*** SHOLAHUDDAIM ***

by Zulkarnain Bandjar

HIMBAUAN !!

 

Jangan sekali-kali bertanya hal-hal yang ada didalam penbahasan saya ini kepada orang-orang syariat yang “ buta “ di dalam pengajian Hakekat dan Makrifat.

 


SHOLAHUDDAIM

Penting !!

Barang siapa yang tidak mengenal ilmu zikir nafas, maka sudah tentu orang tersebut tidak dapat menyelami alam hakekat SHOLAHUDDAIM

( Hal ini sudah saya jabarkan dalam uraian yang terdahulu )

SHOLAHUDDAIM bisa ditartikan sebagai sholat yang tiada putus-putusnya walaupun sesaat dalam waktu 24 jam dalam sehari semalam,

Dalam waktu 24 jam ini mereka dapat melakukan penyaksian diri sendiri (diri batin dan diri zahir) pada setiap waktu dan setiap saat tanpa berhenti-henti walaupun sedetik disetiap hembusan nafas mereka,

Seperti  firman Allah s.w.t. didalam Al Quran ;

Surah   : Al Maarij     ayat 23

Artinya :

Setiap saat mereka itu tetap mengerjakan sholat

Jika didalam acara sholat yang 5 waktu tugas kita adalah menumpuhkan segenap perhatian dengan mata batin kita menilik diri batin kita, dan telinga batin kita menumpuhkan sepenuh perhatian kepada setiap bacaan oleh anggota zahir dan batin kita di sepanjang acara sholat kita tersebut, tanpa menolehkan perhatian kita ke arah yang lain. Maka SHOLAHUDDAIM-lah penyaksian sebenar-benarnya  seseorang itu terhadap diri batinnya pada setiap saat.

Sholat (sembahyang) adalah merupakan satu latihan di peringkat awal yang kita butuhkan agar diri kita dapat menyaksikan diri batin kita yang menjadi rahasia Allah s.w.t.

tetapi setelah mampu dan berhasil membuat penyaksian diri disaat kita menunaikan sholat, kita haruslah meningkatkan peringkat kita dengan cara melatih diri kita supaya dapatlah kita menyaksikan diri batin pada setiap saat di dalam waktu 24 jam di sepanjang hembusan nafas kita ( bukan hanya dalam 5 waktu ), sebab itulah kita mengucap syahadah :

 ASYHADUALLAILLAHAILLALLAH WASYHADUANNAMUHAMMADDARRASULLULLAH

Yang berarti bahwa kita telah berikrar dengan diri kita sendiri untuk menyaksikan diri Rahasia Allah s.w.t. itu pada setiap saat didalam 24 jam sehari semalam.

Oleh karena itu untuk mempraktekan penyaksian tersebut, maka kita haruslah mengamalkan SHOLAHUDDAIM di dalam hidup kita sehari-hari, sebagaimana yang telah dikerjakan dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w., para nabi, aulia, dan para wali Allah s.w.t. yanga agung.

Berawal di antara syarat untuk mendapat makam SHOLAHUDDAIM adalah seperti berikut :

  1. Orang tersebut sudah memahami dan bisa mengamalkan hakekat zikir nafas.
  2. Orang tersebut terlebih dahulu berhasil mendapat nur kalbu yaitu hati nurani.
  3. Orang tersebut sudah menemui dan mengamalkan sembahyang Rasulullah s.a.w.
  4. Orang itu telah pun mengalami  proses pemecahan wajah.
  5. Orang tersebut memahami dan  berpegangan dengan penyaksian sebenar-benarnya        

Untuk bisa mengamalkan dan mendapat makam SHOLAHUDDAIM, maka seseorang itu haruslah memahami  pada peringkat awalnya tentang hakekat perlakuan zikir nafas yaitu tentang gerak-geriknya (pergerakan nafas), zikirnya, letaknya dalam diri dan sebagainya. hal ini sudah pernah saya jabarkan di dalam uraian-uraian saya sebelumnya.

Oleh karena itu amalkanlah zikir nafas ini dengan sungguh-sungguh agar kita mendapat pancaran nur  dari dalam jantung kita yang menjadi DINAMO kepada terbentuknya makrifat untuk diri kita dengan Allah s.w.t.

Sesungguhnya hanya dengan zikir nafas sajalah kentulan darah hitam  (istana Iblis) di ujung jantung kita itu akan hancur sehingga bisa terpancarlah nur kalbu, dan setelah terpancarnya nur kalbu. maka terpancar juga current makrifat yang membuat seorang manusia itu termakrifatkan dirinya dengan Allah s.w.t. sehingga dapatlah diri rahasia Allah s.w.t. yang menjadi diri batin kita membuat perhubungan dengan diri Tuhan Semesta Alam.

Latihan untuk menyaksikan diri ini. hendaklah dilatih pada peringkat awal yaitu melalui sholat, sebagaimana yang di terangkan di dalam uraian yang lalu.

Selama masa proses penyaksian diri ini, seseorang itu akan mengalami pemecahan wajah yaitu suatu proses pembebaskan diri batin dari jasad kita dan dengan demikian maka seseorang itu akan dapat melihat wajah kesatu ke wajah berikutnya sampai pada wajah ke 9, yaitu martabat yang tertinggi di dalam ilmu gaib.

Dengan mendapat pemecahan wajah maka manusia itu akan dapat pula membuat satu penyaksian yang sebenar-benarnya pada setiap saat dalam hidupnya, seperti ketika dia menunaikan sholat dalam acara ibadah ataupun dalam keadaan biasa ( kehidupan sehari-harinya ) sepanjang masa hidupnya.

Pada peringkat ini dinamakan juga peringkat martabat Fana Baqabillah yiaitu suatu keadaan yang kekal pada setiap pendengaran, penglihatan, perkataan, dan sebagainya.

Seseorang yang sudah sampai pada peringkat ini adalah seperti orang awam ( tidak pernah menonjolkan dirinya ) dan susah sekali untuk kita mengetahui ketinggian derajatnya dengan Allah s.w.t.

Biasanya orang-orang yang sudah mencapai makam Fana Baqabillah, mereka dapatlah kembali kehadirat Allah Ta’ala dengan diri batin dan diri zahir tanpa berpisah diantara satu dengan lainnya.

Mereka dapat memilih kepulanganya dengan cara mati (meninggal) atau gaib (hilang).

Hal seperti ini pernah terjadi kepada wali-wali Allah s.w.t. yang agung, bila saja notis kematian mereka telah sampai. Maka kematian dan gaibnya mereka akan disambut oleh para rasul, nabi, aulia, dan wali-wali Allah s.w.t. karena ke-karomah-an mereka.

Adapun langkah-langkah yang harus diambil oleh seseorang yang hendak mencapai ke tahapan ini adalah seseorang itu hendaklah sering membuat penyaksian terhadap diri batinnya pada setiap saat didalam hidupnya, yaitu dengan cara mata batinnya senantiasa menilik diri batinnya dan telinga batinnya senantiasa mendengarkan pada setiap patah kata yang dikeluarkan oleh mulutnya selama percakapan sehari-hari, disamping itu setiap patah kata percakapan orang tersebut haruslah juga diikuti oleh anggota lain sebagaimana didalam menunaikan sholat.

Latihan ini haruslah dilakukan terus menerus tanpa diabaikan walaupun sesaat. Sesungguhnya barang siapa yang telah sampai dan ber-jaya di makam ini, maka meraka akan  dimuliakan di dunia dan akhirat, berkat di dunia dan di akhirat dan diredhoi di dunia dan diakhirat, sesungguhnya tanpa mencapai ke peringkat  ini, maka seseorang itu tidak mungkin bisa sampai ke peringkat martabat yang lebih tinggi didalam ilmu gaib.,

Akhirul kalam, semoga uraian singkat ini bisa memotifasi saudara-saudaraku sekalian untuk bisa mencapai ke derajat yang lebih mulia lagi.

 

Salam : Zulkarnain Bandjar