SHOLAT BAGIAN I

by Zulkarnain Bandjar

HAKEKAT SHOLAT

BAGIAN I

 

AWAS !!

Segala penjabaran di dalam tulisan ini terlampau berat untuk dipikul dan dipahami bagi mereka yang tidak mempunyai dasar dalam bidang pengajian Ilmu Hakekat dan Makrifat.

Apabila seseorang yang memilih Islam sebagai cara hidupnya, maka menjadi kewajibannya untuk menunaikan rukun Islam  yang kedua yaitu Sholat. Sesungguhnya tidak lengkap seseorang yang beragama Islam tidak menunaikan sholat, di samping itu perlu dijelaskan bahwa sholat adalah menjadi tiang utama pada “bangunan”  Islam itu sendiri. Ini berarti tanpa sholat maka sudah barang tentu runtuhlah Islam itu sendiri.

Menyadari hakekat ini maka semua orang Islam menunaikan sholat, di mana saja kita berada, kita mendapati orang yang beragama Islam yang menunaikan sholat. Namun jarang sekali di kalangan umat Islam yang meluangkan waktunya untuk mengkaji hakekat dan pengertian sholat tersebut, sebaliknya mereka menerima sholat tersebut dengan cara ikut-ikutan daripada orang tua dan masyarakat sekitarnya.

 

Didalam menguraikan pengertian sholat (sembahyang) kebanyakan daripada para ulama syariat akan mentarifkan sembahyang (sholat) sebagai suatu ibadah yang bermula dengan niat dan berakhir dengan salam dengan mengikuti syarat dan rukunnya. Selain itu ada juga menafsirkan sholat (sembahyang) adalah sembah Yang Maha Kuasa, sembah Yang Maha Besar, sembah Yang Maha Pemurah dan Penyayang dan sebagainya.

Seandaianya  sholat dapat diartikan sebagai sembah Yang Maha …, maka dapatlah disimpulkan setiap penyembahan sudah tentu ada yang menyembah dan ada pula yang kena sembah, jadi apakah di dalam Islam juga terdapat suatu yang bernama penyembahan?. Di samping itu perlu diingatkan tiap-tiap ada yang menyembah, maka sudah tentu ada yang kena sembah di hadapan penyembah. Justeru itu, apakah boleh kita beriktikad Allah s.w.t itu ada dihadapan orang yang menyembah? Lagi pula kalaulah sholat boleh ditafsirkan sebagai menyembah, maka apakah agama Islam pun sama dengan agama lain?

Seandainya agama yang bukan Islam menyembah patung  yang ada di hadapan mereka, maka bagaimana dengan Islam, apakah Islam menyembah yang gaib di hadapannya?, Jadi permasalahannya adalah apakah perbedaan Islam dengan bukan Islam. Kalau Islam menyembah yang gaib dan bukan Islam menyembah yang tidak gaib.

 

Berdasarkan ini semua jelaslah sholat (sembahyang) bukan sekali-kali boleh ditakrifkan sebagai sembah seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang dewasa ini. Oleh karena itu, sebaiknya kita mau mengkaji dan memahami hakekat sholat itu sendiri, supaya kita terlepas dari golongan manusia yang menerima sesuatu pemahaman agama secara ikut-ikutan nenek moyang seperti yang pernah dilakukan oleh kaum jahiliah sebelum zaman Rasulullah s.a.w.

Seperti firman Allah Taala didalam Al Quran

Surah : Al Anbiyaa ayat  : 53

Artinya : Mereka berkata kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya (lalu kamipun ikut menyembahnya).

 

Adapun hakekat sembahyang itu adalah berdiri menyaksikan diri sendiri.

Sembahyang untuk meyaksikan diri kita sendiri bahwa tiada yang nyata pada kita hanyalah Allah s.w.t. (diri bathin) dan Muhammad itu adalah diri zahir kita yang membawa dan menanggung rahasia Allah s.w.t.

Adapun hakikat sembahyang itu terkandung didalam Al Fatihah yaitu ALHAMDU = segala puji bagi Allah.

Karena sembahyang yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. ketika Isra’ Mikraj itu berhakekatkan perkataan “ Alhamdu “, karena mengambil hakikat perkataan pertama lembaga Adam a.s., setelah Jibril memasukkan  roh (diri bathin) Adam a.s., dimana saat  roh tersebut sampai ketahap dada lembaga Adam pun terus coba berdiri dan bersin dengan berkata : Alhamdulillah ……

Artinya :

Segala puji bagi Allah s.w.t dan atas dasar itulah Nabi Besar Muhammad s.a.w. menerima perintah sholat dari Tuhannya berdasarkan….

 

Adapun hakekat sembahyang sesungguhnya berhakekat …  Bermula huruf itu adalah … hakikat niat sembahyang kita. Huruf  …  itu adalah hakikat berdiri. Huruf …. Itu  adalah hakikat duduk diantara dua sujud sebab itulah sembahyang kita tidak mempunyai persamaan dengan sembahyang agama-agama lain.

Adapun perkataan Alhamdu artinya memuji,  yang di puji adalah zat, sifat, asma dan apaal Allah s.w.t.

Sebagai firman Allah s.w.t. didalam Hadis Qudsi :

Al insanu sirri wa anna sirru

Artinya : Manusia itu adalah rahasia-Ku dan akulah rahasianya.

 

Perkataan pertama didalam sholat adalah dengan kita berkata Allahu Akbar yaitu didalam Takbiratul-Ikhram, kita berkata demikian karena mengambil kata yang terucap dari Adam a.s. dikala sempurnanya roh yaitu diri rahasia Allah s.w.t. dimasukan kedalam tubuh lembaganya, kemudian Adam a.s. pun berdiri menilik dirinya yang elok  dan terus baginda berkata : Allahu Akbar

 

Adapun hakikat rukun sembahyang itu adalah 13 perkara. diambil dari jumlah sendi besar manusia yang bergerak dan menyebabkan manusia dapat beraktivitas.

Sendi-sendi tersebut adalah seperti berikut :

  1. Sendi Leher
  2. Sendi Bahu Kanan
  3. Sendi Lengan Kanan
  4. Sendi Tangan Kanan
  5. Sendi Bahu Kiri
  6. Sendi Lengan Kiri
  7. Sendi Tangan Kiri
  8. Sendi Paha Kanan
  9. Sendi Paha Kiri
  10. Sendi Lutut Kanan
  11. Sendi Kaki Kanan
  12. Sendi Lutut Kiri dan
  13. Sendi kaki Kiri

 

Akan saya lanjutkan ….

Salam : Zulkarnain Bandjar