** SABAR ** (2)

by Zulkarnain Bandjar

SABAR DALAM KONTEKS

MAKRIFAT

(2)

 

 

Sesungguhnya pohon IMAN haruslah berdahankan sabar dan berbuahkan ke-iklasan. Oleh karena itu Iman, Sabar dan Ke-iklasan adalah tiga perkara yang harus dipegang didalam kehidupan manusia sehari-hari.

 

Didalam uraian yang lalu, kita telah membincangkan tentang Iman dimana tiap-tiap yang dikata-kan Iman maka sudah tentu memerlukan kepada Tauhid  dan tiap Tauhid memerlukan pula kepada Sabar dan sabar-pun memerlukan pula kepada Iklas, Barang siapa yang dapat berpegangan kepada ke-iklasan didalam hidupnya maka dia akan menjadi manusia yang sebaik-baiknya disisi Allah.

 

Bila kita bertanya kepada orang pada umumnya, apakah pengertian Sabar sebenarnya, maka sudah barang tentu orang tersebut akan menafsirkan sabar adalah menahan perasaan di kala menghadapi “susah”, dimana kita harus mengambil sikap tahan diri, kita jangan mengikuti nafsu serta menggunakan pikiran dingin ketika menghadapi “susah”.

 

Kalau demikian didalam pembahasan kali ini saya ingin menafsirkan sabar sebagai :

 

satu kesanggupan menerima dan memulangkan rahmat dan nikmat dari pada Allah dengan penuh ke-iklasan.

 

Hal ini sesuai dengan firman didalam Al-Quran :

Surah  Al- Baqarah ayat :..

Artinya :

Bagi mereka apabila menghadapi sesuatu musibah maka berpeganglah (katakanlah) sesungguhnya dari pada Allah dan kepadanya harus dikembalikan.

 

Dari pemahaman diatas maka dapat-lah disimpulkan bahwasanya semuanya dari pada Allah dan dari pada Allah-lah harus dikembalikan .

Kita datang daripada Allah, maka kepada Allah-lah kita harus kembali.

 

Susah dan senang datang dari pada Allah maka kepada Allah haruslah dikembalikan, tiada sesungguhnya yang dapat membuat menjadi susah kecuali semuanya adalah Hak Allah semata-mata . Sesungguhnya susah dan senang adalah Rahmat dan Nikmat.

 

Tapi kebanyakan dari pada kita apabila “susah” maka dia akan berubah sikapnya, mukanya mulai berkerut-lah, tingkah lakunya jadi “loyo” dan sebagainya, sebaliknya apabila memperoleh apa yang dinamakan “senang”, maka dia akan disambut dengan penuh perasaan riang, gembira dengan tertawa lebar, mukanya merah kebahagiaan.

 

 

Jarang manusia dapat menerima susah dengan mukanya masam dan menerima senang pun dengan muka yang masam

ataupun

mereka dapat menerima kesenangan dengan senyum dan dapat pula menerima kesusahan dengan senyum juga.

 

Banyak Alim Ulama Syariat telah mennafsirkan musibah sebagai BALA tetapi sebenarnya harus ditafsirkan sebagai RAHMAT dan NIKMAT

 

Sesungguhnya Rahmat dan Nikmat adalah ujian bagi manusia seluruhnya . Hidup adalah ujian , amal ibadah adalah ujian sembahyang (sholat) adalah ujian dan mati-pun adalah ujian.

 

Oleh karena itu kalau sholat , amal ibadat, hidup dan mati adalah merupakan ujian apakah setiap ujian itu merupakan bala?

 

–      Kalau “susah” itu ujian apakah “susah” itu bala?

–      Kalau “senang” itu ujian apakah “kesenangan” itu bala?

–      Kalau bahagia itu ujian maka apakah kebahagiaan itu bala?

–      Kalau duka-nestapa itu ujian maka apakah duka-nestapa itu bala?.

–      Kalau kaya itu ujian maka apakah kekayaan itu bala?

–      Kalau mati itu ujian, maka apakah kematian itu bala?

 

 

Dari uraian diatas dapat disimpul-kan bahwa musibah itu lebih merupakan ujian yang berupa Rahmat dan Nikmat.

Salam Zulkarnain Bandjar