* SABAR * (3)

by Zulkarnain Bandjar

SABAR DALAM KONTEKS

MAKRIFAT

(3)

 

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIU’N

Artinya :

Dari pada-Nya kita datang dan kepadaNya harus kembali

 

 

Apakah “susah” dan “senang” datang-nya bukan dari pada Allah?

 

Jika semuanya itu adalah datang dari pada Allah dan harus pula dikembalikan kepadaNya, maka kenapakah kita tidak berkata jua dengan lafaz. :

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIU’N

Per-mula-an manusia didunia adalah “HIDUP” dan kepuncak hidup adalah “MATI”, tanpa mengalami kematian berarti manusia belum sampai kepuncak hidup, karena tanpa menempuh mati , maka tidak mungkin manusia dapat kembali ketempat asalnya.

Asal manusia datang dari alam Gaib , maka haruslah kembali kealam Gaib.

Apakah perpindahan manusia dari alam yang FANA ini kealam yang KEKAL harus dianggap sebagai MUSIBAH (bala)?

Kematian bukan-lah  boleh dikatakan bala, sebaliknya kematian merupakan suatu RAHMAT dan NIKMAT yang harus ditempuh oleh manusia.

Oleh karena itu adalah tidak tepat jika kita telah hadiah-kan suatu kematian itu dengan lafaz INNA LILLALHI WAINNA ILLAIHI ROJIUN sedangkan perkara lain yang kita alami, kita tidak pernah berbuat demikian.

Sesungguhnya segala yang terjadi didalam HIDUP dan juga MATI adalah lebih merupakan UJIAN, maka setiap ujian haruslah pula disambut dengan suatu yang bernama SABAR.

Tanpa berpegang kepada dahan sabar, maka sudah tentu manusia itu akan hanyut terbawa arus ujian, dan manusia tersebut akan jatuh ketangan syaitan jika senjata sabar tidak dipunyai oleh dirinya, disamping itu perlu-lah diingatkan bahwa syaitan akan mencoba segala cara sehingga membuat kesabaran luput pada diri manusia tersebut ketika menghadapi sesuatu ujian. Maka berbahagialah mereka yang memiliki SABAR pada dirinya.

Sebagaimana yang pernah ditegaskan didalam uraian-uraian yang lalu bahwasanya Allah menyatakan Diri Rahasianya itu dengan SIFAT dan AF’ALNYA, dan sesungguhnya kejadian manusia bersama dengan tugas utamanya adalah untuk menyatakan SIFAT dan AF’AL ALLAH s.w.t yang meliputi pada alam Saghir dan alam Kabir, disamping itu pelu ditegaskan lagi bahwa apa saja yang ber-laku dialam DUNIA ini sebenarnya adalah kelakuan Allah jua dan tidak boleh di-iktiqad-kan selain dari pada itu.

Oleh karena  itu dapat-lah disimpulkan bahwasanya semua perkara yang menimpa atas diri kita adalah sebenarnya  af’al Allah :


–       Susah adalah af’al Allah,

–       Senang adalah aff’al Allah

–       Kaya adalah af’al Allah,

–       Suka adalah af’al Allah,

–       Duka adalah af’al Allah

Singkatnya tidak ada sedikit-pun hak kita manusia kecuali hak Allah semata-mata.

Bagaimana kita bisa berfikir kalau sesuatu itu hak kita, sedangkan diri kita sendiri pun adalah hak Allah jua, karena diri kita pun bukan hak kita maka sudah tentu-lah apa yang menimpa kita sebenarnya bukan menimpa kita, dan tidak ada hak untuk kita mengaku sesuatu yang menimpa kita, kecuali pada hakekatnya menimpa sifat Allah jua.

Sesungguhnya perlu dipahamkan bahwa Allah menyatakan DiriNya dengan SifatNya, Allah menguji SifaNya dengan Af’alNya, dan Allah memuji ZatNya dengan NamaNya.

Jadi jelaslah apa yang dikatakan ujian yang menimpa kita sebenarnya adalah ujian Af’al Allah terhadap SifatNya semata-mata. Dan manusia jangan-lah mengaku dirinya itu adalah dirinya, sebaliknya manusia tersebut harus berpegang dengan satu keyakinan bahwa aku adalah Sifat Allah semata tidak lebih dan tidak kurang dari pada ini. (titik)

Sesungguhnya Sifat SABAR itu hanyalah diperlukan oleh manusia yang BELUM mengenal dirinya. Manusia yang masih terapung-apung dengan kegelapan pengetahuan yang tidak mengetahui dirinya, dari mana datangnya dan kemana pula harus kembali.

Di samping itu Sifat SABAR sebenarnya hanya diperlukan oleh manusia-manusia yang “tolol”, yang membusungkan dada, katanya : “Nah! inilah hak aku”, atau “itulah hak aku” karena manusia tersebut merasa dirinya berhak atas sesuatu dan harus pula dapat memilikinya.

Sesungguhnya SABAR ini diperlukan akibat manusia merasa dirinya boleh menguasai dan memiliki sesuatu tetapi sebaliknya apabila manusia tersebut tidak merasa memilikinya, maka Sifat SABAR tidak diperlukan olehnya.

KARENA :

–       Manusia merasa bahwa dia harus memiliki kekayaan, bila ditimpa dengan kemiskinan maka manusia tersebut memerlukan SABAR.

–       Manusia merasa dia tidak harus susah bila susah menimpanya maka perlu-lah manusia itu kepada SABAR, begitulah pula seterusnya.

 

Sebaliknya apabila manusia dapat per-pegang dengan konsep :

 

–       Susah itu adalah hak Allah, maka ia akan memulangkan susah itu kepada Allah,

–       Senang itu adalah hak Allah maka dia akan memulangkan segala kesenangan itu kepada Allah.

Kalau susah adalah hak Allah dan senang pun hak Allah, maka mana mungkin timbulnya masalah SABAR, sebab :

–       Istilah SABAR adalah timbul apabila adanya istilah SUSAH, dan

–       Istilah SABAR juga timbul apabila adanya istilah SENANG,

Jadi bila tidak ada istilah SENANG dan istilah SUSAH pada dirinya, maka  tiada-lah lagi istilah SABAR pada dirinya

Karena itu kita harus-lah memahami falsafah dan pegangan Ahli-ahli Sufi yang menegaskan bahwa segala itu hendaknya dipandang persaksian dengan konsep :

  1. Saksikanlah pada yang banyak itu kepada yang satu.
  2. Saksikanlah pada yang satu itu pada yang banyak.
  3. Saksikanlah pada yang satu itu pada yang satu.
  4. Saksikanlah pada yang satu didalam Nur (Rahasia) yang satu.

Dengan berpegang pada konsep diatas-lah, maka orang-orang yang mengenali dirinya dan mengenal Tuhanya dapat menerima satu ujian itu dengan penuh ke-iklasan, tanpa wujudnya Sifat Syirik pada dirinya dengan Allah s.w.t.

Mereka tidak mungkin merasa “GEMBIRA” ketika menghadapi apa yang dikatakan ‘’SENANG’’ dan tidak pula “BERSEDIH” ketika menghadapi apa yang dinamakan “KESUSAHAN’’ didalam hidup.

Hidupnya tidak gembira, tidak pernah gelisah dan tidak pernah,… tidak pernah…, tidak pernah…………., pendek kata hidupnya. INNA LILLALHI WAINNA ILLAIHI ROJIUN.

Sesungguhnya dengan berpegangan konsep diatas-lah maka dapat ter-wujud-kan suatu bentuk ke-SABAR-an yang se-BENAR-nya pada dirinya, dan se-sungguh-nya pula formula atau konsep diataslah yang pernah dipegang oleh Rasulullah s.a.w, para Nabi-nabi, Wali-wali Allah yang mempunyai dan mencapai derajat yang tinggi disisi Allah s.w.t.

Salam Zulkarnain Bandjar