Mursyid 7 s/d 9

by Zulkarnain Bandjar

Mursyid (7)
Menemukan Wajah Nurani MursyidRABITHAH artinya : Memelihara atau menjaga.
Dalam Rabithah, seorang murid menjaga Wajah Nurani Mursyidnya.
Murid ini menjaga agar tercetak Rahasia Dirinya yang “Belum terbentuk”
Melalui wajah Mursyidnya murid membentuk wajah Mursyidnya yang terdapat dalam dirinya (tolong di baca 2x agar paham maksudnya).

Rabithah = tafakur = semedi = meditasi

Kalaulah dalam aktivitas ini bisa menemukan esensinya = ia telah beribadah selama 70 tahun lamanya.

“Tafakur sesaat lebih baik dari ibadah tujuh puluh tahun”
Sudahkah kita menyadari akan Esensi dari Rabithah..?
Kalaulah sudah menemukan Maha Guru maka gerbang ke Ilahi-an sudah terbuka (maksudnya : kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan-Nya)
Kesempatan emas ini jangan berlalu begitu saja tanpa mendapatkannya.
Kerinduan akan “wajah” yang Agung hendaknya dihidupkan sehingga “wajah” tersebut menampakkan pada diri kita.
Melalui Rabithah “wajah” keagungan itu muncul…“Barang siapa yang berharap bertemu dengan Tuhannya, maka lakukanlah amal saleh, dan janganlah menyekutukan Tuhan dengan yang lain” (Al-Kahfi : 110)Makna ayat diatas : Persyaratan utama untuk menemukan “wajah” Nurani Mursyid dengan melakukan “amal saleh” (maksudnya : amal saleh = Rabithah) dan kalau sudah menemukan Mursyid dalam dirinya maka janganlah menduakan dengan yang lain.

“Hendaklah kamu bersabar bersama dengan orang-orang yang menyeru kepada Tuhan di waktu pagi dan petang, yang mereka cari itu tiada lain hanyalah wajah-Nya” (Al-Kahfi : 28)

Menemukan “wajah” Nurani Mursyid merupakan anugrah yang amat besar dan menjadi nikmat yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hal semacam ini tidak pernah terdengar oleh telinga sebelumnya, tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah ter-besit dalam hati… itulah WAJAH NURANI MURSYID.
“Tidak ada kenikmatan lain yang di cari-cari orang, kecuali Wajah-Nya yang Agung”
Temukanlah segera wajah Nurani Mursyid dalam batinmu, maka Ia akan menghampirimu, Ia telah menunggu cukup lama untuk menyapamu namun mengapa juga kamu lalai untuk menjenguk-Nya.
…………………………….

Wahai engkau murid-Ku.
Aku menantimu dibatas ketidak mampuanmu.
Luangkan waktumu untuk menjenguk-Ku.
Lupakan sedikit kesibukanmu.
Maka pasti kita akan bertemu.
Jangan berputus asa dalam penantian.
Ketidak-tampak-kan adalah harapan yang menjanjikan.

Dari hari ke hari…
Ku sapa dirimu dalam dirimu.
Ku jamah engkau dari kesunyian hatimu.
Ku tanam rindu dendam, cinta dan pengertian.
Tidakkah engkau sadari tentang keterlibatan-Ku.
Tidakkah engkau rasakan kebersamaan-Ku denganmu.
Tidakkah engkau pahami bahwa Aku adalah kedalaman dirimu sendiri.

Wahai engkau yang sedang menanti…
Sudahkah engkau mengetahui..?
Bahwa yang akan datang adalah Mursyidmu sendiri.
Karena duniamu adalah milikNya.
Karena diriNya adalah milikmu.

Bisakah engkau tinggalkan sejenak saja semua kesibukkanmu…?
Jikalau kau ketahui yang akan menemuimu adalah Aku?
Sebab Aku adalah sesuatu yang ada dalam Sir-mu.
Dan sebab engkau adalah tempat untuk Sir-Ku.
Inilah makna : “AL-INSANUSIRRI WA ANA SIRRUHU”

Salam

Suka ·
    • Dhani Thedoor SUBHANALLAH
    • Didit Hape ‎:: SUBHANALLAH,… trimakasih tauziahx. mohon ijin share kang,Tnkyu.
    • Ali Murtado terima kasih bang….boleh izin share atau untuk berbagi bagi orang lain yang membutuhkannya…
    • Amynk Tyas syukur alhamduillah, atas tulisannya yg telah menggugah kami tuk menyelamnya……………..
    • Jou Kota Alifa nangisssss :(
    • Amynk Tyas Jou “jangan tangisi yang terjadi tapi renungilah apa yang terjadi…………. he he he!!!!!!!!!!!!
    • Jou Kota Alifa itulah yg terjadi :(
      .
      Mursyid (8)
      .“Dudukanlah Muhammad dalam Dirimu”
      (maksudnya : bukan duduk secara verbal tapi memahami Hakekat keberadaan Muhammad dalam diri secara sempurna) sehingga sejatinya Muhammad Maujud dalam pandangan hingga kita bisa menyadari “keterlibatan-Nya” bahwa yang berbuat ini adalah Dia, yang mendengar ini adalah Dia dan yang melihat ini adalah Dia.
      Dengan memahami Muhammad secara tepat, maka “sy

      afa’at” dapat diterima setiap saat.
      Sesungguhnya “syafa’at” atau pertolongan yang diberikan oleh Muhammad saw, dapat diterima langsung serta dirasakan dengan pasti oleh seseorang. (maksudnya : kalau mereka memahami eksistensi Muhammad) kalau tidak… maka itu hanya “pradugaan” saja, padahal pertolongan itu selalu datang kepada kita, bukan “syafa’at” pada hari akhir nanti.Syafa’at = Sambungan
      PERAN INI TELAH dilakuka oleh Muhammad saw, Ia menjadi tempat “sambungan“ (shalawat) bagi Allah, Malaikat dan orang-orang beriman.“innallaha wa malaikatahu yusalluna ‘alannabi yaa ayyuhalldzina amanu shallu alaihi wasallimu taslima.”
      …. Hai orang-orang yang beriman sambung-lah engkau semua kepadanya (Muhammad saw).

      PERAN INI KINI diperankan oleh Mursyid bagi para muridnya, karena para murid belum “sampai” pada pemahaman tentang HakekatMuhammad dalam Dirinya (maksudnya : suatu saat nanti murid dapat secara langsung bersambung kepadaNya tanpa perantara Mursyid lagi).
      Rabithah merupakan syafa’at bagi para murid, karena yang dapat menyambungkan antara murid dengan Muhammad sang pemberi syafa’at adalah Mursyid .
      Dengan demikian, melakukan Rabithah Mursyid adalah penting agar tersambung harapan seorang murid kepada Sang pemberi Pertolongan.

      Jadi..
      Mursyid-lah garda depan dalam persambungan awal sebagaimana yang telah diperankan oleh Sayyidina Muhammad saw..

      Kesempurnaan memahami eksistensi Muhammad = Kesempurnaan memahami eksistensi Allah.

      “Karena Aku maka, Ku ciptakan engkau dan karena engkau maka Aku ciptakan jagat raya ini”.
      (Maksudnya : Sebelum Allah swt menciptakan mahluk yang lain, pertama kali Allah ciptakan adalah Muhammad (Nur Muhammad) kemudian dari Nur Muhammad inilah terciptalah jagat raya)
      ……………..

      Allah Berkata :
      Aku Rabbi.
      (Sesuatu belum tercipta)
      Tak seorang-pun menanggapi perkataan-Nya
      Akhirnya.. Allah menciptakan Nur Muhammad dari Nur-Nya.
      Allah berkata lagi :
      Aku Rabbi dan engkau (Muhammad) hamba-Ku.
      (sesuatu belum terciptakan juga)
      Nur Muhammad menjawab :
      Tidak.
      Engkau bukan Rabbi,
      Dan aku bukan hamba-Mu.
      Allah berkata lagi :
      Kalau demikian ciptakanlah oleh-mu sesuatu…
      Muhammad “berusaha” menciptakan “sesuatu” namun tidak terwujud.
      Allah bertanya :
      Mana perbuatanmu..?
      Nur Muhammad terdiam.
      Kemudian Allah menurunkan sifat Agung-Nya (sifat penciptaan) kepada Nur Muhammad yaitu sifat Kun Fayakun.
      Maka, dengan sifat Kun Fayakun inilah Nur Muhammad menciptakan semua jagat raya dan mahluk lainnya…
      ……………….

      Wahai saudara-saudaraku yang Mulia…
      Kalaulah benar ingin menemukan Hakekat Muhammad.
      Maka Rahasia Muhammad ada pada Mursyid, hanya melalui Mursyid-lah Hakekat Muhammad ini akan terungkap.
      Carilah info yang maha berharga ini, agar`kita semua bisa membuktikan kebenaran Risalah yang dibawa oleh Muhammad saw.
      Jangan cepat merasa puas dengan pencapaian spritual yang di dapat dari bahan-bahan bacaan atau keterangan dari guru-guru yang belum sampai pada-Nya.
      Guru yang benar (Mursyid) telah menyimpan dokumen yang maha penting ini untuk selanjutnya siap di transfer kepada diri kita (maksudnya : Dokumen bukan berupa tulisan diatas kertas tapi ilmu yang berada di dada para Mursyid)
      Pastikan bahwa kita termasuk salah satu yang ingin mengikuti napak tilas perjalanan spritual yang telah digoreskan oleh Muhammad saw.
      “Tiada Aku mengutus engkau (Muhammad) kepada seluruh manusia, kecuali hanya untuk memberikan kabar gembira dan kabar takut (peringatan)”
      Bila kita mampu mendudukkan (menghidupkan) Muhammad dalam diri maka Ia-pun akan memberikan dua info ini kepada kita : “basyiran wa Nadziran”
      1. Kabar gembira (basyiran)
      2. Peringatan (Nadziran)

      Temukan-lah Muhammad dalam diri yang telah diutus oleh Allah.
      Bukan sekedar(Muhammad) yang terlahir di Makkah dan wafat di Madinah.
      Sejatinya Muhammad “bersemayam” abadi dalam diri setiap Insan.

      Kalaulah belum menemukan Muhammad….
      Sepertinya… akan cukup sulit baginya untuk sampai pada derajat spritual yang telah dirintis oleh Muhammad terdahulu.

      Salam

      816Suka ·
        • Fehiro NotGood kosong adalah satu, satu adalah kosong
          16 Juli pukul 15:54 melalui seluler · Suka · 1
        • Amynk Tyas pandang yang satu pada yang banyak, pandang yang banyak pada yang satu……………..
        • Tek ‘don Mim ha mim dal = muhammad
        • Fehiro NotGood semua brawal dr huruf ba dlm bismillah
        • Mursyid (9)
          .

          Keselamatan hidup harus diketahui dengan PASTI..
          Bukan masih ada kata “kalau-kalau”.
          Kalau-kalau = kalau Allah berkehendak (Insya Allah) = mudah-mudahan = ragu-ragu = tidak pasti
          (Maksudnya : untuk kata Insya Allah sudah di salah gunakan untuk hal yang belum pasti, padahal Insya Allah itu kata pasti)

          Kepastian perkataan harus di ketahui dengan tepat, tidak mengira-ngira atau mendug

          a-duga.
          Dalam ke-ilmuan Hakekat dan Marifatullah telah diajarkan tentang kepastian perkataan dan perlakuan, bukan masih dalam “pradugaan” yang dipakai oleh orang-orang selama ini dalam memahami jaminan keselamatan hidup.Pengetahuan kepastian tersebut, bukan karena “ingin” mendahulukan Allah swt dan Rasulnya, melainkan telah menjadi suratan dariNya, bahwa kepastian itu (Hak) dapat diketahuinya dengan tepat dan pasti khusus bagi mereka yang menjalani ajaran spritual sejati ini dengan benar dan tepat pula, hanya sayang-nya sebagian orang yang belum “sampai” telah salah menganggap dengan mengatakan “takabur”.
          Para Mursyid “jarang” mengucapkan “hanya Allah swt yang mengetahui” karena masih ada unsur “kalau” sekalipun ada untuk “memperhalus” bahasa biasanya mereka mengucapnya dengan “ridha Allah swt…”
          Mengapa para Mursyid berlaku demikian..? karena “kehendak” bagi para Mursyid bergaris lurus dengan kehendak Allah swt.“Apabila seorang hamba Allah swt telah dikasihi maka, ucapan-nya adalah ucapan-Nya, perkataan-nya adalah perkataan-Nya, pendengaran-nya adalah pendengaran-Nya, perbuatan-nya adalah perbuatan-Nya”

          Jadi..
          Kalaulah semua adalah “perbuatan” Allah swt jua.. mengapa lagi mengucapkan “hanya Allah swt yang mengetahui..?”

          Mungkin anda ingin bertanya ..
          Masih adakah Guru seperti itu di negeri ini…? TENTU.! (dengan penuh keyakinan).
          Negeri kita adalah negeri para kekasihNya, masih menyimpan para kekasih yang kualitas spritualnya mampu memberikan kepastian keselamatan bagi para muridnya.
          Sekarang pertanyan diatas telah terjawab, pertanyaan berikutnya…
          Maukah anda mencari dan duduk di Majelis Guru..? ….

          Sekalipun kabar tentang Guru telah ada, bahkan kita telah jumpa dengannya, tidak sedikit orang yang enggan untuk menimba ilmu dan pengajaraanya, sama seperti bangsa arab yang tidak mau mendengarkan seruan Muhammad saw saat itu.
          Mengapa demikian…?
          Alasannya : “Penampilan” Mursyid tidak meyakinkan dan Tidak kelihatan seperti seorang Guru.
          Mereka lebih suka (percaya) berjumpa dengan seorang “guru” yang cukup “meyakinkan” yang telah di “bungkus” lahirnya dengan desain pakaian yang ternama apalagi bisa muncul di tv dan terkenal se-antero negeri.

          Alangkah naifnya kalau cara pikirnya seperti ini..
          Mari membuka mata batin dalam memandang seorang guru pembimbing untuk jalan keselamatan.
          Tanyakan hati nurani yang dalam ketika kita menjumpai seorang guru…
          Hati Nurani tidak bisa di bohongi oleh Lahiriah…
          Hati Nurani selalu mengatakan yang Murni.
          Yang Murni inilah yang kita cari.

          Akhirul kalam…
          Kebenaran yang tampak menutupi kebenaran yang hakiki di anggap benar maka penyesalan-lah akhirnya.

          Salam

          Suka ·