Kalam terdalam 1 s/d 4

by Zulkarnain Bandjar

Kalam terdalam (1)
.

Tahapan antara alam Naasut dan alam Malakut adalah Syariat
Tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah Tarekat
Tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah Hakekat
(Maksudnya : Alam Naasut = Alam Manusia, Alam Malakut = Alam Roh, Alam Jabarut = Alam Gaib, Alam Lahut = Alam Gaibul Gaib).

Allah tidak pernah mewujudkan Diri-Nya dalam sesuatu apapun sebagaimana perwujudanNya dalam Diri Manusia.

“Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat”
“Aku Ciptakan Malaikat dari Cahaya Manusia, dan Aku Ciptakan Manusia dari cahaya-Ku.
“Aku Jadikan manusia sebagai kendaraan-Ku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan bagi manusia.”Betapa indahnya Aku sebagai Pencari! dan Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari!
Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.
(Maksudnya : Allah swt, sebagai pencari sarana, memilih manusia(makhluk yang paling mulia) sebagai kendaraanNya. Betapa Agungnya Dia dan betapa terhormatnya manusia yang telah dipilihNya. Dan merupakan keagungan pula bagi Alam karena telah dijadikan oleh manusia sebagai kendaraan yang membawanya kepada tujuannya.)

“Manusia adalah Rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya”
(Maksudnya : Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-Ku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?”)
(Maksudnya lagi : Jika manusia mengetahui secara hakiki betapa tinggi kedudukannya dan betapa dekat ia dengan Allah swt, maka ia akan merasa bahwa suatu saat nanti, Allah swt, akan memberikan kekuasaanNya kepadanya. Karena itulah ia akan senantiasa menanti, kapan saat penyerahan itu tiba, dengan kalimat : “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?”)

Tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.
Tubuh manusia, Jiwanya, Hatinya, Ruhnya, Pendengarannya, Penglihatannya, Tangannya, Kakinya, dan Lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diri-Ku, untuk Diri-Ku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.”

Salam

Suka ·
    • Zulkifli Ishak Rhs CH Betapa beraninya engkau wahai Ilmu Hakekat Usul Diri, saya ‘salute’!
      28 Juli pukul 14:00 · Batal Suka · 1
    • Mas Bro Aja Berani krna benar okelah tuuh aku mndukung.
    • Emilia Novanti Pembahasan ini akan dimengerti utk kalangan yg tlah menemukan makna.. Baik tp hrs berhati2x sy rasa. Pemahaman yg ingin diberikan nantinya tktnya tdk dpt dipahami yah.. Pembahasan ini bgs bl dilakukan scara tatap muka pd pertemuan slayaknya pengajian.itu menurut sy yah pak. Salam…
      28 Juli pukul 16:20 · Batal Suka · 2
    • Zulkifli Ishak Rhs CH Ku mohon utk disalin sbg nota peribadi.
      29 Juli pukul 22:36 · Batal Suka · 1
    • Jou Kota Alifa Salam ….
    • Acep Per aslkm wr wb.rerima kasih atas confirmasinya,kalo boleh tanya jikalo ada buku pembahasan semua ini,dmn saya bisa mendapatkannya ? makasih
    • Zulkifli Ishak Rhs CH Saya pun mahu juga.
      Kalam terdalam (2)Janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran Hati yang “sadar” dan mata yang “awas”.

      “Barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan dzahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

      Kemanunggalan Ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata,.

      Siapa yang percaya denganNya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah “mengingkariNya”.
      Dan siapa menginginkan “ibadah” setelah mencapai keadaan Wushul, maka ia telah “menyekutukanNya”
      (Maksudnya : “Penyatuan Ruhani” antara makhluk dan Khaliq tidak akan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jika seseorang belum mengalaminya sendiri, maka ia akan cenderung mengingkarinya. Dan orang yang mengaku telah mengalaminya padahal belum, maka ia telah “mendustai diri”. Orang yang telah mencapai keadaan ini, tiada yang ia inginkan selain perjumpaan denganNya. Jika ia menginginkan hal lain, meski itu berupa ibadah sekalipun, dalam maqam ini, ia dianggap telah menyekutukanNya dengan keinginannya yang lain itu.)Barangsiapa memperoleh kebahagiaan Azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan Azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima, dan terhina karenanya.

      Aku Jadikan kefakiran dan “keperluan” sebagai kendaraan manusia. siapa saja yang menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gunung dan lembah.
      (Maksudnya : Kefakiran dan “keperluan” merupakan sarana yang membawa manusia kepada kesadaran akan Jati Dirinya dan kebesaran Allah swt. Orang yang telah sampai pada kesadaran semacam ini berarti telah sampai pada posisinya yang tepat, tanpa harus menempuh perjalanan yang berliku-liku.)

      Salam

      Suka ·
        • Murid Pakguru bagaimanakah supaya kita dapat kemanunggalan bathin pak?
        • Ryu Prabu nah tu gimana tu?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Murid Pakguru, Kemanunggalan = inisiasi = meditasi = tafakur
          Melalui tahapan2, di mulai dari melampaui pikiran (sifat mazmumah) masuk ke hati sanubari mendapatkan nur qalbu yang membuat timbulnya suatu keadaan fana = hening, tenang, tentram, damai,…
        • Murid Pakguru trus tafakur yg benar itu seperti apa pak? Gimana caranya?
          30 Juli pukul 2:51 melalui seluler · Suka · 1
        • Ilmu Hakekat Usul Diri yang benar yaitu yang sampai pada fana = perasaan tenang, tentram, damai dalam keheningan, macam2 cara sesuai amalannya.
        • Kalam terdalam (3)

          Kematian merupakan saat disingkapkannya hakekat segala sesuatu, dan perjumpaan dengan Tuhan adalah saat yang paling dinantikan oleh orang yang merindukanNya.

          Semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis.

          Cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta t

          elah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.
          (Maksudnya : Cinta tiada lain kecuali keinginan sang pencinta untuk berjumpa dan bersatu dengan yang dicintai. Bila keduanya telah bertemu, maka cinta itu sendiri akan lenyap, dan keberadaan cinta itu justru akan menjadi penghalang antara keduanya.)“Aku Melihat Roh-roh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

          Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Dia berkata :
          “Barangsiapa bertanya kepada-Ku tentang melihat setelah mengetahui, berarti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Dan barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah swt.’”
          (Maksudnya : Mengetahui = Melihat dengan mata hati. Jadi, Melihat = mengetahui)

          Salam

          Suka ·
            • Jou Kota Alifa Salam …
              Kalam terdalam (4)“Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua yang penyayang.”

              “Tidurlah di sisi-Ku, maka engkau akan melihat-Ku.”

              Tidurlah dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan jauhkan roh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburlah kedalam DzatKu.

              Barangsiapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-Ku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.
              (Maksudnya : Kefakiran adalah suatu keadaan keperluan. jika seseorang tidak memerlukan apa pun selain Allah swt, jika kefakirannya telah sempurna, baginya, yang wujud hanyalah Allah swt, tak ada selainNya)

              “Ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-Ku dan Aku Bersama mereka.”

              Salam

              Suka ·