** MATA HATI **

by Zulkarnain Bandjar

 

TERBUKA MATA HATI AKAN MEMPERLIHATKAN KEPADA KAMU TIADA JARAK ALLAH S.W.T.

PENYAKSIAN MATA HATI MEMPERLIHATKAN KEPADA KAMU AKAN KETIADAAN KAMU DI SAMPING WUJUD ALLAH S.W.T.

PENYAKSIAN HAKIKI MATA HATI MEMPERLIHATKAN KEPADA KAMU YANG WUJUD HANYA ALLAH S.W.T.

 

Apabila hati sudah menjadi bersih maka hati akan menyinarkan cahayanya. Cahaya hati ini dinamakan Nur Kalbu.

Nur Kalbu akan menerangi akal, selanjutnya akal memikirkan dan merenungi tentang hal-hal ketuhanan yang menguasai alam dan juga dirinya sendiri.

Renungan akal terhadap dirinya sendiri membuatnya menyedari akan perjalanan hal-hal ketuhanan yang menguasai dirinya.

Kesadaran ini membuatnya merasa betapa rapatnya Allah s.w.t dengannya.

Kemudian lahirlah di dalam hati nuraninya perasaan bahwa Allah s.w.t senantiasa mengawasinya.

Allah s.w.t melihat segala gerak-gerinya, mendengar setia tutur katanya dan mengetahui bisikan dalam hatinya. Jadilah dia seorang Mukmin yang cermat dan waspada.

 

Di antara sifat yang dimiliki oleh orang yang sampai kepada martabat Mukmin adalah:


– Cermat dalam pelaksanaan hukum Allah s.w.t.


– Hati tidak cenderung kepada harta, merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak sayang membantu orang lain dengan harta yang dimilikinya.


– Bertaubat dengan sebenarnya (taubat nasuha) dan tidak kembali lagi kepada kejahatan.


– Rohaninya cukup kuat untuk menanggung kesusahan dengan sabar dan bertawakal kepada Allah s.w.t.


– Kehalusan rohani-nya membuatnya merasa malu kepada Allah s.w.t dan merendah diri kepada-Nya.

Orang Mukmin yang taat kepada Allah s.w.t, kuat melakukan ibadah,

akan meningkatlah kekuatan rohaninya.

Dia akan kuat melakukan tajrid yaitu menyerahkan urusan kehidupannya kepada Allah s.w.t. Dia tidak lagi kuatir terhadap sesuatu yang menimpanya, walaupun bala yang besar. Dia tidak lagi meletakkan pergantungan kepada sesama makhluk. Hatinya telah teguh dengan perasaan ridho terhadap apa jua yang ditentukan Allah s.w.t untuknya.

Bala tidak lagi mengguncang imannya

Nikmat tidak lagi menggelincirkannya.

Baginya bala dan nikmat adalah sama saja yaitu takdir yang Allah s.w.t tentukan untuknya.

Apa yang Allah s.w.t takdirkan itulah yang paling baik.

Orang yang seperti ini senantiasa di dalam penjagaan Allah s.w.t karena dia telah menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t.

Allah s.w.t kurniakan kepadanya keupayaan untuk melihat dengan mata hati dan bertindak melalui Petunjuk Laduni, tidak lagi melalui fikiran, kehendak diri sendiri atau angan-angan.

Pandangan mata hati kepada hal ketuhanan memberi kesan kepada hatinya (kalbu).

Dia mengalami suasana yang menyebabkan dia menafikan kewujudan dirinya dan diisbatkannya kepada Wujud Allah s.w.t.

Suasana ini timbul akibat hakekat ketuhanan yang dialami oleh hati.

Dia merasa benar-benar akan keesaan Allah s.w.t bukan sekedar mempercayainya.

Pengalaman tentang hakikat dikatakan memandang dengan mata hati.

Mata hati melihat atau menyaksikan keesaan Allah s.w.t dan hati merasakan akan keadaan keesaan itu.

Mata hati hanya melihat kepada Wujud Allah s.w.t, tidak lagi melihat kepada wujud dirinya.

Orang yang di dalam suasana seperti ini telah terpisah dari sifat-sifat kemanusiaan.

Dalam keadaan demikian dia tidak lagi meng-indahkan peraturan masyarakat.

Dia hanya mementingkan soal perhubungannya dengan Allah s.w.t.

Soal duniawi seperti makan, minum, pakaian dan pergaulan tidak lagi mendapat perhatiannya.

Kelakuannya menyebabkan banyak orang menyangka dia sudah gila.

Orang yang mencapai peringkat ini dikatakan mencapai makam tauhid sifat.

Hatinya jelas merasakan bahwa tidak ada yang berkuasa melainkan Allah s.w.t dan segala sesuatu datangnya dari Allah s.w.t.

Rohani manusia melalui beberapa peningkatan dalam proses mengenal Tuhan.

Pada tahap pertama terbuka mata hati dan Nur Kalbu memancar menerangi akalnya.

Seorang Mukmin yang akalnya diterangi Nur Kalbu akan melihat betapa rapatnya Allah s.w.t.

 

 

Wasalam