Menjaga makan & Ramadhan

by Zulkarnain Bandjar

” Menjaga Makan “
.

Allah swt telah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan makanannya.

Makanan memiliki pengaruh besar terhadap proses pembentukan jiwa spiritual.
Makanan yang dimakan nantinya akan membantu pertumbuhan dan perkembangan tubuh, sementara tubuh itu sendiri saling keterkaitan antara satu dengan yang lain, dengan yang ada didalamnya.
(maksudnya : Tubuh itu Diri, Diri = Jasad+ Nyawa + Roh)

Dalam diri manusia terdapat “Kerajaan Yang Maha Agung bertahta disana dengan rapihnya”, Kerajaan ini tentunya berdiri dengan infrastruktur spiritual yang berkualitas.
Agar bangunan “Kerajaan” terpelihara dan berkembang serta mengalami kemajuan yang baik, maka seorang insan harus mmperhatikan materi yang akan di suplainya, (maksudnya : makanan yang dibolehkan oleh norma agama)
Kesalahan dalam menyuplai materi, bangunan spritusl akan roboh, bahkan bisa hancur total.
Setiap insan yang memahami bangunan spiritual tersebut maka dia akan menjaga makanannya, dengan demikian bangunan spiritualnya senantiasa mengalami kemajuan, dari menit kemenit bahkan dari detik ke detik.
Tapi dengan salah mengkonsumsi makanan, perkembangan spiritualnya dapat terhambat dalam rentang waktu yang cukup lama. sayang kalau hal ini terjadi.

Demikianlah Allah swt memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan makanannya, terlebih lagi bagi yang ingin menghidupkan Rahasia Dirinya (Sejati Dirinya). Maka makanan harus benar-benar terjaga dari Pengetahuan Hakekatnya.
Makanan yang dapat menjaga bangunan spiritual diri yaitu makanan yang HALAL DAN DIHALALKAN.
Sedangkan makanan itu sendiri secara hukum agama dapat dibagi ke dalam empat tingkatan yaitu :
1. Makanan yang Haram.
2. Makanan yang Mubah.
3. Makanan Halal yang tidak perlu di potong.
4. Makanan Halal dan dihalalkan.

1. Makanan yang Haram.

Pelarangan ini sudah dapat dipastikan memiliki pengaruh negatif terhadap diri manusia.
Makanan yang haram bukan saja berupa hewan yang diharamkan secara hukum agama, namun lebih dari itu bahwa makanan yang haram adalah makanan yang bukan menjadi hak kita, yang didapatkan secara tidak sah dengan mengambil hak orang lain, kalau kita mengkonsumsi makanan yang telah diharamkan ini dengan jelas dan terang maka bangunan spritualnya tidak akan berkembang, melainkan dalam waktu yang cepat akan roboh.
Dengan memakan makanan yang haram = Tidak menerima sinaran spiritual dari kedalaman dirinya.
Sinar spiritual = Nur Muhammad = Cahaya yang terpuji.
Kalau tidak ada Nur (Cahaya) = Gelap = Tidak dapat lagi melihat ke-Agung-an Rahasia Dirinya.
Oleh karena itu.., Pelarangan ini bertujuan untuk menjaga bersinarnya cahaya spiritual yang senantiasa menyala dengan terang dari dalam diri manusia.

2. Makanan yang Mubah.

Dalam konteks hewan, maka untuk mengkonsumsinya terlebih dahulu harus dihalalkan dengan menyembelihnya secara tepat. (maksudnya : hewan itu sendiri ingin orang yang tepat yang bisa menghantarnya “naik” bukan lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya)
Hewan domba misalnya, tidak dapat dimakan begitu saja, melainkan harus dipotong dulu agar menjadi halal, kalau tidak dipotong maka dagingnya tetap menjadi haram.
Orang yang akan memotongnya di-Syarat-kan harus mengetahui cara`memotongan hewan yang sesuai dengan Pengetahuan Hakekat, karena kalau tidak memahaminya, masih tidak halal..
Berdasarkan pemikiran diatas maka, perlu kehati-hatian dalam memakan daging potongan,

Dalam kesehari-harian hidup, kita dihadapkan dengan kebiasaan ini :
– Membeli daging yang sudah di potong dipasar.
– Memakan daging yang sudah dihidangkan diatas piring di Rumah Makan.
Pertanyaannya :
Apakah kita mengetahui bahwa hewan itu di potong atau tidak dipotong (bangkai)..?
Kalau lolos dari pertanyaan ini maka pertanyaan berikutnya…
Apakah kita mengetahui bahwa daging itu dipotong oleh orang yang memahami Hakekat pemotongan hewan atau tidak?
Bagi yang memahaminya maka mereka tidak mau memakannya sebelum “mensucikannya” karena masih mengandung nilai-nilai yang dapat merusak perjalanan spritualnya, tapi kalau yang memotong adalah guru spritualnya maka tanpa ragu sedikitpun mereka akan memakannya dengan senang hati.

Alkisah :
“Seorang Mursyid sehabis memakan daging ayam kemudian mengambil tulang belulang daging ayam yang telah dimakannya, dan dikumpulkan menjadi satu, kemudian dilemparkan keatas dan ketika sampai dibawah tulang belulang tersebut menjadi ayam hidup kembali”
lalu dia berkata : “ Kalau kamu sudah bisa melakukan seperti ini maka boleh memakan daging ayam”

Ceritera ini mengisyaratkan bahwa seseorang boleh memakan apa saja, khususnya untuk daging hewan (bernyawa) boleh dimakan kalau orang tersebut sudah tahu hakekat yang dimakannya, sehingga suatu saat nanti ketika dimintakan pertanggung jawaban terhadap jasad hewan yang dimakannya, ia dapat mempertanggung jawabkannya. Dan jiwa hewan yang dimakan jasadnya itupun dapat menerimannya.

3. Makanan yang Halal yang tidak memerlukan dipotong.

Contohnya adalah ikan, ikan dalam keadaan bagaimanapun seseorang dapat memakannya, tapi walaupun demikian ikan tidak termasuk dalam katagori makanan yang Halal dan dihalalkan, karena masih memiliki darah.

4. Makanan Halal dan dihalalkan.

Contohnya : Sayur-mayur (Vegetarian) = tidak bernyawa
Makanan yang sudah pasti diketahui ke halal-lannya meskipun…, Agama kresten yang menanamnya, agama budha yang memasaknya, yang memakannya agama islam, makanan itu tetap Halal dan dihalalkan. (maksudnya : ini sekedar contoh kasus saja)
Kalau melihat keempat jenis makanan diatas, maka yang aman utuk di konsumsi adalah VEGETARIAN.
Vegetarian kalau ditilik dari segi kesehatan, membawa pengaruh positif bagi perkembangan tubuh, meskipun ada juga pengaruh negatifnya namun apabila ditimbang faedahnya, maka vegetarian lebih banyak mendatangkan faedah. Sedangkan dari sisi spritualnya sudah jelas.

Akhirul kalam, Inilah pesan untuk pembahasan kali ini…
“Orang yang mengkonsumsi daging, satu kali saja dan tidak bisa mengembalikan apa yang dimakannya kembali ke asalnya maka pintu spritualnya akan tertutup selama 40 hari”

Salam

Suka ·
    • Feri Setiawan baek itu untuk jiwa spiritual……….dalam bentuk nafsu………………..bang???
    • Ilmu Hakekat Usul Diri Jiwa spiritual = jiwa yang tenang (Nafsu Muthma’innah),
      Nafsu = jiwa yg liar (Nafsu Amarah) = sifat2 mazmumah yg banyak = sifat2 hewan yg tdk dikembalikan ke asalnya
    • Dayat Naga terima kasih ilmunya guru.
    • Feri Setiawan bagaimana……kita menghayati suatu baccaan,,,,,,,,baik yang sirr maupun jahar,,,,,,,agar tidak mengukuti hawa nafsu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,cara pembelajaran penghayatannya,,,????terima kasih
    • Feri Setiawan dalam sholat to ibadah
    • Murid Pakguru hakekat menyembelih hewan gimana bang apa ada amalannya?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Feri Setiawan, Menghayati suatu bacaan, di mulai dari memahami apa yg dibaca maksud serta tujuannya secara tepat setelah itu akan hilang tanda Tanya dlm diri maka munculah khusu’, kalau sdh begini otomatis “jahar” akan berimam kpd “sirr” otomatis nafsu liar terkendali cara pembelajaran penghayatan = belajar itu proses lakukan penghayatan dgn sepenuh hati.
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Murid Pakguru, Menyembeli hanya untuk hewan halal, yg menyembeli bertanggung jawab kpd jiwa dan jasad dari hewan yg disembeli, tdk begitu2 aja, tentu ada pengetahuannya.
    • Dayat Naga maksud nur muhammad pada makanan itu apa guru?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dayat Naga, Makanan yang kita makan setelah masuk kedalam tubuh maka saripati dari makanan tadi akan diserap oleh jantung kemudian diedarkan keseluruh tubuh menjadi “Nur Muhammad” untuk menerangi/pelihara/tumbuh/berkembang Diri seutuhnya, sedangkan sisa dari saripatinya adalah “Ampas” yg harus dibuang.
    • Dayat Naga alhamdulillah… tks guruku yg baik, lalu bagaimana caranya tentang kesehai-harian kita yg guru maksud?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dayat Naga,
      KESEHARI-HARIAN yg kita lakukan akan menjadi suatu kebiasaan, yang akhirnya membentuk perilaku dan perilaku itulah yang membuat orang tidak lagi mempermasaalahkan tentang KESEHARI-HARIAN.
      Apapun yang akan kita makan silahkan selama MAU kita pertanggung jawabkan, seandainya anda yang menjadi hewan, apakah ikhlas jasad anda dimakan oleh orang tanpa “basa-basi”? inilah perlunya kita men-suci-kan semuanya sebelum kita makan, agar bisa menjadi “Nur Muhammad” dlm diri, tolong di baca lagi pembahasan tentang “ISTINJA AWAL DAN ISTINJA AKHIR”
    • Feri Setiawan terima kasih…………………..bpak@ ilmu hakekat…
    • Raghib Duffain semua itu tinggal kita istinja-kan dan akhirnya semua makanan menjadi halalan toyyiban.
      26 Juli pukul 2:33 · Batal Suka · 1
    • Dika Doank Tumbuhan juga hidup = bernyawa. Hewan berdarah = yang mengantarkan sari makanan ke seluruh tubuh, Tanaman bergetah = fungsi yang sama dengan darah….. diatas dituliskan ” Sayur-mayur (Vegetarian) = tidak bernyawa” koq bisa…? kan tumbuhan juga bernafas = masuk CO2 + keluar O2 (melalui stomata). Apakah kita sepakat ” tiap yg hidup adalah bernyawa”…? Lalu kenapa sayuran diposisikan pd “makanan halal dan dihalalkan”…???!!! Thank’s
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dika Doank, Dari alam an-organik pun akan menerima ke-hidup-an ke alam tumbuh2an kemudian masuk ke alam hewan, fungsi darah dan getah memang sama namun sifat berbeda, pd tingkatan hewan disebut berdarah=bernyawa karena memiliki sifat “nafsu” itulah yg perlu disucikan tdk bisa “asal jadi” makanya tdk termasuk halal dan dihalalkan.
    • Ali Baba · Berteman dengan Dika Doank dan 2 lainnya

      bang, apakah makan “Makanan yang Halal yang tidak memerlukan dipotong.dan Makanan yang Halal yang perlu dipotong” tidak boleh dalam 1 piring…? ex: ikan dan daging sapi.

    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Ali Baba, Dalam piring ada nasi dan lauk pauk, bisa jadi lauk pauknya ada ikan, ada telur, ada daging ayam, ada sayur-mayur, ada sambal, kerupuk dan bumbu2 yang lainnya, semua menjadi satu, ditambah “kuman-kuman” yang ada di dalam menjadi sempurna dan siap utk di santap.
      Permasaalahannya : Bagaimana “history” perjalanan masing2 “lauk pauk” tadi?, maka perlulah kita sucikan untuk menjadi halal dan dihalalkan semuanya, sebelum masuk ke alam insan.
    • Dayat Naga ‎”kuman-kuman” itu apa guru?
    • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Dayat Naga, “kuman-kuman” yaa kuman2/tak kasat mata (maksudnya : itu juga mahluk bernyawa kan?, yang ada di makanan atau minuman, pernahkah anda berfikir bahwa untuk menghilangkan dahaga seorang manusia saja, berapa bnyk kuman yng ada di dalam air satu gelas harus mati?)
      .
      “Bulan Suci Ramadhan”
      .
      Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya…
      Di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
      Malam turunya Al-Quran yaitu malam Lailatul Qadar.

      “Sesungguhnya Kami telah menurunkanNya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan “

      Roh orang-orang suci” dengan izin Tuhannya untuk mengatur (membantu) segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al Qadar: 1 – 5).

      Dilihat dari beberapa sudut pandang :

      Pandangan Pertama :

      Ketika seseorang beribadah pada malam Lailatul Qadar maka nilai ibadahnya = 1000bln = 83thn 4bln,
      Inilah malam yang “dicari-cari” setiap orang pada bulan Ramadhan ini.
      Sementara tidak ada yang tahu pasti kapan datangnya malam ini.
      (Maksudnya : kalau peka maka ini adalah isyarat untuk menyelami esensi yang sebenarnya)
      Namun diberikan cirri-ciri bagi mereka yang ingin menemukan malam Lailatul Qadar tersebut dan yang menemukannya akan mendapatkan ke-Mulia-an disisi Allah swt.

      Pandangan Kedua :

      Didalam “acara puasa” ada “inti puasa” itulah Tafakur
      Tafakur adalah cara untuk mengamalkan “Al-Quran” dalam Diri (Al-Quran = Roh Suci),
      Tafakur dilakukan dalam keheningan malam, saat yang lain sedang tertidur pulas.
      Bagi yang sempurna tafakurnya mereka akan dapat merasakan kenikmatan yang tidak terbayangkan oleh pikiran dan tidak bisa untuk diceritakan dengan kata-kata, Suatu kenikmatan yang hanya dapat diketahui dan dinikmati oleh yang merasanya saja.
      Tafakur sesaat yang sampai kepada dzat (cinta) itu nilai ibadahnya = 70.000thn amalan
      Tafakur mengantarkan kita kepada ke-Mulia-an Dunia dan Akhirat.

      Pandangan Ketiga :

      Malam Lailatul Qadar = Turunya “Al-Quran” = Turunnya Malaikat = Turunnya “Roh suci” (Maksudnya : Roh suci =, Wali-wali Allah yang Agung, Arifinbillah, Mursyid, …)
      Tujuannya : Membantu Allah swt, membimbing umat manusia di muka bumi…
      Kenapa Roh itu bisa turun..?
      Pada saat malam yang sangat Mulia itu “bagaimana caranya kita” dengan izin Allah swt menurunkan/menghadirkan/memanggil mereka (Roh yang suci).
      Dengan apa kita memanggil? Dengan “ibadah”
      (Maksudnya : Ibadah yang tertingi bagi manusia sebagai Khalifah di muka bumi adalah memakmurkan bumi dengan keturunan yang sholeh dan sholeha).
      Inilah malam yang penuh suka-cita, bahagia yang Mulia dan di-Mulia-kan dari malam-malam yang lain.

      Salam

      Suka ·
        • Dayat Naga pandangan ketiga, tajam…
        • Zafar Virgo lailatul qadar I2 adalh makhluk yg mmakai pkaian serba putih…
        • Van Persie Edwin Ulasan Kali ini mangarti sdiki2 abang..
          27 Juli pukul 12:00 · Batal Suka · 1
        • Aang Supardi Pandangan lain berpendapat Lailatul Qodar=perjalanan Nabi Hidir As=Wali Alloh yang bergelar Syeh Gaib bin Abdul Gaib, untuk membersihkan hat-hatii manusia yang sedang beribadah pada bulan Suci Ramadhan terutama malam hari……..pendapat ini bagaimana, penjelasan? terimakasih bang
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Aang Supardi, tentang Perjalanan Syekh Gaib bin Abdul Gaib,
          Perjalanan = Napak tilas = mengulang = mengenang = mengingatkan kembali.
          Syekh Gaib bin Abdul Gaib = Gelar Diri = Diri kita juga = Bukan suatu sosok yang berada di luar.
          (maksudnya : dulu DIA yang menemani/membantu/mengajarkan kita, saat itu DIA pernah menunjukkan dimana “tempat-tempat” untuk bisa bertemu dgn DIA, sekarangpun DIA tetap bersama kita namun sayangnya, DIA melihat kita tapi kita tidak melihat DIA).
          Pandangan yang ini mengisyaratkan untuk membersihkan/mensucikan Hati = zikir = tafakur, di malam hari, kalaulah dapat kita hancurkan “istana iblis” yang menutupi hati sanubari ini, maka akan menghasilkan “Nur Qalbu” , inilah makna-nya.
        • Aang Supardi paham bang…..dalam akhir napak tilas=perjalanan, kemudian masuk di alam dunia ini, maka kita “jasad” diperintah untuk memuji, namun sebelumnya diharuskan untuk mengetahui dulu sebuah “nama ” karena bila tidak mengenal dan memuji maka yang di bawa menjadi cakmar (cambuk} bagi dirinya…….kalau abang berkenan memberikan petunjuk kepada saya siapa gerangan nama yang dimaksud ? terimakasih
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Aang Supardi, Mari kita Napak Tilas sedikit :

          …. Akhirnya perpisahan itu pun tiba juga,

          Wahai murid-Ku.., Sampai disini batas Aku menemani-mu, sudah tiba waktunya kamu harus turun kedunia, Namun.. Aku khawatir, setibanya kamu di sana, kamu-pun akan melupakan Aku seperti kebanyakan mereka yang sudah ada disana, oleh karena itu, marilah ikut bersama-Ku, akan Aku tunjukan di mana tempat-tempat kamu dapat menemui Aku, disinilah terjadinya Mi’raj Awal.

          Setelah kembali dari “perjalanan” sang murid diantar ke “pintu gerbang” memasuki dunia, namun sang murid merasa takut melewatinya dan berkata : “Wahai Guruku aku takut” , kemudian Sang Guru membelah dadanya dan memasukan “Al-Qur’an” kedalamnya, lalu berkata “Itulah Iman-mu”.., akhirnya dengan dibantu oleh “sahabat-sahabatnya” sang murid-pun turun ke dunia.

          Sesampainya di dunia, sang murid-pun memanggil gurunya untuk ikut, lalu gurunya-pun ikut menghantarnya keluar, sebelum gurunya kembali sang murid meminta “tanda mata” dari gurunya, akhirnya di berikan-lah tanda mata dengan berpesan kepada muridnya dan berkata :
          “Wahai murid-Ku, Aku berikan “tanda mata” ini sebagian untuk Aku sebagian lagi untuk kamu (Dibagi sama rata), kamu harus menyambung kembali tali Silaturahmi yang telah terputus ini, jika tidak kamu sambung kembali, maka “tanda mata” inilah yang menjadi ‘Cambuk’ untukmu”
          Setelah diberikan tanda mata tersebut maka Guru kembali menjadi Gaib dan bergelar Syeh Gaib Bin Abdul Gaib.

          Dari ceritera di atas siapakah “nama” yang dimaksud..?

        • Aang Supardi Subhan Allah….sampai sini selalu saya buntu dengan sebuah “nama” , ada kabar tentang nama-nama seperti (Akia, Akiau, Atama, Atallu atau Burhan, Hanan, Manan, Dayan) siapa gerangan nama-nama ini, karena inipun masih terdapat pertanyaan-pertanyaan pada sebuah keyakinanku, sementara Syeh Gaib bin Abdul gaib adalah sebuah gelar yang saya pahami, tentunya kalu sebuah gelar maka ada nama pemilik gelar tersebut? mohon penjelasan nyata. Maaf sy banyak bertanya. terimkasih
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Aang Supardi, Sebagian orang telah mengetahui nama-nama tersebut…,
          Nama-nama di atas terkait dengan Pengetahuan “Saraba Ampat”
          Antaranya tentang sahabat dalam Diri = yg dzahir + yg batin = (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali) = (Jibril, Mikail, Izrail, Israfil) = (Akia, Akiau, Atallu, Atama) = (Burhan, Hanan, Manan, Dayan) = (…..)

          Penjelasan nyata = secara Ilmiah?
          Janin dalam kandungan seorang ibu telah dibantu selama berbulan-bulan hingga proses kelahiran oleh : 1, Ari-ari/Plasenta = Penyedia makanan, oksigen,.. 2. Air Ketuban = Membersihkan jln lahir,… 3. Tali Pusat = Penghubung janin ke pasenta.. 4. Selaput = Pelindung janin,…

          Inilah “empat sahabat” diri manusia yg dimaksudkan secara nyata/fisik, membantu dan lahir bersama-sama kita setelah sampai di dunia semuanya menjadi Gaib.

        • Aang Supardi Terimakash bang….semoga, kelak sy bisa berjumpa secara langsung dengan abang
      • Tulis komentar…