** MASIH DI ALAM INSAN **

by Zulkarnain Bandjar

MASIH DI ALAM INSAN

 

Sebenarnya Martabat Alam Insan diperbincangkan secara panjang lebar di dalam 3 bab sebelumnya adalah bertujuan untuk menyadarkan kita semua bahwa :

DIRI KITA INI ADALAH BUKAN DIRI KITA.

Diri kita adalah diri yang ditajallikan oleh diri kita sendiri pada Martabat Alam Ahdah, yaitu alam Gaibul-Gaib. Dan nyatanya diri kita ini yang mempunyai diri zahir dan diri batin pada Martabat Alam Insan adalah bagi menyatakan diri kita pada Martabat Alam Ahdah yakni Martabat Ketuhanan itu sendiri.

Sesungguhnya Allah s.w.t. yaitu diri kita pada Martabat Ahdah menyatakan diri-Nya dengan Sifat-Nya sendiri, dan memuji Sifat-Nya dengan Asma-Nya sendiri, serta menguji Sifat-Nya dengan Afaal-Nya sendiri.

Sesungguhnya tiada sesuatu-pun pada diri kita kecuali diri Allah s.w.t. Tuhan Semesta Alam semata-mata.

 

Di dalam  perbincangan yang begitu panjang,  kita telah membahas tentang Ahdah. Wahdah, Alam Roh, Alam Misal, Alam Ijsan dan Alam Insan yang merupakan Peringkat Tajalli diri kita pada martabat Ketuhanan sampai-lah diri kita NYATA dengan satu tubuh yang utuh berbangsa MUHAMMAD pada Alam Insan untuk menyatakan diri kita sendiri pada Martabat Tuhan.

Sesungguhnya tidak mungkin nyata Tuhan Semesta Alam itu tanpa wujud dan zahir-nya diri kita berbangsa Muhammad, dan sesungguhnya tidak mungkin zahir dan wujud-nya diri kita berbangsa Muhammad ini tanpa diri kita pada martabat Ahdah yaitu martabat Ketuhanan.

Sesungguhnya zahirnya diri kita ini sehingga berbatang tubuh berbangsa Muhammad adalah melalui TUJUH PROSES peringkat tajalli.

Pertama-nya adalah peringkat Martabat Ahdah, keadaan diri kita  pada Martabat Ahdah adalah dalam keadaan KUN ZAT yaitu dalam keadaan belum nyata zat sekalipun, dimana diri kita dengan diri Tuhan adalah satu.

Diri kita itulah Tuhan dan diri Tuhan itu adalah kita, pada saat itu tiada HAMBA tiada TUHAN dan pada martabat ini belum ada sesuatu apapun yang wujud dan zahir kecuali yang nyata adalah diri kita sendiri saja pada martabat diri sendiri.

Pada martabat ini tiada AWAL tiada AKHIR, tiada ZAHIR dan tiada BATIN, tiada SIFAT tiada ZAT, tiada ASMA tiada AFA’AL, tiada BULAN tiada BINTANG, tiada LANGIT dan tiada BUMI. tiada dan tiada……………. kecuali hanya diri kita sekita-kitanya.

Dalam keadaan begini, kita memutuskan dengan diri kita sendiri untuk menyatakan diri kita sendiri dengan sifat kita sendiri. Maka kita tajallikan diri kita sendiri di dalam suatu martabat yang bernama Wahdah. Pada peringkat  martabat Wahdah ini zat diri kita telah nyata tetapi sifatnya belum nyata KUN SIFAT, keadaan seperti ini disebut  KEADAAN NYATA YANG TIDAK NYATA (nyata pada diri zat saja).

 

Jadi diri kita pada martabat ini nyata dalam NUR ALLAH itulah sifat batin di dalam batin yang pertama yang dikatakan LA TA’YAN AWAL

Oleh karena itu pada masa ini, kita belum dapat menentukan sifat kita sendiri yaitu diantara alam KABIR dengan alam SHAGIR yang mana kedua alam inilah yang menjadi pe-NYATA-an WAJAH dan diri kita ketika nyatanya sifat kita nanti.

Karena hal tersebut diatas maka kita nyata-kan lagi diri kita pada MARTABAT WAHDAH, dimana pada martabat ini diri kita telah nyata pada sifat kita mengikuti bangsa-nya mesing-masing.

Pada saat itu ada di-antara diri kita yang menjadi BULAN, menjadi BINTANG, menjadi MATAHARI, menjadi BUMI, menjadi LANGIT dan lain-lain sebagainya atau dengan kata lain nyata-nya wajah kita ini meliputi seluruh Alam kabir (alam semesta) maka keadaan nyata seperti inilah disifatkan sebagai nyata.., akan tetapi diri rahasia kita belum nyata pada sifat yang manapun.

Sesungguhnya untuk menyatakan Diri Rahasia itu, maka kita tajallikan diri kita ke satu peringkat lagi yaitu ke ALAM ROH untuk menyatakan sifat kita pada sifat diri Insan yaitu batang tubuh berbangsa Muhammad (manusia). Maka pada peringkat Alam Roh sifat batin untuk manusia, yaitu diri sifat batin kita yang mengandungi Diri Rahasia  kita dinyatakan  maka disaat inilah per-sumpah-an (Ikrar-Janji) di antara diri kita dengan  sifat kita terjadi untuk tujuan mencapai matlumat asal tajalli diri kita, untuk menyatakan diri kita dengan sifat kita, dimana sifat kita akan menyaksikan dan mengenali diri kita yang sebenarnya.

Itulah harapan kita untuk menyatakan diri kita kepada sifat kita yang bernama MANUSIA yang bakal dinyatakan melalui peringkat tajalli pada Alam Misal  dan Alam Ijsan nanti.

Maka, akan nyatalah per-saksian diri kita oleh sifat kita guna menyatakan diri kita sendiri dan sesungguhnya itulah matlumat terjadinya tajalli tersebut.

Oleh karena diri kita di dalam INSAN pada Martabat Alam Roh belum nyata, maka kita-pun men-tajalli-kan diri kita ke Alam Misal yaitu Alam Kandungan Bapak seorang manusia, kemudian tinggallah diri kita di dalam Alam Bapak itu selama 40 hari dan ter-bentuk-lah diri kita dalam keadaan DI, WADDI dan MANI serta ber-pindah-nya diri kita yang berada dalam LENDIR MANI Alam Misal (Mani Bapak) dan dipindahkan lagi ke  Alam Ijsan agar dapat sifat diri batin kita (roh) dicantumkan dengan satu sifat zahir yang berbangsa Muhammad s.a.w. tinggalah kita di Alam Ijsan selama 9 bulan, 9 hari, 9 jam, 9 menit, 9 detik, 9 second dan keluar-lah sifat zahir diri kita daripada Alam Ijsan yaitu Kandungan Ibu berupa sifat apa yang di-nama-kan MANUSIA dan di dalam sifat batang tubuh Manusia yang berbangsa Muhammad s.a.w. itulah terkandung diri kita yang menjadi rahasia kepada sifat diri manusia itu sendiri.

Sesungguhnya diri kita yang berada dalam sifat zahir yang berbangsa Muhammad s.a.w. itulah yang dikatakan ALAM INSAN.

Kesimpulan daripada penjabaran, proses tajalli diri kita hingga NYATA-nya diri ini adalah Diri yang mengandungi diri Rahasia kita yaitu diri Tuhan semesta alam.

Oleh karena itu, kita yang berada dalam diri sifat kita yang bernama manusia itu menjadi Rahasia kepada diri manusia itu.

Maka adalah menjadi tanggung-jawab diri kita pada martabat zahir ini, berusaha menyucikan diri Sifatnya untuk kembali menjadi TUHAN sebagaimana diri kita pada asalnya.

Sesungguhnya bagi seorang manusia sudah menjadi maklumat hidupnya untuk me-MAKRIFAT-kan dirinya dengan Allah s.w.t. yakni kembali semula menjadi sebagaimana asal-nya.

Dan sesungguhnya untuk kembali menjadi Tuhan semula, dan mencapai proses penyucian dirinya sampai ke peringkat Martabat Ahdah itulah yang menjadi matlumat sebenar-nya pengajian Makrifat.

Disamping itu adalah perlu ditegaskan disini, bahwa tidak mungkin bagi seorang diri manusia dapat me-MAKRIFAT-kan dirinya dengan Allah s.w.t. yakni Tuhan Semesta Alam sepanjang manusia tersebut tidak kembali semula menjadi TUHAN, yaitu HAKEKAT USUL DIRINYA.  Penulis Zulkarnain Bandjar.

Asal kita diri TUHAN

Kita me-NYATA-kan sifat dirinNya

Bila menuntut barulah FAHAM

Kalau TAK FAHAM silahkan bertanya

………………………………………………….