*** SABAR *** (1)

by Zulkarnain Bandjar

 

SABAR DALAM KONTEKS

MAKRIFAT

 

                                                                           

Pada umumnya orang menggunakan kata SABAR ini hanya dijadikan sebagai ‘’HADIAH’’ atau PENAWAR kepada orang lain yang sedang menghadapi kehidupan “Susah” atau keadaan “negatif” yang menimpanya.

 

Bila seorang manusia ditimpa suatu kesusahan maka manusia itu memerlukan kata sabar, atau bila seorang manusia menghadapi suatu musibah maka sudah tentu manusia tersebut memerlukan kata sabar.

 

Sesungguh-nya dengan memiliki sabar manusia terhindar dari perasaan putus asa, atau putus harapan didalam hidupnya.

.

Biasanya jika seorang kawan menghadapi sesuatu yang bernama ‘’SUSAH’’ ,maka sudah tentu seorang kawanya yang lain akan menasehati kawanya itu supaya bersabar.

 

Katanya : “sabar ya, sabar..  semua itu ada hikma-nya”  atau “ yang sabar jangan terpancing emosi”

 

Nasehat-nasehat seperti ini biasa-nya ditujukan hanya untuk orang lain, tetapi jarang bagi kita menggunakan sabar untuk dirinya sendiri, apabila ditimpa dengan suatu yang bernama “susah”, maka biasanya orang yang bersangkutan tidak dapat menggunakan sabar, malahan dirinya terus terbawa emosi, walaupun sebelumnya pernah dia nasehat-kan kepada orang lain untuk BERSABAR,

 

Apakah sebenarnya kata sabar ini hanya untuk dijadikan ‘’HADIAH’’ bagi orang lain?

jawabanya tentu tidak .

 

Tetapi apa yang pernah kita nasehat-kan itulah hakekat sebenarnya yang harus kita gunakan untuk amalan diri kita sendiri.

 

 

Seperti firman-firman Allah s.w.t. didalam Al Quran berikut ini :

 

Surah Al-Imran Ayat : 200

Artinya          :

Hai orang-orang yang beriman bersabarlah dan teguhkanlah kesabaran kamu dan tetaplah bersedia (menempuh ujian) dan bertakwalah kepada Allah s.w.t. supaya kamu beruntung.

 

Surah Al-Ankabut ayat : 2-3

Artinya :

Apakah manusia mengira mereka boleh mengatakan kami telah beriman sedangkan mereka belum diuji. Sesungguhnya Allah telah menguji orang yang terdahulu dari kamu. Allah mengetahui mereka yang benar dan mengetahui mereka yang berdusta.

 

Surah Al-Imran ayat :142

Artinya :

Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah mereka yang berjihad (menyuci hatinya) diantara kamu dan belum nyata mereka yang sabar.

.

Disamping itu masih banyak lagi ayat Al-Quran yang berupa seruan, ingatan yang menganjurkan manusia supaya bersabar.

 

Bila kita membicara-kan tentang sabar maka sudah barang tentu hal ini tidak dapat dipisahkan dengan hal yang bernama IMAN, karena SABAR dan IMAN mempunyai kaitan rapat yang tidak mungkin dapat dipisahkan.

 

Hadist Rasulullah :

Artinya :

Sabar itu adalah sebagian dari pada iman.

 

Sesungguhnya Iman tidak terlepas dengan ujian, keteguhan iman seseorang itu akan terbukti apabila dia menang menghadapi ujian, dan ujian itu berupa : suka-duka, nikmat, rahmat dan sebagainya..

 

Disamping itu perlu ditegaskan bahwa suburnya iman seseorang itu hanya apabila dijamu dengan UJIAN dan iman akan menjadi tandus kering jika tidak disirami dengan ujian. Sesungguhnya ujian-lah sebenar-benarnya makanan daripada iman.

 

Iman seseorang itu akan diuji dengan senang dan susah, suka-duka, pahit-manis dan sebagainya. Tetapi sebagian besar dari kita menganggap susah, derita , duka, gelisah dan sejenisnya sebagai ujian. Sebaliknya jarang sekali dari kita dapat menerima dan memahami hakekat bahwa :

Kesenangan adalah merupakan suatu ujian yang lebih besar dari pada ujian berbentuk susah.

 

Manusia menganjurkan sabar kepada yang menghadapi susah, tetapi tidak pernah pula mengajar supaya bersabar ketika senang, sedangkan sebenarnya hakekat susah-senang adalah ujian belaka. Susah datang dari Allah, senang pun dari pada Allah untuk tujuan memenuhi matlumat kejadian manusia untuk diuji.

 

Seperti firman Allah :

Surah : Al –Balad ayat : 4

Artinya :

Tidak dijadikan manusia kecuali untuk menghadapi ujian.

 

Manusia yang berguna adalah manusia yang bisa menerima ujian dari pada tuhanya. Semakin banyak ujian yang menimpa dirinya maka makin tinggilah derajat kemuliaanya disisi Allah sebaliknya manusia yang tidak sanggup meneriam ujian dari pada Allah, maka manusia itu adalah manusia yang tidak berguna.

 

Sesungguh-nya ujian akan tetap bersama kehidupan manusia, tidak pandang siapa ,manusia itu, karena itu dapat disimpulkan bahwa Hidup itu sendiri sebenarnya UJIAN.


Tiap-tiap yang berguna , tentu akan diuji,

–      Parang akan diuji dengan kayu,

–      Bola akan diuji dengan kaki,

–      Dapur diuji dengan api,

–      Bahkan  WC-pun diuji dengan tahi,

 

 

Begitulah halnya dengan kehidupan manusia tetap akan diuji dan diuji, jika dia seorang manusia yang berguna.

 

 

Salam Zulkarnain Bandjar