** TENTANG WANITA **

by Zulkarnain Bandjar

AN-NISA (WANITA)

Salah satu tugas manusia sebagai khalifah di-muka bumi adalah untuk memakmurkan dunia dengan menciptakan manusia-manusia yang mempunyai kwalitas yang unggul, oleh karena itu untuk dapat menciptakan manusia yang ber-kwalitas (ber-iman) maka wajib untuk mereka yang akan memasuki pintu per-kawin-an untuk mempelajari satu tahapan ilmu yang ber-nama Ilmu Nisa’i.

Bagi mereka yang sudah sampai pada martabat ini maka mereka akan mampu menanamkan “bibit” yang unggul agar tumbuh menjadi manusia yang ber-kwalitas, semua ini bagi mereka adalah soal pilihan, tentunya berdasarkan musyawarah dan mufakat bersama pasangan-nya, karena mereka yang membuat maka mereka-lah yang lebih tahu hasil olahan-nya, boleh apa dan siapa yang mau mereka hadir-kan, ini semua adalah satu pembuktian bagi ilmu mereka.

Semua orang bisa menanam, tapi mereka yang menguasai ilmu cocok tanam saja yang akan mengetahui hasil tanaman-nya walaupun masih ber-bentuk “bibit”.

Asal kata Nisa’i adalah dari kata An-Nisa yang ber-arti Wanita, Wanita adalah makhluk Tuhan paling indah yang mewarnai dunia ini, dirinya penuh fenomena dan rahasia, namun hanya sedikit yang mau dan mampu memahami ini, Allah menciptakan keindahan pada wanita agar mereka menjadi istri yang shalehah bagi laki-laki dan menjadikan laki-laki suami yang shaleh bagi wanita.

Apakah rahasia dibalik sosok wanita?

Dalam riwayat dikatakan wanita diciptakan dari tulang rusuk sebelah kiri laki-laki, dimana dekat hati dan jiwa bersemayam, sehingga wanita diciptakan untuk menentramkan dan mendamaikan jiwa laki-laki, wanita identik dengan kedamaian, kesejukan, keindahan, kelembutan, perhatian dan kasih sayang, kalau-lah laki-laki itu matahari maka wanita itu bulan, kalau-lah laki-laki itu siang maka wanita itu-lah malam, singkat kata ini adalah hal yang ber-pasang-pasangan yang memadukan antara pengasih dan penyayang yaitu ARAHMAN-ARRAHIM.

Sesungguhnya setiap manusia mulai di-hitung pertanggung jawaban-nya kepada Allah pada saat Akil-balig yang mengartikan telah dewasa yang berarti pula sudah siap untuk berumah tangga, bagaimana hal-nya dengan wanita?

Wanita, sebelum akil-balig tiada dosa padanya melainkan tanggung jawab dari orang tuanya, setelah akil-balig terjadi serah terima tanggung jawab melalui ijab-kabul antara orang tua kepada suami-nya yang mengartikan mulai saat itu suami-nya yang ber-tanggung jawab atas segala apa yang diperbuat oleh oleh wanita tersebut (istrinya), jadi dimana letak dosa si wanita ini?

Sesungguhnya agama seseorang itu di-hitung pada saat dia memasuki rumah tangga, tidak ada agama tanpa rumah tangga karena segala macam permasalahan dalam agama adalah bermuara pada rumah tangga, dan dalam rumah tangga-lah kita menjalan-kan amanah-Nya untuk mengenal RahasiaNya dan juga menjalankan tugas sebagai Khalifah untuk memakmurkan dunia dan menjaga kelangsungannya dengan manusia-manusia yang ber-kwalitas.

Saya mengenal ilmu ini sebelum memasuki rumah tangga jadi saat itu sempat guru saya berkata :

“bagaimana kamu mau belajar wahai anak-ku.., kamu hanya punya pena untuk menulis tapi mana buku-mu?”

Firman Allah dalam surah An-Nisa,

Artinya

Istri kamu adalah ladang tempat kamu bercocok tanam, terserah kamu asal ditempat yang rahasia

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mendekati pasangan kamu dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaul-lah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Ayat diatas meng-isyarat-kan nikah lahir tidak menjamin bahwa istri sudah sah (halal) bagi kita, maka kita pun harus mengetahui nikah secara batin melalui ilmu Nisa’i.

Adapun Rumah tangga di umpama-kan adalah Haji kecil, segala hal yang kita kerajakan dalam Haji besar dapat kita lihat di dalam rumah tangga, oleh karena-nya “ibadah suami-istri” (……..) adalah ibadah yang paling tertinggi, pahami-lah ibadah ini dengan kita ber-guru kepada Ahlinya (guru mursyid)

Lihat-lah apa yang sudah di-kerjakan oleh saudara-saudara kita untuk mau mendekat-kan dirinya kepada Allah dengan pergi ke Baitullah di tanah suci Makkah Al-Mukarramah, dimana disana mereka harus berebut-an untuk mencium Hajar Aswat sementara Hajar Aswat ada di hadapan mereka, Bagaimana mungkin mereka akan bertemu dengan tuan rumah disana, sementara tuan rumah dirumah mereka sendiri pun belum mereka temui? Bukankah itu semua hanya pembuktian lebih lanjut dari pembuktian dalam rumah tangga-nya?

Insya Allah saya cukupkan dulu uraian ini dengan menitipkan wasiat kepada putra-putriku.

Wahai anak-anakku….

Tidak-lah aku panggil kalian hadir ke-dunia ini melainkan aku telah ber-mufakat dengan ibu-mu, pada diri kalian telah aku pisahkan mana yang hak dan mana yang batil menjadi IMAN kalian, sebagai modal dasar untuk mengarungi gelombang kehidupan di dunia yang fana ini, aku yakin, kalian semua akan mampu menaklukan semua tantangan dengan Iman yang sudah tertanam di dada kalian,

Wahai putra-putri-ku tercinta,

Jika ku pandang kalian, terpandang-lah masa depan kalian, semua yang telah dan akan kalian lalui adalah sudah seharusnya terjadi, agar kalian bisa meningkat-kan kwalitas hidup menjadi lebih baik lagi, sesungguhnya ini semua adalah ujian dan aku yakin kalian bisa lulus dalam ujian ini sebagaimana aku telah melakukan-nya dahulu.

Wahai jantung hati-ku, suatu saat nanti, bila tiba masanya aku harus kembali ke tempat asal-ku, ketahuilah.. dari alam yang kekal disana aku slalu tersenyum dan bangga mempunyai putra-putri seperti kalian semua.

Catatan – catatan ini aku persembahkan untuk kalian :

–          Farah C. A. Bandjar

–          Firda Rahmania Bandjar

–          Farhan Budiman Bandjar

………………………………..

Penulis : Zulkarnain Bandjar