” NUR QALBU “

by Zulkarnain Bandjar

Ber-awal NUR itu keluar dari HATI yaitu PERASAAN yang merupakan ISTANA MUHAMMAD di pancarkan-lah ke PIKIRAN menjadi AKAL yang merupakan ISTANA ALLAH  kemudian dari situ-lah keluar menjadi suatu TINDAKAN dan tindakan atau PERBUATAN yang ber-ulang-ulang akan menjadi suatu KEBIASAAN dari kebiasaan menjadi suatu KARAKTER selanjutnya akan menentukan NASIB orang tersebut.

 

 

“ZIKIR NAFI ITSBAT”

 

 

Cara Zikir Nafi Itsbat :
1. Istighfar – 7x = “Astaghfirullaha Robbi Min Kulli Zanbin Wa Atubu Ilaihi”
2. Niat : ini adalah adab, etika dalam berdoa, mohon izin dengan cara menghadiahkan ‘pahala’ bacaan (Al-Fatihah+Qul Huwa Allah) kepada para guru-guru, sebut saja mulai guru awal sampai guru akhir, yang sudah dikenal (sebutkan) atau yang belum dikenal (bayangkan sejenak), mohon keberkahan dari  amalan ajaran ini, hadiahkan juga ‘pahala’ ini kepada semua leluhur “kramat” mulai dari bapak, kakek, dan seterusnya (kalau kenal sebutkan kalau tidak bayangkan sejenak) dengan segala kerendahan hati ucapkan :

“Ya Allah! Dengan izinMu aku hadiahkan “karomah” dari bacaan Fatihah dan Qul Hu Allah kepada sekalian arwah para guru, para leluhur yang saya maksudkan”.

Selepas niat langsung baca :
3. Alhamdu Syarif – 1x = “Surah Al-Fatihah dengan A’uzubillah dan Bismillah”
4.Qul Huwa Allah – 3x  = “Surah Al-Ikhlas dengan Bismillah”

5.Selepas itu fokus lagi lalu bayangkan hadirnya Maut – (Caranya : ucapkan dalam hati, “Aku sudah mati…, rasakan ketika dimandikan orang…, kemudian dikafankan orang…., lalu di-sholat-kan orang…, dan dihantarkan orang jenazah aku kedalam liang lahad…, gambarkan itu semua”)
6. Buang nafas dan tahan di bawah pusat serta angkat lidah ke langit-langit. Hati mengucapkan ‘LA’ sambil menariknya dari pusat naik ke otak dan ketika menyebut lafadz ‘ILAHA’ hendaklah membawanya ke arah bahu kanan dan ketika menyebut lafadz ‘ILLA ALLAH’ hendaklah dihempaskan ke hati, dengan merasakan kesannya terhadap semua Lataif Alam Amar dan Alam Khalaq tanpa menggerakkan lidah dan anggota tubuh.

Zikirlah sampai “merasa fana” dan ketika hendak melepaskan nafas sambung dengan ucapkan MUHAMMADUR RASULULLAH.
7. Tawajjuhkan diri terhadap hati dan hati bertawajjuh kepada Allah Ta’ala. Ini adalah Wuquf Qalbi.
8. Senantiasa Muraqabah dengan menggambarkan limpahan Faidhz dari Allah Ta’ala jatuh ke hati kita

.
9. Sesudah beberapa lama kemudian, ucapkan dalam hati dengan rasa rendah diri ucapan “Baz Gasht”  yaitu :

 

Bagi peringkat awal ucapkan :

 

“Ilahi Anta Maqsudi Wa Ridhoka Matlubi”


“Ya Tuhanku! Maksudku hanyalah Engkau dan Keredhaan Mu yang aku harapkan”

 

Bagi peringkat pertengahan hendaklah menambah ucapan:

 

“A’tini Mahabbataka Wa Ma’rifataka”

“Karuniakanlah Cinta dan Ma’rifat Mu”

 

 

Bagi peringkat tinggi sebelum itu harus diucapkan:

Taraktu Ad-Dunia wa Al-Akhirah laka A’tini Mahabbataka wa Ma’rifataka”

.
“Telah ku lepaskan Dunia dan Akhirat karena Engkau, Karuniakanlah Cinta dan Ma’rifatMu”.

• Wuquf Qalbi dan Baz Gasht adalah di antara syarat-syarat Zikir.

 
10. Di dalam satu majelis hendaklah mengerjakan zikir ini sebanyak 2000x  sehari dalam waktu 2 jam berzikir.
11. Begitu juga ketika berjalan, berbaring, bangun dan duduk, berwudhu ataupun tidak, setiap waktu dan keadaan hendaklah tetap tekun berzikir sehingga amalan zikir itu menjadi sifat yang tertanam dalam hati agar dapat menghasilkan penyucian batin dan menghasilkan Tawajjuh hati dan hadir hati terhadap Allah

.
Demikian, Semoga Allah memberikan Taufiq….

 

 

Tanda-Tanda Penyucian Batin Dan Warna Nur Lataif

Serta batas-batas Sayr Afaqi Dan Sayr Anfusi

 

 

Cahaya Nur-nur Latifah selalu dzahir pada pandangan batin ahli-ahli Kasyaf,  hal ini disebabkan karena tuntunan ilmu mereka, maka nampaklah penyaksian Musyahadah dalam diri mereka.

Para Ahli Kasyaf  telah menerangkan Nur Latifah-latifah ini dan menetapkan warna-warna tertentu untuk setiap Latifah tersebut, sebagai berikut :
1. Qalb – Kuning
2. Ruh – Merah
3. Sir – Putih
4. Khafi – Hitam
5. Akhfa – Hijau
Pada awalnya warna nur-nur tersebut ‘di luar diri’ dinamakan Sayr Afaqi. sesudah itu mereka akan memperhatikan warna cahaya nur-nur itu di dalam batin mereka dan ini dinamakan Sayr Anfusi.

Yang dimaksudkan dengan Sayr Afaqi adalah bermula dari bawah ‘Arash sampai sebawah-bawahnya dan yang dimaksudkan dengan Sayr Anfusi adalah bermula dari atas ‘Arash hingga seatas-atasnya.

Apabila semua Latifah ini telah keluar dari daerah Qalibiyah dan menuju naik dan bertawajjuh ke arah Asal Usulnya sampai ke ‘Arash ini dinamakan Sayr Afaqi.

Dan apabila dari atas ‘Arash, maka dia mengalami Jazbah tarikan dan untuk naik ke atas lagi, maka di situlah dinamakan permulaan Sayr Anfusi.

 

Tentang  “Kashaf ‘Ayani Dan Kashaf Wijdani”

 
Bagi orang-orang yang Ahli Kashaf, mereka dapat menyaksikan warna cahaya Nur-nur
tersebut dalam pandangan mereka. akan tetapi di zaman ini, mungkin disebabkan makanan yang halal sudah tercampur dengan perkara Syubhah, maka orang yang mencapai Kashaf ‘Ayani semakin berkurangan. Kebanyakan para penuntut memperolehi Kashaf Wijdani..


Perbedaan antara Kashaf Wijdani dan Kashaf ‘Ayani adalah, orang yang memiliki Kashaf ‘Ayani dapat melihat secara dzahir dari satu Maqam ke Maqam yang lain. Orang yang memiliki Kashaf Wijdani belum…….

Tentang  “Muraqabah Ahadiyyat”

 
Muraqabah adalah suatu kegiatan kerja menunggu serta menantikan limpahan karuniah Faidhz dari Mabda Faidhz yakni sumber pernyataan dan penampakan Faidhz yaitu Hadhrat Allah dan melihat, serta memperhatikan limpahan karuniah Faidhz tersebut jatuh pada Mawrid dirinya yaitu tempat terjatuhnya Faidhz pada kedudukan Latifah.
Kedudukan di mana limpahan Faidhz itu terjatuh, maka mana-mana Latifah itu dinamakan sebagai Mawrid Faidhz. Karena itulah Para Masyaikh telah menetapkan bagi setiap Maqam ada Muraqabah tertentu baginya.
Para Masyaikh telah menetapkan amalan Muraqabah Ahadiyyat.
Yang dikatakan Muraqabah Ahadiyyat itu adalah Muraqabah terhadap Hadhrat Zat Maha
Tinggi
yang terhimpun padaNya segala Sifat-Sifat yang sempurna dan suci dari segala sifat
kekurangan, kelemahan dan keaiban, bahwa Nama yang Mubarak yaitu Allah adalah bagi
Dzat yang dinamakan denganNya.
Dalam kegiatan Muraqabah, perkara yang perlu diperhatikan bahwa hendaklah kita
memperhatikan limpahan Faidhz dari Hadhrat Dzat Yang Maha Suci jatuh ke Latifah Qalb.


Tentang “ Zikir Rabitah”

 
Cara melakukan zikir ini adalah :
1. Membayangkan rupa wajah Mursyid dalam fikiran
2. Memelihara rupa bentuk Mursid di dalam hati
3. Membayangkan rupa kita ini sebagai rupa Mursyid kita.
Apabila amalan Rabitah ini telah menguasai murid, maka dia akan melihat pada segala
sesuatu dan akan kelihatan rupa Hadhrat Mursyidnya. Hal ini dinamakan “Fana Fi Syaikh”.


Bahwa dari permulaan menjalani tarikat, mulai dari ‘Arash turun ke bawah akan mendapati rupa Mursyid meliputi semuanya dan bahwa setiap gerak diamku itupun akan merasakan sebagai gerak diam Mursyid juga.

“Apabila setiap tembok dan dinding telah berubah menjadi cermin, saat datang ‘zauq’, di mana saja aku melihat Engkau ada disitu Mursyidku” (Syair)

Zikir semata-mata tanpa Rabitah dan tanpa “Fana Fi Syaikh” tidak akan sampai, karena bertentangan dengan Rabitah Mursyid.

Ketahuilah bahwa jalan Tarekat Rabitah jika dibandingkan dengan semua jalan Tarekat lainnya adalah merupakan jalan Tarekat yang paling terdekat untuk mencapai Makrifat.

Jadi semua ber-awal dari HATI, kita semua bisa “mengatur” HATI atau PERASAAN kita untuk mengubah NASIB kita kearah yang lebih baik  

Salam Zulkarnain Bandjar

About these ads