*** ZAKAR & FARAJ ***

by Zulkarnain Bandjar

AWAS  JALAN  LICIN !!!

Segala bentuk pembahasan adalah mengunakan penafsiran dan istilah dalam pengajian ilmu Hakekat dan Makrifat dan hal ini berbeda jauh dari pemahaman pengajian ilmu Syariat, sekali lagi pembahasan hanya di tujukan bagi mereka yang mempunyai dasar pemahaman Hakekat dan Makrifat saja sedangkan untuk pengajian Syariat sebaiknya tidak membaca-nya

 MAKRIFAT DALAM HAKEKAT KEJADIAN MANUSIA

Manusia datang dari alam Gaibul Gaib kemudian dipindah-kan dari alam yang satu ke-alam lainnya sampailah manusia wujud zahir di alam dunia ini.

Sesungguhnya diri batin manusia ini adalah dari Rahasia Allah yang di-tajallikan oleh diri Empunya Diri (ZattulHaq) akan rahasiaNya itu untuk ditanggung oleh manusia.

Bila saja rahasia itu ditanggung oleh manusia, maka adalah menjadi tugas manusia pula untuk me-Makrifat-kan dirinya dengan Allah s.w.t dan sesungguhnya tidak sempurna hakikat hidup seorang manusia itu jika dia tidak me-makrifat-kan dengan Allah s.w.t

Didalam al-Quran Allah berfirman :

Surah Al-Zariat ayat 56

Wama halaqnal jinna wal insa illa liya’budu

Artinya :

Tidaklah Ku jadikan jin dan manusia kecuali untuk ber-bakti (mengenal dirinya)

Juga Rasullullah bersabda :

Awalluddin Makrifatullah

Artinya :

Awal agama (cara hidup) adalah mengenal Allah.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tugas manusia sebenarnya adalah menerima diri rahasia Allah dan ber-tanggung jawab untuk memulangkan diri Rahasia Allah itu kepada Empunya Diri.

Seperti firman Allah dalam Al-Quran

Surah An-Nisa ayat 58

Innallaha ya’murukum antuaddu amaanaati illa ahliha

Artinya :

Sesungguhnya Allah (diri Empunya Diri) memerintahkan supaya memulangkan amanahNya kepada yang ber-Hak (diri Empunya Diri).

Maka selama manusia tidak me-Makrifat-kan dirinya dengan Allah, maka selama itulah manusia tersebut tidak mungkin dapat memulangkan amanah Allah itu kepada diri Empunya Diri yaitu Tuhan Semesta Alam.

Untuk memakrifatkan diri dengan Allah s.w.t maka manusia telah diberikan jalan tersebut, pertama manusia itu harus-lah mengenal Allah dan untuk mengenal Allah maka manusia tersebut harus-lah mengenal akan dirinya.

(al insanu sirri wa ana sirru)Dan sesungguhnya dengan mengenal dirinya maka seseorang itu akan dapat secara otomatis mengenal tuhannya. (man arafah nafsahu fakad arafah rabbahu) dan barang siapa dapat mengenal tuhannya maka niscaya binasa-lah dirinya (man arafah rabbahu fasada jasadi).

Untuk me-Makrifat-kan dir Allah s.w.t maka Allah telah menyatakan dalam firmanya :

Qulhuallahu ahad Allahussamad Lamyalid walam yuulad Walam yakullahu Kuffuan Ahad.

Artinya :

Katakanlah sesungguhnya Allah itu satu Dia tidak beranak dan tidak pula di per-anak-kan Dan sesungguhnya tiada sesuatupun yang dapat menyerupai diriNya.

Disini para ulama Tasauf telah bersepakat menyatakan bahwa ayat-ayat surah Al-Iklas diatas adalah ayat-ayat Makrifat yang meliputi tentang proses tajalli diri Allah s.w.t mulai peringkat AHDAH sampai ke Alam INSAN (lihat uraian sebelumnya).

Hal ini karena didalam empat ayat yang terkandung didalam Surah Al-Iklas ini, Allah s.w.t telah menekankan dengan seriusnya, firmanya :

LAMYALID WALAMYUULAD

Artinya :

Tidak ber-anak dan tidak di per-anak-kan.

Bila kita ber-bicara soal BER-ANAK DAN TIDAK DIPERANAKKAN, maka dengan segera kita dapat memahaminya, bahwa yang sedang kita bicarakan tentunya BUKAN soal Bulan, soal Bintang, soal berdagang, soal baju dan sebagainya tetapi secara otomatis tentunya kita akan membicarakan soal Kemaluan Perempuan (burit) dan Kemaluan lelaki (pelir).

Sebenarnya ada apa sampai soal Burit (Faraj) dan soal Pelir (Zakar) di Perbincangkan dalam pengajian Makrifat dengan Allah?

Sesungguhnya karena Faraj dan Zakar mempunyai cirri-ciri Makrifat dan Ilmu Makrifat Tinggi.

Sesungguhnya tugas Zakar adalah memakrifatkan dirinya dengan Faraj, dan Faraj juga mempunyai tugas yang sama yaitu memakrifatkan dirinya dengan Zakar.

Perlu ditegaskan disini bahwa tujuan pertama Zakar harus memakrifatkan dirinya dengan Faraj adalah untuk menyampaikan Rahasia  hakekat diri manusia yang terkandung didalam Mani kepada Faraj dan tugas Faraj juga harus menerima Rahasia Hakekat diri manusia untuk dikandung oleh Rahim yang berakhir dengan terbentuknya diri seorang manusia itu, maka sebab itulah Faraj harus me-Makrifat-kan dirinya dengan Zakar.

Begitupun dengan manusia, dimana seorang manusia itu terpaksa memakrifatkan dirinya dengan Allah s.w.t dengan tujuan untuk menyerahkan amanah diri Rahasia Allah kepada ZATULHAQ  (Tuhan semesta Alam).

Dalam mem-bincang-kan soal makrifatkannya Zakar dengan Faraj dan makrifatkannya Faraz dengan Zakar, banyak hal-hal ANEH yang harus di-gali oleh kita.

Beberapa hal harus dijawab dan dikaji oleh kita bersama, disamping kita membuat perbandingan terhadap diri kita dalam konteks “ Makrifat dengan Allah s.w.t”.

Hal-hal tersebut adalah :

 

1. Bagaimana Zakar bisa tahu ketika kita berbicara soal Faraj langsung saja dia bangkit berdiri (keras) seakan mencari  faraj  yang sedang dibicarakan tadi, dan begitupula hal-nya dengan Faraj.

-

2. Bagaimana pula Zakar dapat mendengar apabila disebut nama Faraj dan terus Bangun (keras), Berarti Zakar mendengar lalu Zakar mendengar menggunakan telinga yang mana?

-

3. Bagaimana pula Zakar dapat melihat, sedangkan dia tidak mempunyai mata, tetapi dia dapat melihat Faraj walaupun diselubungi dan dilindungi, maka begitu pula dengan Faraj.

-

4. Bagaimana dan siapakah yang mengajar Zakar dan Faraj mengenali antara satu dengan yang lain, dan mengapa juga seseorang yang hendak melangsungkan Perkawinan tidak pernah diajarkan tentang cara-cara mengadakan hubungan Sex, lalu mengapa ibu bapaknya yang mengawin-kan anaknya meyakini anak-anak mereka sudah paham tentang Sex, dari mana dan siapa yang mengajar anak-anak itu tentang Sex?

-

5. Apakah ilmu yang dipakai oleh Zakar dan Faraj hingga mereka dapat mengetahui dan me-Makrifat-kan tanpa belajar dan di-ajar.

Masih banyak lagi hal-hal yang harus kita perhatikan untuk dapat mengambil sebagai iktibar yang baik didalam tujuan kita mengenali Allah s.w.t

Sesungguhnya Zakar dan Faraj benar-benar Makrifat antara satu dengan lainnya sehingga ketika disebut salah satu nama diantara mereka lantas masing-masing menunjukan reaksi Spontan tidak perlu lagi untuk di suruh-suruh oleh siapapun.

Zakar memang mengenali Faraj tetapi bagi Zakar jika disebut nama yang lain niscaya dia tidak akan menunjukkan reaksi apa-apa, kenapa? Dan mengapa?

Jika Zakar tujuan makrifatnya dengan Faraj dan manusia mempunyai tujuan makrifat dengan diri Allah, maka kenapa kita bila saja disebut nama Allah hingga beberapa kalipun, tubuh kita, jiwa kita, hati kita tidak menunjukkan reaksi apa-apa tidak seperti Zakar terhadap Faraj.

Tetapi sebaliknya, kita bila saja disebut nama hantu dengan satu ceritera yang diolah dengan baik niscaya secara spontan kita akan menunjukkan suatu reaksi semacam takut dan sebagainya, bisa jadi kita merinding dan tubuh kita tanpa disuruh jadi gemetar.

Kenapa-kah terjadi begini? Hal ini dengan jelas memberitahu kepada kita dan membuktikan bahwa kita masih dikuasai dengan apa yang dinamakan Iblis, hati kita masih kotor bersama iblis, tubuh kita, kulit, daging, darah, lemak, tulang dan sebagainya  menunjukkan masih dikuasai oleh iblis dan kita lebih kenal HANTU daripada TUHAN, karena itulah bilasaja disebut nama Hantu maka gemetarlah jiwa, hati dan tubuh kita.

Sesungguhnya bila, jiwa, hati dan tubuh kita benar-benar dikuasai oleh Allah dan kita juga benar-benar Makrifat kepada Allah maka niscaya bila saja disebut nama ALLAH maka gemetarlah jiwa kita, hati kita dan tubuh kita secara Spontan tanpa disuruh-suruh dan dibuat-buat (seperti cerita Zakar dengan Faraj)

Firman Allah Surah Al-Annfal ayat 2

Innamal mukminunallaziina zukirallahu wajilatquluubuhum waijaatuliyat a’laihim aayaatuhuu raadathum iimanaata a’larabbihim yatawakkalun.

Artinya :

Sesungguhnya orang mukmin bagi mereka apabila saja disebut nama Allah niscaya gemetarlah seluruh hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Kami maka bertambah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.

Oleh karena itu maka marilah kita berusaha untuk membuang sifat-sifat syirik didalam hati dan ciptakanlah hati ini agar menjadi  Istana Allah.

Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w

Qalbu mukminin Baitullah

Artinya :

Sesungguhnya hati orang mukmin itu adalah Istana Allah.

 

Tidakkah kita malu kepada Zakar dan Faraj kita..??

 

Salam Zulkarnain Bandjar