Pertanyaan ?

by Zulkarnain Bandjar

Bang, saya ada pertanyaan,
.
1,dari bacaan disini tau di blog. saya mengambil kesimpulan. “dunia dan akhirat semua milik Allah (cahaya yg berlapis-lapis),serta 20 sifatnya (yg apabila kurang bukan Allah)” Pertanyaan saya adalah yang punya kita itu mana…?
2,Mengaku –> syirik
Tidak mengaku –> tidak boleh
jadi bagaimana jln keluarnya bang,,,?~ salam ~
Batal Suka ·
  • Anda dan Ridho Putro Sono menyukai ini.
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dika Doank, Waalaikum salam…, hehehe…, ini pertanyaan bagus,
      1. Di dalam ber-tauhid kita menyatakan bahwa :
      “Apapun yang dikerjakan bukanlah perbuatan dirinya sendiri melainkan semua itu Af’al Allah jua…”
      2. Di dalam ber-syahadah kita pun bersaksi bahwa :
      “Tiada yang nyata melainkan Allah jua…:
      3. “Lahaula wala quata illa billah” = Tiada daya dan upaya melainkan Allah jua…
      4. Dalam penjabaran Diri, tidak ada hak kita atas diri ini kecuali :
      – Hidup dan mati punya Allah
      – Penglihata, pendengaran, penciuman, perkataan ‘punya’ Muhammad
      – Kulit, urat, tulang, isi ‘punya’ Bapak
      – Darah, daging dan otak ‘punya’ ibu
      lalu yang mana punya kita?
      Umpama kita bercermin ada Nampak Dia didepan kita, tapi coba di tunjuk yang mana Dia?
      Dari keterangan2 di atas, ingin mengatakan bahwa kita tdk punya hak atas diri namun kita berada di dalam diri, lalu kita ini siapa?Pertanyaannya punya kita yang mana?
      Mengaku syirik?
      Tdk mengaku tidak boleh/di marahi?Jadi pertanyaan ini seperti “buah simalakama” atau seperti orang yang “bercermin” dan disuruh tunjuk dirinya, atau seperti “pencuri” yang di introgasi polisi lalu memberi jawaban “ya” kemudian di ralat lagi menjadi “tidak” .
      Bahwa firman/keterangan/tersurat sudah benar tdk boleh di rubah lagi.. namun kita perlu memahami makna yang TERSIRAT itulah Jawabannya.

    • Dika Doank Terima kasih bang,,, mudah2han saya diberikan hidayah/kemudahan utk memahami Makna yg Tersirat tsb,,,jika ada tambahan silakan bang…
    • Dika Doank jika manusia = Layang2 = kerangka + kertas + tali + Angin.= hidup/melayang. pertanyaan saya adalah sebenar layang2 ( diri ) itu yg mana…? salam
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dika Doank, yang mengulur tali hingga layang2 “naik keatas” lebih tinggi lg atau menarik tali membuat layang2 itu “turun lebih rendah”. salam.
    • Dika Doank oh… ada 2 thoh ( yg naik dan turun ) hmmmnn…? ok bang, tlg 2-nyalah, n ada 1 lg tambahan bang. saya srg dgar pmbahasan ttg ilmu ketuhanan berkisar antara Adam,Muhammad, n Allah. satunya lg mn bang…? katanya ada 4… salam
    • Laode Parigi Satunya Rohul Qudus / Jibril
      12 Agustus pukul 13:30 melalui seluler · Batal Suka · 1
    • Dika Doank thank’s saudaraku…
    • Laode Parigi Sama2 saudaraq
      Alkisah :Nabi Musa as di bimbing oleh Namuslah,
      Nabi Isa as di bimbing oleh Ruhul Qudus,
      Nabi Muhamad saw di bimbing oleh Jibril,
      Nabi ………………Siapa yang di bimbing dan Siapa yang membimbing?
      Yang di bimbing = Yang membimbing = satu jua.

      Mengapa harus di bimbing ?
      Agar dapat mencapai tingkat yang optimal dalam mengemban tugas ke rasulan di muka bumi.Apa tugasnya?
      Memberi kabar gembira dan peringatan.Bagaimana tuntunan yang di berikan oleh pembimbingnya?
      Tuntunan itu datang menyeruak dari kedalaman dirinya, dengan pengenalan diri yang sempurna maka para rasul itu mengetahui secara pasti siapa hakekat para pembimbingnya tersebut.

      “Para pembimbing tidak datang dari luar dirinya”
      Namun datang dari kedalaman dirinya masing-masing.
      Rahasia dirinyalah yang membimbing dan mengajari para rasul sehingga segala ucapannya terjaga dari hawa nafsunya.
      Terkontrol sesuai etika ketuhanan yang berasal dari rahasia dirinya.
      Mereka tidak berkata-kata namun rahasia dirinyalah yang berkata-kata, begitu juga mereka tidak melakukan sesuatu melainkan rahasia dirinyalah yang melakukan.

      Apa inti ajarannya?
      Tiada lain adalah Mengenal Sejati Diri Manusia.

      Hakekatnya ajaran ini telah dipahamkan semenjak dulu.
      Hanya bentuk tubuhnya saja yang berbeda, sementara esensi keilmuannya adalah satu.

      Mengapa saya berkeyakinan seperti diatas :
      “Karena guru spiritual tidak diangkat berdasarkan keinginan pribadi seperti guru les “ngaji”, melainkan diangkat oleh Tuhan”
      Dalam roh, guru spiritual adalah utusan kebenaran.

      Pahami kalimat di bawah ini dengan kejernihan berpikir :

      Bahwa : Seseorang yang pernah disebut : Budha, Musa, Yesus, Muhammad mereka satu dalam esensi
      Perbedaan ada pada tingkat penampilan lahiriah, yang disesuaikan dengan lingkungan pada saat kehadiranya.
      Mereka tak lain adalah satu lampu, yang menyinari seluruh lampu yang berbeda-beda.

      Realita diatas selayaknya diterima dengan lapang dada, tanpa mencibirkan apalagi menanggapinya dengan emosi, belum menerima atau ragu tentang hal ini karena kita tidak memahaminya atau belum diberikan pemahaman oleh-Nya.

      Oleh karena itu..
      Maha guru adalah permata yang selalu di cari-cari oleh para “kolektor” spiritual, nilainya tidak dapat diukur dengan “materi” duniawi.
      Ia menduduki nilai trasedentail,

      “Bagi pencari sejati kebenaran, pembimbing spiritual dan nabi disibakkan di dalam batin, didalam relung jiwanya yang paling dalam, ketika ia terlihat dan terasakan di dalam batin, maka tak ada lagi keraguan sedikitpun.”

      Salam

      Suka ·
      Terkadang kepercayaan itu masih menyimpan unsur keraguan dalam hatinya.Mengapa tidak semuanya saja diserahkan kepada yang Maha Kuasa?Bukankah makna tawakal adalah menyerahkan segala sesuatunya secara total tanpa keraguan sedikitpun kepada yang di percayainya?

      Bertawakal-lah dengan sepenuh hati anda dengan membiasakan :

      1. Setiap saat bangun dari tempat tidur, mengucapkan bahwa : segala yang

      ia miliki baik istri/suami anak-anak, pekerjaan dan harta adalah miliknya, kemudian segera meluruskan dengan niat dalam hatinya bahwa : “yang dimiliknya adalah kepunyaan Allah swt jua.”Mengapa harus demikian ?Ketika anda mengucapkan segala sesuatu yang “dimilikinya adalah kepunyaanNya” maka Allah pun yang menjadi rahasia diri anda “tidak merasa kehilangan” ingatlah bahwa dalam diri anda bersemayam rahasia diri yang maha Agung “Sirr Allah”
      Sesungguhnya dengan berbuat demikian anda telah mengikat tawakal dengan hati yang dalam tempatnya “Urwatul Wutsqa”

      Melalui hatilah Allah swt “melihat hamba-hambanya”

      2. Biasakan saat bangun dari tidur periksa nafas, nafas kiri turun dengan kaki kiri, nafas kanan turun dengan kaki kanan, sebelum kaki anda menginjak ke bumi maka ucapkanlah salam kepadanya yang selama ini telah menopang segala aktivitas anda, memberikan hanya yang terbaik saja untuk anda meskipun kebaikannya anda balas dengan menginjaknya, meludahinya, sampai dengan membuang kotoran anda padanya, sesungguhnya “bumi” itulah yang bergelar “Mukmin Sabar”.

      Salam

      Suka ·
      Maaf Pak,Saya numpang tanya,…di surat Al Fatihah : 3 disebutkan.

      ,مَالِكِ يِوْمِ الدِّيْنِ
      artinya : yang menjadi raja dihari kemudian.

      Pertanyaan saya:
      Mengapa kita melakukan perintahnya sekarang, kan DIA belum jadi raja sekarang ini…?

      4Suka ·
      • Siu Lin saya tunggu jawabanya pak…
      • Ilmu Hakekat Usul Diri Yang menjadi raja dihari kemudian = Martabat Ketuhanan = Nyawa bagi kita
        Kita = jasad + Roh + Nyawa
        Hakekatnya jasad selalu mengikuti perintah nyawa (maksudnya : tanpa nyawa maka jasad akan menjadi bangkai)
      • Ilmu Hakekat Usul Diri Keterangan tambahan :

        Alfatiha = 7 ayat tanpa Bismillahirrahmanirrahim.
        Ayat 1 sampai 3 = Martabat Ketuhanan.
        Ayat 4 = Martabat Hamba + Martabat Ketuhanan.
        Ayat 5 sampai 7 = Martabat Hamba.

      • Siu Lin Terima kasih pak atas keteranganya. Jika masih ada ” Keterangan tambahan” silakan pak…