** MASIH TENTANG SHOLAT **

by Zulkarnain Bandjar

HAKEKAT SHOLAT

Adapun Rukun Sembahyang itu ada 13 perkara. Yang pertama niat dan yang terakhir adalah tertib. Demikianlah Syariatnya sembahyang menurut hukumnya.

Peraturan dan cara-cara sholat yang akan dijabarkan di sini adalah sebagai berikut :

1.                 Dirikan sholat tersebut dengan mengikuti syarat dan rukunnya.

2.                 Menghilangkan diri.

3.                 Menilik diri rahasia yang dikandung oleh kita.

4.                 Membaca dan mendengarkan setiap anggota kita, pada setiap patah

                    kata bacaan didalam sholat tersebut.

5.                 Merasakan nikmatnya sholat.

Kelima-lima cara ini hendaklah dibuat serentak didalam  sembahyang tersebut.

1.  1.    Cara-cara sholat mengikuti syarat dan rukunya.

Adapun yang dikatakan sholat mengikuti syarat dan rukunnya adalah dengan kita mendirikan sholat dengan mengikuti syarat dan rukun sesuai yang ditetapkan oleh syariat.

Disini tidaklah perlu untuk saya jabarkan satu persatu, tetapi  kita batasi hanya tentang beberapa perkara didalam sholat yang penting-penting saja yang harus kita perhatikan benar-benar tentang aturan dan caranya, juga perbuatan didalam sholat itu sendiri, diantara perkara-perkara yang akan kita bahas disini adalah :

NIAT

Adapun niat itu terkandung didalam, ta’arat, ta’awut, dan ta’ayin dan niat ini hendaklah muncul pada ujung hati kita dan terus ditindak lanjuti dengan perbuatan,

Jadi niat bisa disimpulkan adalah :

Terlintas sesuatu dihati dan terus dilakukan dengan perbuatan apa yang terlintas dihati tersebut dan tidak berpaling pada perbuatan yang lain.

Niat sholat ini kita lafazkan didalam hati kita dan katakanlah :

Niatku sholat menyaksikan diriku karena Allah s.w.t. semata-mata.

Ketika melafazkan niat kita ini, kita hendaklah berdiri persis ditempat sujud kita, berniat langkahkan tiga tapak langkah mundur kebelakang  yaitu kearah tempat sembahyang tersebut dan qiamlah untuk teruskan aturan sembahyang.

 BERDIRi

Yang dinamakan qiam itu adalah kita berdiri di atas tempat sembahyang, dada tegak ke arah Baitullah (kiblat), jarak di antara kaki kiri dengan kaki kanan adalah sejengkal lurus dan kedua tapak kaki hendaklah lurus ke arah Baitullah, tangan kita lurus dan tegak menghadap kiblat, mata zahir kita hendaklah memandang ke tempat yang hendak kita sujud, bebaskan diri kita dari segala hal keduniawian dan seterusnya takbirlah ( Allahu Akbar ) posisi dada kita hendaklah senantiasa tegak ke arah Baitullah.

TAKBIRATUL IHRAM

Ketika kita berkata Allahu Akbar maka hendaklah kita mengangkat dua belah tangan tegak dan lurus serta biarkan ibu jari tangan kedua-dua belah tangan kita menyentuh telinga kita, maksudnya agar kita dapat merasakan ketegakannya, yaitu rasa di bahagian tengah belakang kita.

Takbiratul ihram itu hendaknya dilafazkan dengan panjang 3 alif (6 harakat) sambil kedua belah tangan ke arah telinga dan lafaz Allahu Akbar itu hendaknya serentak dengan kedua tangan kita sampai dipeluk diatas pusat.

Kemudian peluklah kedua belah tangan diatas pusat dengan tangan kiri di bawah dan tangan kanan di atas.

Posisi lengan sebelah kanan di bahagian rusuk kanan dan longgarkan sedikit sebelah kiri sehingga berbentuk lubang di antara siku kiri dengan bahagian badan semacam huruf (…….), kemudian pada perkataan Akbar Dekapkan tubuh kita dan jangan sekali-kali bergerak walau keadaan macam apapun dengan tidak ada istilah garuk – menggaruk selama sholat.

setelah selesai takbir maka bacalah : ………….

BACA AL FATIHAH

Berawal Al Fatihah itu terdiri daripada 7 ayat yaitu :

…..

Dan hendaklah di-wakaf-kan pembacaannya  pada setiap ayat dan dibaca di dalam dada, biarlah kita merasai bacaan kita itu, berada di bawah paras susu pada lambung kiri kita dan jangan sekali-kali sekedar dibaca di mulut saja. Di samping itu hendaklah dibaca mengikut tata cara bacaan yang betul mengikut sebutan huruf dan baris masing-masing.

Bacalah Al Fatihah ini perlahan-lahan ( jangan cepat ) agar kita dapat merasakan kegairahan Al Fatihah tersebut. Di samping itu, bacaan kita itu janganlah terlampau nyaring dan jangan pula terlampau perlahan sehingga tidak dapat kedengaran di telinga kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam Al-Quran:

Suarah Al-Isra’ ayat 110

artinya:

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu di dalam sholatmu dan jangan pula merendahkannya dan carilah jalan tengah  di antara keduanya.

RUKUK

Rukuk artinya menundukkan diri selaras pinggang ke arah Baitullah. Sewaktu rukuk mata kita hendaklah diarahkan ke tempat sujud. dan tangan kita hendaklah ditongkatkan di lutut (tapak kedua belah tangan betul-betul di tengah tempurung lutut).

Dan bacalah : …………

dengan perlahan-lahan ( jangan cepat )

bangkit dari rukuk kita iktidal dan angkatlah kedua belah tangan kita seperti takbir dan …..

SUJUD

Bermula sujud itu adalah merebahkan diri kearah Baitullah dengan membongkokkan badan agar bahagian muka kita mencium di atas tempat sholat dengan tangan hendaklah diletakkan kedua belah ibu jari menyentuh bibir kanan dan bibir kiri.

Dan kaki kita hendaklah ditegakkan 9o0 darajat (tegak) dan jangan sekali-kali bahagian lengan kita menyentuh tempat sembahyang (tikar sembahyang). Dan  bacalah ; ………

DUDUK ANTARA DUA SUJUD

Kemudian bangkit duduk di antara dua sujud. Letakkan kedua belah tangan pada paha dan lutut dan jangan digerakkan.

Bacalah:  ….

TAHIYAT AWAL DAN AKHIR

 Berawal cara tahayat awal itu adalah dengan cara kita duduk di atas kaki kiri kita, dan bahagian kaki kanan hendaklah ditegakkan 90 derajat.

Kemudian kedua belah tangan hendaklah diletakkan di atas paha dan lutut, arah pandangan kita hendaklah dilihat ke tempat sujud kemudian bacalah :….

…..

Bacalah tahayat itu dengan teratur dan perlahan di samping itu hendaklah dirasakan di dalam dada. Bacaan tahayat mestilah dibaca dengan teratur karena ayat-ayat tahayat itu adalah ayat pujian Zat kepada Sifat dan pujian sifat kepada Zat dengan lain perkataan puji memuji di antara diri zahir dengan diri batin di samping penyaksian secara total di antara tubuh zahir dan tubuh batin. Begitu juga pada tahayat akhir, cuma kedudukan kaki kita pada bagian kiri hendaklah dimasukkan di bawah betis kaki kanan dan tegakkan tapak kaki kanan 90 derajat seperti di dalam tahayat awal dan bacalah : ……

Seyogianya kata salam itu adalah berpaling muka ke kanan dan ke arah kiri hingga mata zahir kita dapat melihat bahu kanan dan bahu kiri kita, ketika memutar kepala itu jangan sekali-kali dada kita bergerak biar tegak ke arah baitullah dan saat memberi salam itu maka bacaannya :

Salam sebelah kanan bacalah : …

Salam sebelah kiri bacalah : …

Pada martabat Zat dan Sifat, bacaannya

Salam kanan bacalah : …

Salam kiri bacalah : …

  1. 2.      MENGHILANGKAN DIRI

 

Adapun yang dimaksudkan menghilangkan diri adalah dengan cara kita menafikan yang zahir ini dan mengisbabkan kepada diri batin semata-mata, yaitu dengan cara kita menanamkan niat dalam diri bahwa sesungguhnya diri kita ini tidak mempunyai apa-apa. Kita tidak mendengar, tidak berkehendak, tidak melihat, tidak hidup, singkat kata kita tidak ………. tidak …………. segalanya hanya Dia saja (Allah) yang bersifat begitu:

……………………………….

Silahkan baca bacaan di atas sebelum takbirratulihram

Dengan beriktikad begitu maka kita akan merasai diri kita ini kosong. Pertahankan perasaan ini sepanjang kita mengerjakan sholat yaitu dari pertama kita mulai niat, takbir dan sampailah ke salam dan jangan sekali-kali hilang perasaan itu walaupun sesaatpun selama mengerjakan sholat tersebut.

Jika kita tidak merasai begitu (hilang diri) maka kita tidak dapat menyaksikan diri rahasia kita di dalam sholat tersebut, untuk bisa selalu khusyu’ dan tawwadu’ ketika hendak memulai takbiratul ihram (ketika kiam). Katakanlah bacaan berikut:

………………

Selesai dibaca bacaan diatas serantak  kita merasakan “ merinding ” (rasa-rasa) pada bahagian belikat di tengah–tengah tulang belakang. Perasaan itu muncul dari bawah tulang sulbi naik kearah atas tulang belakang. ketika kita merasakan perasaan tersebut maka cepat-cepatlah kita takbir dengan kata : ……

Dan baca lafaz takbir biar panjang sekurang-kurangnya adalah 3 alif (6 harakat)

Takbir kita itu biarlah dengan penuh tenaga dan dilafazkan didalam dada.

Perlu diingatkan pada qiam (berdiri) dan menghilangkan diri, mata zahir kita hendaklah melihat ditempat sujud kita. Dada kita menghadap kiblat dan mata hati kita hendaklah melihat diantara kedua-dua kening dan batang hidung.

Disamping itu telinga batin kita hendaklah menumpuhkan sepenuh perhatin dan pendengaran kearah bacaan yang dilafazkan oleh segenap anggota kita yaitu zahir dan batin, dan tidak sesaat pun lalai dengan tugasnya itu.

Manakala tugas mata batin kita adalah melihat diantara kedua kening dan batang hidung bagai menilik akan diri kita ( diri rhasia yang ada pada kita ). Maka tiliklah dengan sebaik-baiknya seluruh diri rahasia kita itu sehingga benar-benar nampak jelas dan terang sekali.

 

  1. 3.     Menilik Diri

 

Adapun yang dimaksud menilik diri rahasia adalah dimana kita menilik diri batin yang menjadi rahasia kepada Allah s.w.t. Maka diri batin kita itulah diri rahasia Allah s.w.t. yang bersemayam didalam jasad kita dimana rupanya adalah sama seperti rupa paras yang zahir ini tetapi tidak cacat cela seperti kita.

Didalam hal menilik diri ini, tumpuhkan mata hati kita dari saat menghilangkan diri, hingga takbiratul ihram sampailah salam kepada .., titiklah diri rahasia didalam jasad kita. Tiliklah diri rahasia kita itu sehingga nampak jelas, keseluruhan diri rahasia kita pada setiap saat di waktu menunaikan sholat tersebut.

Rupa diri rahasia kita adalah sama dengan rupa wajah kita. bila saja diri rahasia dapat dilihat dengan terang, meliputi seluruh tubuh jasad kita, maka kita akan merasakan pada peringkat awalnya “ merinding ” (gemetar seluruh tubuh secara serentak tanpa di buat-buat), diikuti dengan suatu kelezatan yang tidak bisa untuk diterangkan disin,i dengan demikian akan mewujudkan tawadu’ didalam sholat.

Jangan sekali kali kita menoleh mata bathin kita itu kearah lain. sebaliknya kita haruslah melatih diri ini sehingga berhasil mencapai makam dan martabatnya.

Tawadu’ adalah mematikan penglihatan mata hati dari melihat  dan menilik hal-hal lain kecuali ditumpuhkan sepenuhnya kepada menilik diri bathin semata-mata. Dengan ini alasan pikiran untuk membayangkan sesuatu yang lain akan gugur dan tidak timbul lagi serta lenyap langsung. Untuk mengetahui secara lebih jelas silahkan  bertanya kepada mereka yang hakiki dan makrifat lagi mursyid serta sampai pada martabat ini.

 

  1. 4.     Mendengar Bacaan Oleh Setiap Anggota

 

Serentak dengan lidah dalam sholat berawal dengan menghilangkan diri mulai takbir al-ihram sampai ke salam hendaklah dibaca didalam dada yaitu kita dapat merasakan keadaan diri kita itu dilambung kiri kita.

Serentak dengan lidah menyebut satu-satu kalimah bacaan selama menunaikan sholat maka hendaklah dituruti sama oleh setiap anggota tujuh lapis jasad kita dan diri bathin kita, dan dengan itu juga maka wajiblah didengar oleh telinga bathin kita. Jangan sekali-kali menolehkan pendengaran telinga batin kita kepada setiap patah bacaan didalam sembahyang tersebut kearah yang lain.

 

  1. 5.     Merasai Nikmat Sembahyang

 

Jika kita mengamalkan petuah-petuah sholat dari para aulia ini, sebagaimana yang dijelaskan disini, maka kita akan menikmati kelezatan yang amat sangat, kalau bisa dikatakan di dunia ini selain daripada kenikmatan persetubuhan tiada lagi suatu nikmat yang lebih nikmat yang dirasakan oleh umat manusia, tetapi jika aku bandingkan dengan nikmat persetubuhan maka nikmat sholat ini adalah 100 kali lebih nikmat dari persetubuhan.

Bisa dibayangkan …..  Enaaak ….!! ….Enak ..!! Sebenarnya kelezatan ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tetapi hanya dapat dirasakan sendiri oleh mereka yang sampai kepada martabatnya.

Inilah suatu kelezatan yang pernah dialami oleh Wali-wali Allah, para Ariffinbillah dan makrifat lagi mursyid. Dari kebanyakan  mereka yang sampai ke makam martabat sholat ini secara sebenar-benarnya maka orang yang bersangkutan bila saja dia akan menunaikan sholat maka belum habis  lagi di dalam takbiratullihram, tubuh jasadnya itu telah gaib dan tidak dapat di lihat lagi oleh mata zahir manusia dan tidak dapat di rasai bila di sentuh oleh anggota zahir orang lain. Dengan lain perkataan orang yang sampai ke martabat ini bila saja takbir di dalam sholat, tentu gaib, dan akan kembali lagi setelah dia selesai salam dalam sholatnya.

Alangkah berbahagiannya jika kita dapat merasai sendiri kelezatan tersebut. Maka di sinilah timbulnya khusyuk dan Tawwadu’.

Dengan demikian tunaikanlah sholat yang benar sehingga kita mengalami sendiri nikmatnya.

Salam : Zulkarnain Bandjar