kandungan ibu maka dari sini pangil-lah ke-empat saudara kita untuk mengantar kita bertemu dengan diri rahasia kita.

 

Saya cukupkan sampai sini dulu, bisa dilihat lanjutan-nya pada uraian yang sebelum-nya.

Salam : Zulkarnain Bandjar

About these ads