TENTANG KEMATIAN (2)

by Zulkarnain Bandjar

 

** K E M A T I A N **

 

Taklukan-lah kematian sebelum kematian itu menaklukan kita

 

Ingatlah bahwa semua yang hidup dan bernafas akan menghadapi mati, apabila  sampai waktu yang telah di-janji-kan maka tidak boleh lagi ditangguhkan walaupun sesaat.

 

Seperti firman Allah didalam al-Quran

Surah Al-ankabut : ayat 57

Artinya :

 

Tiap-tiap yang berjiwa (bernyawa ) itu akan merasai mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu kembali.

 

Oleh karena itu,

 

Wahai saudara-ku….

Hendaklah ingat dirimu itu akan kembali menemui Tuhan-mu, untuk menepati sumpah-janji   dahulu, suatu ketika, disuatu hari, Sakratul Maut akan menghampiri, niscaya kita menemui mati.

 

Adapun yang dimaksud dengan mati adalah kembalinya Diri Rahasia kita kepada Allah Ta’ala dan tamatnya per-khidmat-an kita menjaga, menanggung, Diri Rahasia Allah Taala  dan kita kembalikan kepada Diri Empunya Diri dan kita akan terus hidup…..

Perlu diingatkan bahwa kematian tidak pernah mengenal tua atau muda, miskin atau kaya, orang baik atau orang jahat, bodoh atau pintar, bila saja telah sampai waktunya maka manusia itu tetap akan menghadapi maut.

Seperti firman Allah s.w.t. didalam Al Quran.

Surat Yunus ayat 49

Artinya :

 

Apabila telah datang ajal, maka mereka tidak dapat menangguhkan walaupun sesaat dan tidak pula men-dahului-nya.

 

Banyak orang berkata, bahwa kita tidak bisa mengetahui seseorang itu akan menghadapi ke-mati-an, tetapi sebenarnya jika kita mempelajari dengan sungguh-sungguh dan mampu mencapai martabat ini, karena berhasil menyucikan diri kita dengan Allah s.w.t. dan telah sampai juga kepada martabat makrifat dengan Allah Ta’ala niscaya kita akan diberitahu akan waktu kematian kita.

 

Bagi orang-orang hakiki dan makrifat dengan Allah Ta’ala, seperti para Ariffinbillah dan Wali-wali Allah s.w.t. mereka diberitahu dialam Ilmu Gaib melalui LADUNI, tentang berita kematian mereka atau lebih dikenali oleh kalangan Tasauf sebagai Perintah Kembali.

 

Biasanya perintah kembali ini akan diperoleh oleh mereka setahun sebelum saat kematiannya. Pada umumnya mereka menerima NOTIS KEMATIAN itu melalui LADUNI sebanyak  5 kali didalam masa hidupnya, yaitu :

 

  1. Setahun sebelum mati.
  2. 6 bulan sebelum mati.
  3. 100 hari sebelum mati.
  4. 40 hari sebelum mati.
  5. 7 hari sebelum mati dan seterusnya

 

Tergantung kepada martabat orang tsb.

 

 

CIRI-CIRI KEMATIAN :

1. Jika bergerak seluruh tubuh dan merasai suatu nikmat yang amat sangat, itulah tanda 1 tahun kita akan mati.

 

2. Jika bergerak pusat ini artinya 40 hari lagi kita akan mati.

 

3. Jika bergerak jantung ini bermakna 20 hari kita akan mati.

 

4. Jika bergerak (ber-getar) dari pusat meng-hela arah naik hingga ke ubun-ubun kita dan mengarah balik (turun balik) dan berhenti di buku leher sampai tengah kulkun kita beserta dengan satu nikmat yang amat sangat rasanya, ini bermakna 7 hari lagi kita akan mati.

 

5. Jika bergerak anak lidah ini bermakna 5 hari lagi kita akan mati.

 

6. Jika bergerak diantara dua kening kita dengan suatu nikmat yang amat sangat rasanya, ini bermakna 3 hari lagi kita akan mati.

 

 7. Jika bergerak dahi kita ini bermakna 2 hari lagi kita akan mati.

 

 8. Jika bergerak ubun-ubun kita diantara waktu zohor dan ashar, ini bemakna 1 hari lagi kita akan mati.

 

 9. Jika bergetar pusat terus meng-hela naik ke ujung sulbi lalu terus bergerak kearah tulang belakang dan terus naik ke ubun-ubun kita, maka dengan kuasa Allah s.w.t. sampailah saatnya kita meninggal dunia yang fana ini dan kembalilah ke akhirat Allah s.w.t.

 

 

Surah Al Baqarah   ayat : 156

Artinya :

Daripada Allah s.w.t. kita datang, maka kepada Allah s.w.t kita kembali.

 

Adapun ketika kita menghadapi sakaratul maut maka kita akan menghadapi beberapa rupa yang amat banyak, mereka akan datang silih berganti untuk mengajak kita bergabung kedalam kerajaan (dunia) mereka dengan merayu dan menawarkan berbagai macam kenindahan (kenikmatan) yang ada dikerajaan mereka, jika saja ketika kita di-ajak dan kita mengikutinya, maka saat itu juga putus nyawa dari tubuh ini dan kita bisa saja masuk ke alam (kerajaan), tumbuh-tumbuhan, hewan, alam-alam benda padat, cair, atau bahkan ke-alam iblis.

 

Yang datang bisa berupa, rupa yang hitam (iblis), kuning (yahum), hijau, merah maka adalah wajib kita menolaknya dengan mengucap ….

 

Dalam keadaan sakratul maut, dimana sifat-sifat Allah dalam diri manusia di-tarik kembali dan tersisa hanya sifat, HAYAT dan ILMU saja, di-masa yang semua amal perbuatan kita di-putar kembali untuk kita saksikan, apakah kita sudah siap menghadapi ini sendiran? Atau siapa yang mau menemani kita pada saat ini kalau bukan guru Mursyid kita?

 

 

Ingatlah jika datang rupa-rupa yang tidak berwarna putih  maka wajiblah kita menolaknya, kita hanya menunggu datang rupa berwarna putih yaitu rupa Nabi Muhammad s.a.w. baru kita boleh mengaku untuk pulang dengan kita mengucap ….

 

 

Ingatlah wahai saudara-ku, kedatangan rupa-rupa yang dibayangkan diatas hanya sekali saja dan kedatangan mereka tidak menentu, cuma tugas kita adalah menunggu rupa putih  yaitu rupa Nabi Muhammad s.a.w.

 

Setelah itu datang-lah sakaratul maut berdiri di hadapan wajah kita diantara kedua kening kita, bercahaya seperti bulan purnama memenuhi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi dan didalamnya ada rupa kita sendiri. Adapun rupa sakaratul maut itu adalah berwarna putih bening bentuk rupa manusia dan wajahnya seperti wajah kita jua (memang betul-betul seperti wajah kita). Diantara kedua keningnya bercahaya  seperti bulan purnama dan didalam warna bening itu terdapat cahaya semacam ke-kuningan putih dan kita dapat dengan jelas melihat wajah kita didalam-nya.

 

Adapun bagi orang-orang makrifat dan sampai pula martabatnya serta orang-orang arifinbillah dan wali-wali Allah s.w.t., apabila tiba saatnya menghadapi Sakaratul Maut. maka tidak siapa-pun yang dapat mengambil nyawanya kecuali Tuhannya sendiri dengan menunjukkan  wajah rupanya, seperti yang pernah dilihat oleh Rasulullah s.a.w. ketika mi’raj dan Nabi Musa a.s. ketika munajat di Bukit Tursina.

 

Tidaklah bisa di-bayangkan hanya Allah s.w.t. saja yang Maha Mengetahui. maka disaat itu di-buka-kan penglihatan dengan makrifat Allah s.w.t.  dengan ilmu yang amat sempurna.

Maka disaat menghadapi Sakaratul Maut itu hilanglah segala kesakitan yang dahsyat berganti dengan suatu kenikmatan yang tiada terkira, hingga kita tidak mengetahui yang mana kita ini telah terpisah diantara Roh dan Jasad.

 

Adapun rupa Rasulullah s.a.w. yang datang kepada kita ketika menghadapi sakaratul maut adalah amat elok sekali, tiada bandingan di alam dunia ini, itulah rupa putih yang ditunggu-tunggu orang-orang ariffinbillah disaat kematiannya. Alangkah bertuahnya kita jika dapat menemui mati dengan penuh ketenangan seperti yang pernah dihadapi oleh para Aulia dan para wali-wali Allah s.w.t.

 

Salam : Zulkarnain Bandjar