MENINGKATKAN ILMU

by Zulkarnain Bandjar

Keterangan : ( Martabat = peringkat = level = tahap ) ( Nafsu = kwalitas = derajat )

**  MARTABAT NAFSU  **

Bila kita berbicara tentang nafsu maka yang muncul dipikiran kita adalah tingkah laku manusia yang tidak baik, nafsu adalah perbuatan syaitan, nafsu adalah hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan negatif.

Pengertian nafsu disini kita bagi menjadi 2 bagian :

 Pertama    : Nafsu dalam artian Negatif yaitu yang timbul karena     kekotoran hati manusia.

Kedua        : Nafsu yang diartikan sebagai peringkat atau level atau martabat hati manusia.

Dalam usaha kita untuk mendekatkan diri dengan Allah maka kita perlu untuk mensucikan tiap-tiap martabat dari nafsu, kita harus bisa menembus hijab-hijab yang ada pada tingkatan nafsu-nafsu ini agar manusia bisa mengenal dirinya dan mengenal tuhannya.

Adapun nafsu itu letaknya dicabang hati manusia, nafsu disini bertindak sebagai dinding (hijab) hubungan antara diri rahasia manusia dengan tuan empunya diri (Tuhannya).

Oleh karena itu tugas manusia yang hendak menuju kepada makrifat hendaklah bisa memecahkan dinding-dinding hijab ini sehingga bisa sampai ke martabat yang paling tinggi yaitu kemulian disisi Allah s.w.t.

Dan tentunya kalau bisa kita membuka hijab-hijab ini maka bebaslah diri batin manusia itu untuk bertemu dengan diri empunya diri pada setiap waktu dan setiap saat.

Tanpa memecahkan dinding-dinding nafsu ini manusia tidak mungkin dapat kembali kepada Tuhannya semasa hidup didunia atau mematikan dirinya sebelum mati.

Kita harus bisa sampai kemartabat “ mematikan diri sebelum mati “  kalau mau kembali kepada Tuhannya saat masih bernafas.

Adapun martabat nafsu pada diri manusia terdiri dari tujuh nafsu sebagaimana yang termaktub dalam Alquran :

  1. 1.    Nafsu Amarah
  2. 2.    Nafsu Lawamah
  3. 3.    Nafsu Mulhamah
  4. 4.    Nafsu Mutmainnah
  5. 5.    Nafsu Radiah
  6. 6.    Nafsu Mardiah
  7. 7.    Nafsu Kamaliah

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Al-Mukminun ayat 17

 Artinya : sesungguhnya kami telah menciptakan keatas dirimu tujuh jalan (nafsu)

1. NAFSU AMARAH

Adapun nafsu amarah adalah satu kelakuan dari hati yang menimbulkan suatu perangai yang mengandung sifat-sifat Mazmumah yang berlebihan.

Manusia-manusia yang memiliki nafsu amarah biasanya memiliki sifat-sifat yang tidak disukai oleh Allah seperti : Dengki, khianat, iri hati, pemarah dan lain-lain, biasanya mereka yang dikuasai nafsu amarah bertindak mengikuti fikiran tanpa menggunakan akal, mereka merasa diri merekalah yang berkuasa atas ini dan itunya.

Firman Allah surat Yusup ayat 53

 Artinya : sesungguhnya nafsu amarah itu senantiasa menyuruh berbuat jahat.

Firman Allah surah Al-Jaashiah ayat 23

Dan sesungguhnya orang-orang yang diliputi nafsu amarah biasanya tak tahan diuji dan jika diuji dengan satu ujian atau cobaan mereka terus emosional bertindak mengikuti fikiran dibawah hasutan syaitan.

Pada peringkat ini manusia-manusianya dikuasai oleh syaitan, jiwanya sering tegang, fikiran sering kusut, jarang sekali untuk mengingat Allah.

 Mereka diperingkat nafsu ini akan mengingat Tuhan ketika susah dan melupaiNYA di saat senang.

Firman Allah surah Fusyilat ayat 51

Apa yang mereka lakukan semuanya semata-mata dorongan dari fikiran mereka dan tidak pernah timbul di hati mereka perasaan bersalah atas kesalahan yang mereka lakukan.

Sesungguhnya nafsu amarah ini adalah nafsu binatang bahkan lebih hina dari binatang karena mereka yang dikuasai amarah mempunyai hati tapi tidak “ memerhati “, mempunyai mata tapi tidak melihat dan mempunyai pendengaran tapi tidak mendengar, mereka-mereka ini bolehlah kita sebut binatang yang berupa manusia.

Surat Al-Aaraaf ayat 179

Sifat-sifat lain yang biasanya ada pada mereka yang dikuasai nafsu amarah seperti : tidak bersyukur atas sesuatu yang diperolehnya, suka mencela kelemahan orang lain walaupun teman karibnya sendiri, membayangkan dialah orang yang paling baik dan sempurna.

Justru karena itu adalah menjadi kewajiban dari manusia tersebut haruslah menyucikan sifat-sifat nafsu amarah tadi supaya timbul sifat-sifat murni dan hilangnya sifat-sifat mazmumah.

Surah Asy-Syams ayat 710 

Zikir orang yang masih di tingkatan nafsu amarah hanya dilidah saja tidak menyerap ke dalam hati, zikirnya hampa tidak bertenaga. Jiwa mereka pada tingkatan ini kosong, hubungan dirinya dengan empunya diri terputus, bahkan diri rahasianya di hijab dari Allah swt.

Orang seperti ini diri batinnya kurus, sakit tersiksa sedangkan badan zahirnya gemuk dan sehat, penyakit nafsu amarah jika dibiarkan menular pada jiwanya menyebabkan tertimbunya selaput tebal untuk dirinya mengingat tuhannya dan hidupnya terus hanyut tidak berpedoman bagai awan tertiup di langit.

Sesungguhnya bagi mereka yang dikuasai oleh nafsu amarah termasuk dalam golongan manusia yang rugi disisi Allah swt.

2. NAFSU LAWAMAH

Pada tingkat nafsu Lawamah manusia telah dapat menguasai satu perasaan semacam larangan bagi dia untuk melakukan sesuatu kesalahan, kezaliman atau apa saja yang dilarang oleh syariat.

Perasaan ini timbul pada sudut-sudut hatinya ketika mereka hendak melakukan sesuatu kesalahan, bisikan didalam hatinya ini yang disebut LAWAMAH.

Lawamah ini di ibaratkan seperti lampu isyarat di dalam mobil dimana lampu ini akan menyalah berwarna merah bila mobil tersebut hampir kehabisan bensin yang mengisyarat kita supaya mengisi bensin lagi sebelum nantinya mogok di jalan.

Bagi mereka yang mempunyai Lawamah dan mematuhinya dengan rasa tanggung jawab maka akan terselamatkan dari bahaya yang akan datang sebaliknya jika seseorang yang telah meningkat ke martabat nafsu lawamah tetapi tidak mematuhi isyarat larangan maka lama kelamaan akan padam dan kembalilah mereka ke nafsu amarah lagi.

Zikir mereka pada tahap ini masih melekat dibibir tapi kadang-kadang menyerap masuk ke dalam hatinya dan keadaan ini tidak tetap maka seharusnya orang ini meneruskan zikirnya dengan penuh ketabahan.

Mereka pada martabat ini masih ada sifat-sifat tercelah ( mazmumah ) tetapi sudah berkurang, jika mereka tetap patuh terhadap isyarat yang timbul di susut-sudut hatinya maka lama kelamaan sifat-sifat mazmumah ini akan hilang. Lama kelamaan mereka akan merasa segan untuk melakukan sifat-sifat mazmumah dalam hati mereka akan timbul penyesalan atas sikap-sikap mereka yang terdahulu.

Firman Allah Surah Al-Qiyamah ayat 2

Maka dengan ketekunan mematuhi isyarat serta kuat pula berzikir maka tingkatan nafsu mereka akan meningkat ke martabat nafsu yang lebih tinggi yaitu NAFSU MULHAMAH.

Pada peringkat nafsu Lawamah orang ini dapat menerima Ilmu Gaib melalui LADUNI pada peringkat Nur atau mimpi dalam tidurnya dan kadang-kadang dapat pula menerima ilmu melalui Laduni di peringkat Tajali.

Oleh karena itu seseorang di peringkat ini haruslah berusaha dengan tekun dan sabar mengikuti petuah-petuah gurunya agar peningkatan martabat nafsunya akan tercapai.

3. NAFSU MULHAMAH

Setelah seseorang berhasil mengikuti petuah-petuah gurunya dan menerima isyarat nafsu lawamah dengan patuh maka dia akan mencapai tahap nafsu yang lebih tinggi dan mulia martabatnya daripada nafsu Amarah dan nafsu Lawamah, adapun yang di maksud dengan nafsu tersebut adalan Nafsu MULHAMAH,

Pada peringkat ini mereka dapat menyingkirkan sebagian besar sifat-sifat yang tercelah, jiwa mereka mulai berkembang sifat-sifat baik, lapang dada, mereka dapat pengajaran ilmu gaib melalui jalan LADUNI diperingkat Nur dan Tajali daripada tuhannya.

Jiwa mereka kadang-kadang tenang dan adakalanya pikirannya gelisah, singkatnya sifat-sifat Mazmumah masih melanda jiwa mereka, zikir mereka di peringkat ini mulai melekat di hati tetapi tidak 100%  telah tetap di hati mereka.

Larangan berupa isyarat tetap berkembang dan lebih membesar dan pada peringkat ini mereka dapat merasakan perasaan “ zuk “, seseorang di peringkat ini akan menerima satu lagi cara penyampaian ilmu gaib melalui Laduni di  pe ringkat SIR, di mana dia dapat mendengar suatu suara gaib yang mengajar dirinya tentang ilmu gaib melalui telinga batin.

Biasanya suara gaib itu adalah suara guru gaib yang terdiri dari pada wali-wali Allah yang agung yang mengajar seseorang itu dengan terang dan jelas.

4. NAFSU MUTMAINNAH

Setelah mencapai suatu martabat Nafsu Mulhamah dan selalu mengikuti petuah-petuah gurunya serta dapat pula menerima “ zuk dan Sir “ di samping hilang pula segala sifat Mazmumah pada dirinya maka seseorang itu akan mendapatkan ketenangan, kelapangan jiwanya hilang perasaan resah dan gelisah di hatinya.

Hatinya saat ini mulai melekat rasa lamunan kasih terhadap Allah swt,

Firman Allah Surah Yunus ayat 62-64

Firman Allah Surah Al Fajr ayat 27-30

Zikir mereka di tingkatan ini  sudah melekat di hati dan ingatannya terus bersama Allah pada setiap saat, pada peringkat ini seseorang manusia dapat di sifatkan mencapai martabat wali, ( di namakan oleh para tasauf wali kecil ), di samping itu mulai dapat menerima ilmu gaib (Laduni) secara SIR USIR,

Pada peringkat nafsu Mutmainnah mereka dapat mendengar dan melihat dngan pendengaran dan penglihatan mata batin, mereka dapat melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana suka dukanya seseorang yang sudah meninggal dunia dan beada di alam Barzah serta di beri peluang juga menjelajahi ke alam lain ( alam gaib ).

Pada peringkat ini timbulah sifat-sifat super yang tidak di miliki oleh orang-orang awam seperti : Keramat, Mendapat Ilham dan sebagainya, bagi mereka di peringkat ini sering di lamun persaan dan fana akibat kuatnya gelora lamunan cinta terhadap Allah swt.

5. NAFSU RAADIAH

Setelah mencapai martabat Nafsu Mutmainnah dan gigih melatih dirinya untuk Makrifat kepada Allah swt maka seseorang itu akan di tingkatkan lagi ke martabat nafsu RADIAH.

Zikir mereka pada saat ini tetap berada di hatinya dan ucapan zikirnya pula di hatinya semata-mata, mereka tidak pernah lupa atau lalai kepada Allah swt.

Pada martabat ini jiwa mereka suci, hati mereka bersih hening dan setiap apa yang di lakukan olehnya seirama antara hati, mulut, perbuatan, semuanya mulai mendapat keredaan Allah swt.

Adapun fana mereka dinamakan fana Qalbi yaitu hati nuraninya terus dilambung perasaan cinta kepada Allah swt pada setiap saat di manapun berada.

Mereka pada peringkat ini sering di jemput oleh wali-wali Allah yang agung untuk menjelajahi kea lam-alam gaib yang jauh keluar dari pemikiran manusia, di samping mereka terus di ajar tentang ilmu gaib yang lebih tinggi dan teknologi ilmu Allah yang tinggi yang sudah tentu tidak bisa di tandingi dengan teknologi manusia.

Disamping itu mereka bisa terus berkomunikasi dengan para rasul, nabi-nabi, aulia dan para wali-wali Allah, mereka dapat membicarakan hal-hal yang behubungan dengan ilmu gaib dan tentang petuah-petuah makrifat dengan Allah swt.

Kontak mereka ditingkatan ini adalah dengan Nur, Sir dan Sirusir pada saat kontak dengan para rasul-rasul, nabi-nabi, aulia dan para wali-wali Allah mereka dapat menikmati satu kelezatan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata hanya bisa dirasakan sendiri oleh mereka yang sudah sampai tingkatan ini.

6. NAFSU MARDIAH

Bagi mereka yang sudah sampai martabat Nafsu Mardiah jiwa mereka sering Fana Bakabilla yaitu hatinya, kalbunya dan jasadnya sering sekali dilamun perasaan cinta yang amat sangat terhadap Allah swt.

Jiwanya tenang, lapang tidak gelisah, bahkan seluruh jiwa raganya tertumpu kepada Allah swt semata-mata, zikir mereka di level ini tetap bersemedi di dalam kalbu dan tidak pernah lalai dan lupa kepada Allah swt walaupun cuma sesaat.

Mereka sering menerima tamu-tamu agung yang terdiri daripada rasul, nabi-nabi, para arifin billah, para sidikin dan para wali-wali Allah disamping mereka juga dapat menerima ilmu gaib secara LADUNI di peringkat TAWASUL .

Mereka sering menjelajah seluruh alam maya dan alam gaib yang lain termasukSurga, Neraka, Arash dan kursi Allah swt.

Firman Allah surah Al Talak ayat 2

Dalam hal pemecahan wajah dirinya, mereka di tingkat ini sudah mendapat wajah di antara tujuh wajah ke delapan wajah bergantung kepada badan masing-masing.

7. NAFSU KAMALIAH

Adapun yang di maksud dengan Kamaliah adalah keadaan telah berkamil ( sempurna ), pada martabat ini apa saja kelakuan di antara diri batin dan jasad adalah sama dan tidak bercerai berai diantara satu dengan lainnya.

Di mana apapun yang mereka kerjakan di reringkat ini tetap di setujui dan di ridhai oleh Allah swt, maka secara sepontan keadaan ini di namakan …….,

Mereka ini kalau di katakana sakti teramat sakti, kalau keramat amat keramat, kalau alim teramat alim mereka mempunyai segala kelebihan yang tidak di miliki orang awam.

Siapa saja yang sampai ke tingkat ini mereka berpeluang menerima ilmu Syahadah yaitu Ilmu Allah yang paling tertinggi yang dapat di peroleh manusia alam maya ini, ilmu syahadah ini akan di ajarkan oleh Allah sendiri melalui guru yang di namakan guru batin.

Bagi mereka yang telah mencapai martabat nafsu Kamaliah mereka hendaklah berusaha pula mengembalikan dirinya kemartabat nafsu orang mukmin yaitu nafsu mutmainnah, mereka tidak harus tinggal lama di martabat nafsu Kamaliah, mereka harus menjadikan diri mereka ke orang awam, bergaul, berniaga, berpolitik dan menjadi khalifah  di alam maya tapi jiwa raganya tetap bersama Allah.

Fana baka Billah buat selamanya sehingga derajat dirinya susah di tafsir banyak orang, mereka disebut sebagai orang alim tidak alim, sifat manusia yang sempurna dan sederhana dimiliki oleh mereka di martabat ini dan mereka mulia di dunia dan akhirat

Akhirul kalam saya sampaikan kepada siapa saja yang membaca tulisan saya ini, tuntutlah ilmu tasauf sehingga tercapai martabat yang di gambarkan dalam uraian ini sehingga kita semua selamat di dunia dan akhirat.

Berbahagialah bagi engkau yang mencapai martabatnya.

Salam : Zulkarnain Bandjar