Ilmu Hakekat Usul Diri

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

Kategori: UMUM

Perjalanan jiwa 3 dan 4

Perjalanan jiwa (3)

Musibah atau bencana di bumi adalah dari manusia untuk manusia, dan merupakan suatu pelajaran agar manusia dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan.

Perhatikan Surah Al-Rûm ayat : 41 sampai dengan 45,

41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) per

buatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

42. Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”

43. Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah.

44. Barangsiapa yang kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu dan barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan),

45. agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.

Simak kembali ke lima ayat dalam surah Al-Rum diatas, lalu perhatikan penjabaran dibawahnya,

Ayat (41) :
Ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami kerusakan, dan dinyatakan dengan tegas bahwa kerusakan itu akibat perbuatan manusia, bukan disebabkan oleh perilaku hewan atau yang lainnya.
Bahwa ternyata kerusakan di darat dan laut itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu) merasakan sebagian dari akibat perbuatannya.

Untuk apa?
Agar yang pernah melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan yang benar. (maksudnya : yang akan merasakan akibat perbuatannya adalah yang pernah hidup pada masa lampau dan yang pernah berbuat kerusakan, bukan orang yang baru pertama kali dilahirkan di muka bumi ini)

Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikitpun?
Tidak mungkin manusia yang tidak tahu apa-apa dan tidak berbuat suatu kesalahan dikenakan azab oleh Allah, itu suatu tuduhan yang “keji” dan sifat itu sangat mustahil dimiliki Tuhan..
Sebaliknya, dengan sifat Rahman dan RahimNya, maka manusia yang jelas-jelas sudah melakukan “kerusakan di muka bumi” ketika dibangkitkan lagi hanya merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya.

Manusia itu tidak merasakan seluruh akibat perbuatan buruknya.
Hal semacam inilah yang disebutkan pada ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.

Ayat (42)
Bahwa, manusia diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di muka bumi.
Pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan akibat perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu.

Apa kata ayat tersebut?
Bahwa : banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan oleh orang-orang Musyrik. orang-orang yang menyekutukan Tuhan.

Orang yang menyekutukan Tuhan = Orang yang membuat kerusakan di bumi
Orang yang menyekutukan Tuhan bukanlah orang yang beribadah dan menyembah patung
“Karena kemusyrikan terkait erat dengan amal perbuatan manusia”.
Jika amalan itu merusak bumi, maka itu namanya tindakan “Syirik”.
Jika perusakan bumi itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang “Musyrik” = menyekutukan Tuhan.

Agar tidak terjerumus ke jurang kemusyrikan maka manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada Agama (cara hidup yang benar), yaitu : jalan hidup yang lurus yang tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Jalan hidup yang demikian inilah yang disebut “ISLAM”
(Maksudnya : Islam adalah jalan selamat dunia + akhirat, jalan ini sifatnya universal jadi siapa saja orangnya yang mengunakan jalan ini dalam kehidupan aktual termasuk dia itu Yahudi = mau Kristen = mau Hindu = mau Buddha dia itu Islam jua)

Ayat (43)
Bahwa : manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus.
Dalam ayat lain disebut sebagai orang yang Bertakwa.
Usaha ini harus ditempuh sebelum datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat ditolak”.

Hari apa gerangan?
Itulah hari Kematian dan sekaligus Kebangkitan bagi seseorang.
Seandainya dalam satu hari ini orang yang mati itu banyak, maka yang dibangkitkan/yang dilahirkan juga banyak, hal ini harus berjalan seimbang demi kelangsungan bumi ini.
Semua sudah tersedia dari awalnya, tidak di-kurangi dan tidak di tambah-tambah lagi, itu-itu juga dari awalnya…

Yang mati = yang bangkit
Yang bangkit bisa jadi manusia juga..
Yang bangkit bisa jadi malaikat
Yang bangkit bisa jadi hewan
Yang bangkit bisa jadi tumbuh-tumbuhan
Yang bangkit bisa jadi mineral = gentayangan
Inilah adalah pilihan-pilihan, silahkan memilih sendiri….

Di mana dibangkitkan?
Ya, di bumi ini!

Lihat kembali QS 7:25.
“Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya masing-masing”
Dalam ayat ini mereka disebut menjadi terpisah-pisah.

Ayat (44)
Dan, disebutkan pada ayat ini bahwa, mereka yang kafir akan menanggung perbuatan kekafirannya, yaitu, dilahirkan ditempat “yang sengsara”, sedangkan yang dahulunya berbuat amal saleh, maka akan dilahirkan di tempat yang penuh anugerah Tuhan.

Sekarang perhatikan kata Musyrik dan Kafir, pada ayat (44) diatas…
Kalau yang dirujuk itu sikap hidup, maka namanya “Musyrik”,. tapi, kalau yang dirujuk itu keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya “Kafir”. Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk.
Agama apa saja yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran dan melakukan kerusakan maka ia termasuk orang kafir!

Ayat (45)
Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar.
Perhatikan pernyataan “tidak mencintai” = “Lâ Yuhibbu”
Ayat ini tidak boleh diterjemahkan menjadi tidak menyukai. Berbeda!

Allah tidak terlibat dalam suka atau tidak suka. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak membenci.
Allah itu bersifat Mahabbah, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si hamba itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.

Apa bedanya “tidak mencintainya” dengan “membenci”?
Benci adalah perasaan tidak suka.
Jadi, kalau Tuhan membenci berarti dalam diri Tuhan itu terkandung perasaan tidak suka, hal ini tentu saja berlawanan dengan sifat-Nya yang Rahman dan Rahim.
Jelas, tidak mungkin terjadi sifat yang saling berlawanan pada diriNya. Sifat Tuhan adalah Cinta. Oleh karena itu para ahli Tasawuf menyebut Tuhan itu sendiri “Cinta”.

Cinta itu bukan suka!
Cinta mengandung makna karunia. Artinya, sesuatu yang dicintai niscaya mendapat perhatian atau karunia dari yang mencintai.
Kalau Tuhan mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan mendapatkan cucuran rahmat dan karunia dari-Nya. misalnya, sang hamba yang dicintai Tuhan itu akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan kenikmatan.
Kalau Tuhan “tidak mencintai” orang kafir, artinya Tuhan akan membiarkan si kafir itu menerima akibat perbuatan-Nya.

Jadi, apa yang kita harapkan?
Tentu saja, rahmat dan perlindungan-Nya,
Dengan rahmat dan perlindungan-Nya, maka seorang manusia dapat terus-menerus berusaha di jalan yang benar.

Salam

Suka ·
    • Khasim Awang Mohon izin copy and paste tuan , untuk share dgn rakan2 yg lain ….terima kasih
      12 Agustus pukul 3:03 · Batal Suka · 1
    • Dika Doank ‎” tak kenal maka (tak sayang)2 maka tak cinta” , so…utk smpai cinta btuh proses.Jgn smpai mgku cinta sdgkan kita belum kenalan…hehehe
      Perjalanan jiwa (4)

      Reinkarnasi = “Kembali kedalam bentuk manusia,”
      (Re=Kembali, In=kedalam Kar=bentuk Nasi=Manusia)

      Dalam agama Budha ada Punabbava, dalam agama Hindu ada Karma pala, dalam mitologi china dan jepang ada “phoenix” yang melambangkan kebangkitan, …..
      Kalau saja kita yang “memandang miring” terhadap mereka saja bisa memahaminya, lalu bagaiman kita yang katanya “memandang lurus” t

      erhadp agama kita?
      Coba-lah kita buka dan kaji kembali ke-dalam kitab suci kita masing-masing, nanti-nya kita akan mendapatkan “sinyalemen” yang meng-indikasikan kearah itu.
      Bahwa pengetahuan Reinkarnasi ini sifatnya UNIVERSAL.

      Ingat..! Pembahasan ini hanya satu dari sekian banyak sudut pandang yang ada…

      Surah Al-Maidah ayat 60 :
      Sesungguhnya orang-orang yang Aku marahi itu maka Aku jadikan mereka itu Kera, Aku jadikan mereka itu Babi dan aku jadikan mereka itu penyembah-penyembah Berhala maka itulah seburuk-buruknya jalan kembali.

      Dalam ayat-ayat yang lain : Taha:53, Al fathir:27, Ibrahim:32, Al-An’aam:99, An-Nur:43, Al A’raf:57, Ar-Rum:48, Qaaf:9, Al-Hajj:63, Lukman:10, Al-A’raaf:153, Az-Zumar:21, Al-Baqarah:22 ….. silahkan cari lagi “sinyalemen-sinyalemen” yang lainnya…>

      “Aku tumbuhkan kamu dari bumi sebagai Tumbuh-tumbuhan, Kami jadikan kamu Batu, kami jadikan kamu Tumbuh-tumbuhan yang telah dipetik… “
      …………..

      “Proses Perjalanan Jiwa”

      Reinkarnasi 1 s/d 7 = Mineral s/d Manusia = Hidup terikat grafitasi Bumi = Lingkaran Hukum Alam.

      Reinkarnasi 8 s/d 11 = Jalur Gaib = Rijalul Gaib = Hidup berteman dengan Maut = (keputusannya=keputusanNya)
      Inilah golongan yang disebut dengan ”Tanazzalul malaaikatu warruhu….”
      Sesungguhnya para wali-wali Allah itu tidak-lah mati, tingkatan ini adalah untuk mereka yang ditugaskan membantu pekerjaan Allah s.w.t.

      Reinkarnasi 12 s/d 13 = Gaibul Gaib = Rijalullah = Maqom Al-Ikhlas “Qul Huallahu Ahad” (Maksudnya : Katakanlah, “Hua/Rijalullah” = DIA = Rahasia Allah Yang Esa)

      “Tingkatan ini adalah pengembalian Rahasia kepada Empunya Rahasia”

      Akhirul kalam
      Mari-lah kita ber-evolusi untuk tetap menjadi manusia, karena kalau tidak menjadi manusia lalu mau jadi apa lagi?

      Salam

      Suka ·
        • Ryu Prabu menjadi rijalul ghaib tu bg,….
        • Asmah Sheikh Manaf ya…manusia istimewa di sisi Allah kerana melalui manusia Allah melihat kasih sayangNya tersebar !!
        • Rudi Kurniawan klo manusia tdk mau reinkarnasi lg tp mau kembali jumpa dan bersama dgn Tuhannya selamanya apa iitu mungkin ?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Rudi Kurniawan, Teori kemungkinan mengatakan tidak ada yang tidak mungkin.
          Prakteknya adalah melagkah dan tekun konsisten pada tujuan,
          Apa tujuannya…? Menyatu bersama Tuhan…?
          Apa sifat-sifatNya..? Maha baik, Maha suci, Maha segala-galanya, ……
          Tuhan = Maha baik, menuju kepada yang Maha baik maka harus berbuat baik,
          Berbuat baik adalah proses satu arah = garis lurus bukan timbal balik.
          (maksudnya : walau orang berbuat jahat, kita tetap harus berbuat baik = memutuskan hukum lingkaran = tidak mengharap imbalan = menuju kepadaNya)
          Membalas perbuatan jahat adalah perbuatan melingkar..
          Tuhan = Maha suci, menuju kepada yang maha suci maka harus juga suci…
          …………………………..

          Reikarnasi adalah proses menuju kepadaNya
          Karena proses ini sangat indah maka nikmati dengan meningkatkan mutu diri
          Andaikan saja kwalitas dirimu = kwalitas Tuhan = menyatu bersamaNya
          Lalu mau kemana lagi..?

          Jumat pukul 18:21 · Suka · 2
        • Ryu Prabu manunggaling kawula gusti

Perjalanan jiwa 1 dan 2

Perjalanan Jiwa (1)

Diri = tubuh + jiwa + nyawa
Tubuh = barang baru saja
Jiwa/roh = barang lama jua
Nyawa = pengikat tubuh + jiwa = unsur kehidupan
(Maksudnya : bilamana unsur yang membangun hidup itu rusak maka jiwa tak bisa beroperasi lagi, artinya tubuh akan ditinggalkan jiwa)

Berbicara tentang diri, ujung-ujungnya akan berbicara perjalanan jiwa yaitu Reinkarnasi..
Reikarnasi = migrasi jiwa =

masuknya jiwa ke dalam tubuh = kelahiran kembali

Bagi yang tidak terbiasa dengan kata ini cobalah untuk berpikir jernih sejenak, dengan tidak merasa “alergi” dulu dengan kata reinkarnasi ini, hanya karena kata ini identik dengan golongan tertentu.
Didalam Al-Qur’an sebenarnya banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang reinkarnasi (maksudnya : Ayat-ayat reinkarnasi = ayat-ayat Mutasyabihat = ayat yang perlu di pahami maknanya dengan berpikir dan merenungkannya = yang tersirat)

Seperti :

An Nahl ayat 70 : “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikembalikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.”

An Nahl ayat 77 : “Dan kepunyaan Allah-lah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

An Nahl ayat 78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.”

Yasin ayat 68 : “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan hidupnya niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?”
………………………….. <masih bnyk lg>

Seandainya belum bisa juga menerima pemahaman ini, tentu bisa saja dimaklumi karena selama ini mungkin belum pernah diberikan pemahaman yang tepat tentang ayat-ayat diatas.
Namun ketahuilah bahwa reinkarnasi bukanlah sesuatu hal yang aneh.,
bukan juga suatu bentuk kepercayaan yang harus di yakini atau tidak diyakini, karena kita bukan berada di luar kepercayaan ini namun di dalamnya.
Hal ini hanyalah Hukum Alam biasa yang sudah menjadi ketetapan dari Tuhan, dan kita adalah komponen yang berada didalam Hukum Alam ini.
Bahwa, sama-sama telah kita ketahui yang namanya jiwa itu tidak mengenal mati, oleh karenanya jiwa ini akan mengalami reinkarnasi-reinkarnasi.
Permasaalahannya adalah mau sampai kapan ber-reinkarnasi?

Bahwa, segala sesuatu akan berakhir itu pasti..,
Namun semuanya itu dikembalikan lagi kepada diri yang menjalaninya, mau sampai kapan berakhirnya?
Bukan-lah Allah yang menentukan kapan berakhirnya namun kita-lah penentunya, bukan-lah wayang tergantung dari dalangnya namun dalang akan mengikuti bagaimana peran yang dibawakan si wayang.

Dunia adalah sekolahnya kehidupan, ibarat bersekolah maka kita perlu meningkatkan kwalitas hidup agar bisa melanjutkan ke kelas berikutnya, kelas/derajat akan mengikuti kwalitas diri, jadi jelas disini bahwa penentunya adalah kita.
Tuhan ibarat kepala sekolah yang mengeluarkan ijasahnya, namun nilai-nilai didalamnya adalah kita yang memberikan sendiri, ijasah inilah yang menentukan nasib ketika kita akan “mencari pekerjaan” pada kehidupan yang baru.
Hadist Nabi : “Dunia sekarang adalah ladang bagi kehidupan berikutnya, siapa yang menanam sekarang, ia pula yang menuainya nanti”

Al Mulk ayat 2 : “Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Dengan cara itu Dia mendidik dan melatihmu, dan untuk memberikan nilai bagi siapa yang lebih baik amalannya. Dan, Dia itu Maha Perkasa dan Maha Melindungi”
(Maksudnya : prosess mati-hidup-mati-hidup-mati-hidup, di dunia ini untuk melatih manusia, agar manusia mau meningkatkan kwalitas dirinya)

Jadi mau sampai kapan..? semua tergantung “bagaimana” kita

Salam

Suka ·
    • Tek ‘don Mantab . . Penjelasannya salam. .
    • Fehiro NotGood carilah reinkarnasi yg ke 8 sampai 13
    • Anas Cholis apa bila jiwa bisa suci sampai roh meninggalkan badan wadaknya, sudah pasti rohnya akan manunggal kepada Tuhan, berarti reinkarnasi sudah cukup sampai disitu. tp disaat meninggal jiwanya masih diselimuti keduniawian maka reinkarnasi masih ditetapkan sampai batas ke 7.
    • Tek ‘don Menitis kembali. .
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Anas Cholis, Selama masih bernama manusia maka tdk dpt meninggalkan bumi, karena manusia selalu tertarik keindahan bumi disebabkan gaya grafitasi dari unsur2 pembentuk diri manusia yaitu tubuh (bumi) itu sendiri, inilah yang disebut perputaran roda kehidupan atau hukum alam, yang “manunggal” adalah yang dapat pertolongan dan perlindungan dari Allah untuk melampaui hukum alam keluar dari lingkaran kehidupan, melewati batas ke-7 atau “moksa”
    • Murid Pakguru Berarti sebenarnya jlh manusia itu tak kurang dan tak lbh ya pak? soalnyakan reinkarnasi trus dan apa ilmunya utk keluar dr roda kehidupan?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Murid Pakguru, meningkatkan kwalitas diri
    • Wong Gendeng trus kita atau saya pribadi ini sudah reinkarnasi yang ke berapa???
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Wong Gendeng, Sebagai manusia kita/anda berada pada tingkatan reinkarnasi yang ke-6 kalau masih menjadi manusia “kafir” atau yang ke-7 kalau menjadi manusia “muslim”
      slanjutnya.., untuk satu tingkatan, mau berapa generasi anda habiskan? itu terserah anda.
    • Wong Gendeng maaf sebelumnya pak,koq bisa tahu saya udah yang ke-6…trus yang sebelumnya gmna??
    • Wong Gendeng mhn pencerahannya pak….yang ke-1 sampai ke-5 itu bagaimana status ”migrasi jiwanya??”
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Wong Gendeng, Aku pernah berada dalam keadaan AN-ORGANIK, dan mulai menerima Pertumbuhan. Kemudian aku mati sebagai TUMBUHAN dan menjadi HEWAN.
      Aku mati sebagai HEWAN dan menjadi MANUSIA, lalu kenapa aku harus takut, ketika maut menjemput?
      Pada perubahan berikutnya aku mati sebagai MANUSIA, hingga aku naik dan menegadahkan wajah-ku bersama para MALAIKAT.
      Dan aku harus melepaskan diri dari MALAIKAT : “SEGALA-NYA AKAN MUSNAH KECUALI WAJAH-NYA”
      Sekali lagi aku harus ber-korban dan meninggal sebagai MALAIKAT, aku akan menjadi SESUATU YANG TAK TERBAYANGKAN sebelumnya.
      Kemudian aku menjadi KETIADAAN , ketiaadan membisikkan ditelinga-ku nyayian merdu “SESUNGGUHNYA KEPADA-NYALAH KITA KEMBALI”.

      INNALILLAHI WAINNAILLAIHI ROJIUN
      Demikianlah, ini hanya satu pandangan dari pandagan-pandangan yang ada bahwa, sebelum menjadi dan berada dalam Kerajaan Manusia terlebih dahulu kita telah berada pada Dunia Mineral, Tunbuh-tumbuhan dan Hewan 2X baru kemudian menjadi Manusia.

    • Wong Gendeng terima kasih pencerahannya pak…
    • Murid Pakguru sy ada baca bahwa nabi adam kita ini udh yg ke 1000 nah itu maksudnya apa pak?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Murid Pakguru, Mengenal Adam dari sudut pandang syari’at maka Ia adalah manusia Pertama,
      Al kisah Adam berumur lebih kurang 1000tahun ataupun mungkin sudah 1000 X Adam yang ada, ataupun kisah-kisah lainnya,….
      Kisah = sejarah seseorang = adanya suatu sosok di luar diri.
      Angka 1000 = mewakili sesuatu jumlah yang banyak

      Bahwa kekuasaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa seharusnya tidak bisa di batasi atau dijangkau oleh akal pikiran manusia.
      Yang telah manusia jangkau selama ini adalah Allah hanya menguasai 1 alam semesta saja,
      1 Alam semesta = 1 galaxi bima sakti = 1 System tata surya yang di dalamnya ada planet bumi + planet2 lainnya

      Apakah sebatas itu saja kekuasaan Sang Maha Kuasa?
      Tidak-kah sempat anda berfikir bahwa di luar 1 galaxi bimasakti ada lagi galaxy-galaxi yang lain, yang jumlahnya tidak ada batasnya?

      Satu sudut pandang

      Bahwa yang diluar adalah gambaran dari yang ada di dalam Diri.
      1 manusia` = 1 galaxi bimasakti = 1 system yang lengkap + nama pemberian

      Jadi ada berapa banyak Adam..?

      Adam adalah DIA yang muncul = Asma Allah = hanya Allah = Illallah
      ……………………………..

      Jumat pukul 11:02 · Suka · 4
    • Murid Pakguru trims pak
      Perjalan jiwa (2)

      Hisab Tuhan = perhitugan amal baik dan buruk
      Hisab tidak harus menungu hancurnya alam semesta ini
      Hisab Tuhan itu “cepat” dan “tepat” dan terjadi disini jua…,

      Kalau-lah ada yang berpendapat bahwa hisab itu di tangguhkan hingga hari hancurnya alam semesta ini, maka bagaimana dengan orang yang sudah jutaan tahun meninggal dunia?, dan bagaimana juga dengan orang yang hidup menjel

      ang kiamat?, tentunya yang satu lama menungu dan yang satunya lagi sebentar saja, ini suatu hal yang bertentangan dengan kasih sayang dan keadilan Tuhan.

      Balasan dan imbalan dari Tuhan terhadap amalan manusia itu segera dan sangat adil seadil-adilnya.

      “Barangsiapa yang beramal kebajikan sebesar zarah, maka buah amalnya itu akan dilihatnya, dan barangsiapa berbuat keburukan sebesar zarah, maka balasan amal buruknya itu pun akan dilihatnya.”
      Tidak ada yang meleset, dan tidak ada yang “gratis” di bumi ini,
      Ingat ini baik-baik..!, bahwa tidak ada yang bisa lolos dari hitung-hitungan ini, tidak ada yang dilupakan, semua yang diperbuat pasti dirasakan, bagi yang beramal keburukan sekecil debu pun akan merasakan balasannya. Sebaliknya, yang beramal kebaikan sekecil zarah pun akan merasakannya pula.

      Berbuat di dunia = balasan juga didunia
      Balasan cepat = balasan yang dapat dirasakan = balasan yang belangsung di dunia

      Bagaimana caranya..?
      Caranya saat ini juga dan melalui kelahiran kembali.

      Hal ini disebutkan dalam QS 6:94,
      “Bahwa manusia datang sendiri-sendiri sebagaimana kejadian pada mulanya”

      Juga di dalam, QS 29: 19–21
      “Dan, apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan pada awalnya dan mengulanginya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”

      Katakanlah : “Berjalanlah di bumi, dan gunakan nalarmu untuk memahami bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, kemudian menciptakannya pada kali yang lain. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

      “Allah mengazab orang yang menghendaki (azab) dan memberikan rahmat kepada yang menghendaki (rahmat). Dan, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”

      Perhatikan dengan seksama ayat-ayat diatas,
      Pertama, perhatikan cara Allah menciptakan manusia, perhatikan awal mula kejadian manusia, mulai dari pertemuan sel telur dan sperma, menjadi janin lalu lahir ke bumi sesuai dengan “nilai ijasahnya”, maka ada yang dilahirkan ditengah orang berada dan ada yang melalui keluarga papa.
      Kalau sudah perhatikan dan paham maka perhatikan lagi caranya Allah mengulangi penciptaan itu, sunngguh kita diperintahkan untuk memperhatikan pada penciptaan ulangan agar kita “sadar”, kita “paham benar-benar”, bagaimana proses penciptaan manusia.

      Kemudian kita diperintah untuk berjalan di muka bumi = “belajar dan berkembang biak”.

      Untuk apa?
      Untuk mengerti tentang bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, dan menciptakan pada kali berikutnya.

      Coba renungkan dalam-dalam..! Seandainya penciptaan pada kali lain itu terjadi setelah dunia ini hancur lebur, maka hal ini akan menjadi perintah yang salah.

      Mengapa?
      Hal ini tidak akan bisa diselidiki karena yang pergi tak kembali lagi,
      Sesungguhnya, penyelidikan penciptaan itu cukup di bumi ini saja, baik penciptaan pada mulanya maupun pada kali yang lain.
      (Maksudnya : kebangkitan itu di bumi = akhirat itu dibumi jua = kelahiran kembali, orang yang telah meninggal dan dibangkitkan kembali itulah kita) Kalau bumi sudah hancur, maka kita tidak akan dapat melakukan studi tentang kebangkitan. Kita tidak dapat memperoleh pemahaman tentang hal ini.

      Di alam “akhirat” seorang manusia yang dibangkitkan/dilahirkan menerima azab atau mendapat rahmat.
      Azab atau rahmat yang diterimanya itu berdasarkan kehendak orang yang dilahirkan kembali. Jadi, bukan karena kehendak Tuhan.

      Mengapa?
      Karena Tuhan sama sekali tidak merugikan hamba-Nya.
      Dalam QS 3:117 disebutkan “Bahwa Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri”
      Sedangkan dalam QS 10:44 disebutkan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak mendzalimi manusia sedikitpun, akan tetapi manusia sendiri yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri.”

      “Bahwa bukan Allah yang menghendaki azab bagi manusia”.
      Allah hanya-lah menjalankan roda Hukum Alam yang telah ditetapkan-Nya.
      Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari Hukum Alam yang telah ditetapkan Allah.

      Karena Hukum Alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan pahala dan balasan itu atas Kehendak-Nya. Hal ini terjadi karena kata ‘Man Yasyâ’ didalam Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai ‘Allah menghendaki’. Tentu saja terjemahan demikian tidak sesuai dengan pernyataan Allah bahwa “Dia tidak merugikan hambaNya sedikitpun.”

      Apabila kita memahami bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikitpun, lalu siapa yang membuatnya hingga ada yang bernasib baik, dan ada yang bernasib buruk di dunia ini?
      Lalu, mengapa ada orang yang mulus hidupnya dan ada yang sulit hidupnya?
      Jawabnya, semua itu karena Amalan orang itu sendiri, baik atau buruknya yang dia terima.

      Amalan kapan?
      Yaitu, amal baik dan buruk yang pernah dikerjakan pada kehidupan yang lampau. (maksudnya : takdir baik dan buruk itu digoreskan oleh orang yang bersangkutan)
      Jika takdir baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan di zaman azali, maka itu artinya Tuhan telah berbuat dzalim bagi sebagian hamba-Nya.
      Jika sudah demikian, berarti Tuhan telah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Padahal, Tuhan tidak merugikan sedikit pun kepada manusia.
      Maka, jelas Tuhan tidak menetapkan takdir sebagaimana yang telah dipahami oleh sebagian orang selama ini.
      Maka, kita sekarang ini bukanlah kita yang baru dicipta, tapi, kita sekarang ini adalah kita yang pernah dicipta.

      Salam

      Suka ·
        • Fier TOo Man Easysee Btul..btul..btul.. :)
        • Laode Parigi Lalu bgmn dgn Muhammad Saw yg prn hdp 14 abad lalu dan nabi Adam yg beristrikan siti Hawa? Apkh itu hsl penciptaan pertama atau kedua? Gmn kajian selanjutnya tentang 2 manusia ini berdasarkan uraian diatas?
        • Laode Parigi Bgmn pula dgn nabi Khidir yg ajalnya ditangguhkan sampai hr kiamat? Bisakah diberi uraian seperti sbelumnya berdasarkan dalil2 diatas?
        • Anas Cholis benar sekali, dulunya kita ini pernah diciptakan. hanya Alloh yg tau yg keberapa? itu gak penting. yg penting saat ini kita hidup selaras dengan kehendak Tuhan yaitu berjalan dijalan lurus. semoga klo kita meninggal dan dibangkitkan kembali jadi anaknya pejabat yg baik dan bukan anaknya gelandangan.
        • Laode Parigi Mnjelaskn ttg Muhammad, Adam dan Khidir pd penciptaan kebrp itu sgt pentg demi utk membenarkn penempatn dalil2 diatas?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Laode Parigi, Penjelasan ttg Muhammad + Adam + khidir = sudah dijelaskan, silahkan di baca lg dan “dibenarkan” penempatannya sesuai dalil2 diatas.
        • Laode Parigi Sy sdh membacax skali lg dan mencoba menjadikan Khidir dan Adam-Hawa sbg objek bahasan atas uraian diatas.nmun sy blm menemukan titik temu.
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Laode Parigi, Sdh dijelaskan = sdh pernah dijelaskan sebelumnya, bahwa : Muhammad=awal+akhir+dzahir+batin, Muhammad yg hdp 14abad yg lalu itu Muhammad yg mana? Yang menceriterakan tentang adam + hawa bahwa mereka mahluk yang pertama diciptakan itu siapa? Maka “Dia yg menceritakan” lebih dulu lg dari adam, alkisah telah diceritakan nabi khidir sebagai satu sosok, maka tugas kita adlah mengembalikan pd diri.
        • Laode Parigi Maaf sy hrs menilai komen balasn diatas terlalu bias dan lari pd ide pokok.gmn kalau kita fokus pd 1 hal dan setelahnya bs beralih pd topik lainnya.
          Ketika sy bertanya gmn Muhammad,khidir, dan Adam-Hawa dlm konteks “penciptaan lain dgn membawa nilai ijasah” sperti yg diuraikan diatas, 2 milyar manusia dibumi pasti sdh paham pd sosok siapa yg sy maksud.
        • Laode Parigi Bukankah uraian diatas dgn mengutip dalil ayat quran itu berlaku scr universal.siapa pun dia dan dmn pun berada,psti terangkum dlm maksud dalil2 yg dikutip itu.mulai dr nabi,wali,presiden sampai pd petani, nelayan, pastur, biksu dst… Msk dlm ruang lingkup pembahasan
        • Laode Parigi Krn itu,sy tdk memperhatikan apa gelarnya ,termasuk nabi atau wali atau bahkan seandainya ada “manusia jadi-jadian” sy tetap ingin mengkorelasikannya dgn konsep penciptaan lain dgn membawa nilai ijasah dr kehidupan masa lampau sprti yg dijelaskan diatas.
        • Laode Parigi Krn itu sy memohon maaf bila sekali ini lg ingn menanyakn bgmn mengkorelasikan uraian diatas dgn menempatkan objek sasaran pd anak manusia yg bernama Muhammad bin Abdullah +siti aminah, adam-hawa dan balya bin malkan?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Laode Parigi, sy jg mhn maaf blm bisa menangkap maksud bpk ini, uraian diatas tdk ada ttg ijasah/muhammad,adam,hawa,khidir, tolong bpk lanjutkan pemahaman bpk jika ingin berbagi dengan kita disini, sy yakin dgn pertanyaan ini bpk sdh memahminya, trmksh atas atensinya. :) salam
        • Laode Parigi Bagaimana menjelaskannya bhw Adam memiliki “nilai ijasah yg dibawanya dr kehidupan masa lalunya” ? Dan yg lbh membingungkan bg saya adlh nilai ijasah Siti Hawa,bgmn bs dijelaskan semua itu.
        • Laode Parigi Diatas dijelaskan mengenai “nilai ijasah” tertulis pd alinea ke 11. Pemahaman sy atas “nilai ijasah” pd alinea ke 11 diatas adlh semacam penentu (blue print) bagi kualitas hdp seseorang skg ini yg mana nilai itu berasal dr kehidupan/penciptaan yg pertama.adakah pemahaman sy ini benar adanya?
        • Laode Parigi Pertanyaan sy ckp sederhana.bgmn menjelaskan “nilai ijasah” terhadap Muhammad bin Abdullah, Adam-Hawa dan Balya ibnu Malkan?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Laode Parigi, yaa..! betul ada di alenia 11, hehehe…, maksudnya “nilai ijasah” = buku catatan amalnya = takdir = “blue print” jg boleh, lalu kaitannya dgn muhammad+adam+hawa+khidir adalah = (Dia yg awal + Dia yg akhir) = (Dia yg buka + Dia yg tutup) = semua “nabi” ada di dalam Dia = Dia2 juga isinya, sedangkan kaitan dgn nilai pd ijasahnya adalah sempurna = kamalullah = jiwa yang suci =rijalullah = maunya Allah swt… mdh2an pas sesuai maksud pertanyaannya :)
        • Dika Doank mungkin gak bang, skg saya laki-laki dan dikhdupan berikutnya jadi perempuan…? bisa kacau nih…hehehe…
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dika Doank, dalam kondisi normal tdk mungkin.
        • Laode Parigi Syahadat=bersaksi=berjumpa/melihat kerasulanx.lalu gmn dgn org yg blm ktm/melihat dgn (Nur) Muhammad, apa syahadatnya tdk sah?
        • Daertham ToNext Vanmbleedugh’gotohell hmmm_
          ini jwbn’y!
          uwa’ku yg sudah bnyak baca kitab prnah bilang yg nma’y kiamat itu tidak ada_
        • Dika Doank brarti dikondisi tdk normal bisa donk… jadi, yg dimaksud dr “kondisi normal tau tdk normal” itu bgaimana bang…? sorry bang trlalu bnyak nanya… salam
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dika Doank, Kondisi normal = hanya mengenal 2 jenis laki atau perempuan, Kondisi tidak normal = suatu keadaan yang timbul karena “pebuatan” dia sendiri, ini namanya “acident” contoh dlm kehidupan dunia seperti laki bersifat perempuan atau sebaliknya,
        • Munandar Alif mohon penjelasannya sebagaimana rukun iman bahwa kita harus mempercayai takdir baik dan takdir buruk itu….dan ada juga yang pernah saya baca bahwa takdir manusia itu sdh ada sejak 50.000 tahun sebelum dijadikannya langit dan bumi….lalu bagaimana kita tidak mempercayai bahwa takdir baik dan buruk itu sudah ada…dan bagaimana pula kita disuruh untuk berdoa tentang kehidupan kita selanjutnya sebagaimana salah satu fadhilah dari keistimewaan malam nisfu sya’ban..semuanya memiliki hubungan…jadi kalau dikatakan kalau takdir baik dan buruk itu kalau sdh ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali kemudian ditafsirkan Allah telah berbuat zholim terhadap hambanya..saya rasa ada yg tdk benarnya..juga….kalau menurut hemat saya semua yang terjadi dalam diri manusia apakah itu berupa takdir baik atau buruk semuanya memang dari Allah hanya saja ..takdir baik dan buruk itu dijadikan sebgai cobaan bagi manusia itu apakah bisa menginstrospeksi diri..dan kadang wujud kasih sayang Allah itu tdk berupa dalam bentuk takdir yg baik sja..meskipun kelihatannnya sepertinya buruk tapi klau dengan demikian manusia itu menjadi sadar dan semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhannya apakah itu bisa dikatakan tuhan telah menzholiminya….mohon maaf sebelumnya..mungkin pemahaman saya salah sudilah kiranya dibenarkan..
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Laode Parigi, Permudah sj jgn persulit, jadi sesuai tingkatan dan kapasitas masing-masing, mulai dari lisan, hati, sirr, sirrusir.
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Munandar Alif, Iman kepada takdir secara tersurat tidak ada dalam Al-Quran,
          Akhirnya kepercayaan kepada takdir ini menjadi kelompok2 sept : fatalistik, kehendak bebas, kesimbangan iktiar dan takdir ….

          Terlepas dari semua faham diatas, bahwa “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku”
          Tentang takdir baik atau buruk yang datangnya dari Allah karena hakekatnya manusia adalah wadah bagi qodrat dan iradatNYA,
          Sedangkan tentang doa untuk meminta perubahan takdir seharusnya sebanding dgn kwalitas hidupnya saat ini, karena manusia harus bisa meningkatkan kwalitas hidupnya, keimanan dan keilmuan yang ada pada dirinya, sehingga tidak di ombang-ambing dengan berbagai pandangan tentang takdir,
          Sy pikir pandangan-pandangan apapun ttg takdir sebaiknya sama2 kita hargai, karena perbedaan itu adalah Rahmat, dan kebenaran tidak memihak pada siapaun.
          Namun dari sudut pandang kami bahwa Tuhan = Cinta … tks @Ilmu Hakekat Usul Diri

        • Laode Parigi Saya sgt berterima kasih bila pertanyaan tentang nama manusia sudi diberi jawaban yg memadai
        • Laode Parigi Saya sgt berterima kasih bila pertanyaan tentang nama manusia sudi diberi jawaban yg memadai.
        • Wong Gendeng kalo takdir yang menentukan kita sendiri,trus bagaimana tentang kata2 takdir itu dari alloh khoirihi wa sarrihi,trus bagaimana tentang pendapat saudara2 kita yang jabariyah,lalu saya pernah dengar kalo kita slalu sambung dg alloh kita akan dapat takdir yang baek dan sebaliknya…???itu bagaimana pak??
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Wong Gendeng, Berbicara masalah aliran/pemikiran berarti berbicara tentang Ilmu Kalam.
          Kalam = kata-kata = bebas berpendapat.

          Kaum teologi berdebat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut sebagai Mutakallim (maksudnya : mutakallimin = ahli debat = hukum hujat menghujat)
          Ilmu kalam = Ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar suatu agama.
          “Tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia”, memunculkan berbagai macam aliran, diantaranya Jabariyah dan Qadariyah

          Pandangan secara umum :
          Jabariyah = menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah (pendapat ini “benar” karena tiada yang berlaku kepada manusia melainkan Allah swt sebagai pengeraknya = Af’al Allah)

          Qadariyah = tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya, (Pendapat ini “benar” karena dengan demikian Allah tidak mendzolimi umatnya sedikitpun)

          Jadi dua-duanya BENAR, masaalahnya adalah bagaimana cara memahami dan mensikapinya menjadi lebih tepat dan berdaya guna dalam Diri.

          Satu pemahaman,
          Orang-orang bijak, akan memahami bahwa semua peristiwa tidak terjadi secara acak-acakan begitu saja, tentunya setiap peristiwa pasti ada sebabnya, dan bahwa sebab yang serupa akan menyebabkan terjadinya peristiwa yang sama di alam dzahir atau batin.

          Kaitan dengan Hukum alam = ketentuan Tuhan :
          1. Hukum Aksi reaksi = setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang sebanding
          2. Hukum Daya tarik = apa yang di pancarkan, diproses kemudian di tarik kembali.
          3. Hukum Kreatifitas = interaksi dua energy yang saling melengkapi = Jabariayah + Qodariyah
          4. Hukum Subsitusi = tidak ada sesuatu yang menghilang melainkan tergantikan
          5. Hukum Pelayanan = imbalan yang diperoleh = imbalan yang diberikan
          6. …..
          Bahwa tanpa adanya korelasi hukum-hukum alam diatas secara konsisten dan dinamis, maka tidak akan ada ilmu alam dan ilmu-ilmu lainnya. Manusia juga tidak akan memperoleh manfaat dari perbuatanya dan dari sejarah orang lain.

          Mungkinkah semuanya menjadi nyata, jika setiap peristiwa terjadi tanpa “proses” dan menghilang begitu saja?

          Jumat pukul 10:55 · Suka · 2
        • Ali Cuakeps tatanan atau cara mendekatkan diri dengan ALLAH bagaimana menurut ilmu hakekat….trima ksh
          8 jam yang lalu melalui seluler · Suka
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Ali Cuakeps, Dari keseluruhan tatanan/cara untuk mendekatkan diri dengan Allah dimulai dari Istinja Awal, yaitu :
          1. Bersihkan mulut dari kata-kata kotor dan sejenisnya
          2. Bersihkan perut dari makanan haram dan subhat/meragukan
          3. Bersihkan hati dari niat-niat yang akan menimbulkan dosa
          ini menurut pandangan Ilmu Hakekat Usul Diri.