Mursyid 10 s/d 12

by Zulkarnain Bandjar

Mursyid (10)
.Pangilan Mursyid senantiasa berdendang dalam diri kita..

Tak pernah putus-putus panggilan tersebut, mengajak diri yang zahir (maksudnya : diri yang terlena dimabuk dunia) untuk ber-dialog, Ia senantiasa ingin berkomunikasi.. membicarakan berbagai masaalah.. tapi jarang untuk kita mendengarkan panggilan tersebut, pangilan yang penuh KERINDUAN.

Mursyid mengajarkan untuk mendengarkan suara KERINDUAN.

Suara Kerinduan mengabarkan kepada kita tentang berita baik dan berita buruk (Basyiran wa Nadziran)Suara Kerinduan = Suara Hati Sanubari Yang Dalam = Suara Tuhan = Firman =Wahyu
(Maksudnya : Pemberian namanya boleh macam2, suara Originalnya SATU jua.., cari sumber suara tersebut jangan hiraukan terhadap penamaannya, OK!).

Mendengarkan suara Kerinduan adalah HAK setiap orang.
Permasaalahannya adalah bagaimana mendapatkan HAK tersebut?
Jawabannya sederhana saja, Penuhi dulu ke-WAJIB-annya maka HAK-pun akan didapatkan.
Tidak ada Kewajiban = tidak ada Hak = Kerjakan kewajiban tanpa di mintapun hak itu akan datang.
Mursyid akan mengajarkan kepada siapa saja yang ingin menemukan atau mengenal suara kerinduan ini.
Salah satu terapinya adalah mengikuti perintah HATI.

Perintah Hati adalah : Keinginan Pertama yang terlintas dan muncul dalam Hati Sanubari.
Kita sering merasakan hal ini tetapi jarang untuk kita memperhatikan keinginan pertama ini, apalagi untuk mengikutinnya.
Kalau kita abaikan perintah ini.. maka keinginan pertama tadi akan masuk ke ranah Pikiran, di wilayah sini keinginan itu akan berkurang kemurniaannya apalagi kalau sampai masuk ke ranah Nafsu (jiwa) maka semakin “terkontaminasi” lebih banyak lagi, yang cenderung membawa ke nilai-nilai negatif.

Pepatah mengatakan HATI adalah RAJA
Suara Hati = suara Raja
Ucapan Raja = Titah = Perintah = Mantra = Makbul

Oleh karena itu…
Dengan melatih dan melaksanakan atau mengikuti suara Hati (maksudnya : keinginan pertama yang terbesit dalam hati) maka suara KERINDUAN ini akan ditemukan.
Metode diatas adalah dasar yang harus di jadikan kebiasaan dalam perilaku kehidupan sehari-hari,
Cara ini cukup efektif dalam rangka mempersiapkan diri menerima lebih lanjut lagi ilmu yang akan disampaikan oleh Mursyid, anggaplah sebagai “warming up” dulu. Metode selanjutnya untuk lebih dekat lagi dengan suara Kerinduan maka mintalah arahan dari Mursyid.

Carilah Pusat suara Kerinduan itu berdendang, agar kelak dapat mendengarkan dengan baik, janganlah melalaikan aset yang berharga ini, karena inilah modal bagi Kehidupan.

“Pada hari itu, manusia mengikuti (menuju kepada SUARA) penyeru dengan tidak berbelok-belok, dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (Thaha : 108).

Salam

217Suka ·
    • Amynk Tyas bang! saya mohon izin/ridhanya tuk membaca tululisan n mempelajarinya
      20 Juli pukul 20:31 · Batal Suka · 1
      .
      Mursyid (11)
      .INISIASI adalah awal perjalanan untuk menempuh dunia spritual yang Maha Dhasyat!

      Inisiasi = Inisiatif = Bai’at = Ijab Kabul = Pembukaan Jiwa
      Setiap kita dipenuhi oleh begitu banyak halangan dan rintangan baik yang kasat maupun yang tidak kasat mata.
      Dengan inisiasi maka akan dibukakan “Gerbang Kebijaksanaan.”
      Tujuannya : Menemukan Tuhan dalam diri kita, Menyelam kedalam Diri sendi

      ri.
      Hanya melalui jalan Inisiasi seseorang dapat berjalan menemukan Tuhannya yang menjadi Rahasia kedalaman dirinya yang Agung dan Mulia. (maksudnya : TUHAN TIDAK BERADA DILUAR DIRI MANUSIA)Inisiasi dilakukan pada saat kita benar-benar tulus ingin mengetahui Kerajaan Allah swt dalam diri.
      Kita semua memiliki kerajaanNya masing-masing dalam diri.
      Bahkan yang menjadi Rajanya adalah “Kita”.
      Sayangnya kita telah lupa bahwa kita adalah seorang Raja.
      Melalui inisiasi ini, kita akan di bantu untuk menemukan kembali “Kerajan yang hilang “, hanya cukup dengan menekan “tombol” saja maka terbukalah gerbang menuju ke Kerajaan yang hilang itu.

      Dari sana kita akan mengetahui Kebijaksanaan kita,
      Jadi.. pada dasarnya kita telah memiliki itu semua, seorang Mursyid tidak memberikan kepada kita apa-apa, hanya membantu kita untuk menemukannya kembali.
      Oleh karena itu kita perlu menemui “seseorang” yang dapat mengingatkan terhadap “tempat” awal dan akhir perjalanan hidup kita.
      Sekali lagi (ini penting).. bahwa guru datang bukan untuk memberikan sesuatu yang baru dari kita bahkan dari pengetahuan kita sekalipun, tapi guru datang untuk meningatkan kembali “tempat” awal dan akhir perjalanan hidup,

      Inisiasi bukan hanya menunggu seorang guru datang menghampiri, namun ini adalah inisiatif dari kita sebagai seorang murid untuk mencari guru yang dapat menghidupkan kembali Rona Kehidupan Spritual Sejatinya.
      Kalau sudah bertemu “sesesorang” yang mampu menyalakan Cahaya Kemuliaan yang ada dalam diri, tunggu apalagi… segeralah ber-inisiasi kepadanya.
      Proses inisiasi harus ada “sebab” yang di-nyatakan oleh calon murid, sekalipun seorang Mursyid dapat melewati “sebab” namun itu adalah “Keberkahan” bagi calon murid.

      Ketahuilah bahwa semua itu selalu melalui tahapan-tahapan.
      Tidak bisa “Bimsalabim jadi apa Prokk… Prokk… Proookk….“ langsung jadi.
      Karena, KUN FAFAKUN bukan BIMSALABIM bukan juga ABRAKADABRA.
      Kun Fayakun = Proses = Hukum Tuhan = Hukum Alam.
      Dan semua-pun tunduk kepada Hukum Alam ini termasuk Tuhan itu sendiri yang telah menciptakan hukum alam. (maksudnya : walaupun sebenarnya Tuhan itu mampu namun DIA tidak bersifat “semau gue” seperti kebanyakan orang-orang yang telah membuat peraturan kemudian dia juga yang melanggarnya).
      Jadi.. dalam hal kita mempelajariNya maka di butuhkan Kesabaran dan Ketekunan untuk mengikuti semua tahapan-tahapan itu semua.

      Saat inisiasi berlangsung, Mursyid memberikan kita kesempatan untuk menembusnya sekali dan untuk selamanya.
      Akan ada banyak tingkatan yang perlu dilalui dan ditemukan.
      Inisiasi ini hanya permulaan dan merupakan langkah awal yang besar, saat itu Mursyid akan menarik semua Daya Kuasa ke atas kepala kita agar kita bisa melihat cahaya batin dan kemudian setelah itu… bersiap-siaplah untuk pergi mengunjungi banyak tempat-tempat yang Indah…

      Bahwa :
      Tujuan inisiasi adalah “Menemukan Tuhan dalam Diri”
      Inilah tujuan yang Mulia.. karena tujuan dari semua tujuan peribadatan adalah menemukan Tuhan.

      “Aku Aset-mu, Aku ciptakan kamu agar Mengenal KU” kalau demikian maka semestinya semua aktifitas Kehidupan ini berjalan pada Proses penemuan AKU.
      Tuhan tidak mungkin turun dari langit ke bumi dan “berteriak” wahai manusia inilah Tuhan-mu, tidak demikian DIA mengenalkan Dirinya, melainkan melalui kearifan para Mursyid, Ia mengenalkan Dirinya yang sejati (maksudnya : bukan melalui Malaikat tapi melalui manusia seperti kita juga)

      Pengetahuan ke-ILAHI-an yang Sempurna tidak di dapatkan dengan cara membaca dan tidak di ajarkan dengan kata-kata, karena seorang Mursyid bukan Mengajarkan tetapi MENYELARASKAN sehingga murid bisa menjadi instrument bagi Tuhan-nya untuk berkreasi.
      Hakekatnya kita semua telah memiliki pengetahuan akan Ketuhanan ini, bahkan lebih dari itu, kita pernah menyaksikan (Syahadah) terhadap Tuhan kita masing-masing.
      “Bukankah Aku ini Tuhan-mu..? Ya, kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”

      Jadi jelas tugas Mursyid hanya Menyelaraskan saja, karena….
      “Tak seorang-pun yang bisa memberikan pengetahuan spritual kepada kita, melainkan pengetahuan itu sudah ada dalam batin setiap kita”
      Mursyid datang meletakkan cahaya dalam hati muridnya kalau memang tidak ada cahayanya agar dapat menyaksikan dan berhubungan kembali dengan Daya Kuasa Tuhan dalam dirinya (maksudnya : seperti Ahli listrik, dirumah itu sudah ada kabel sudah ada lampu tapi tidak ada cahaya, kemudian Ahli listrik itu membetulkan semuanya maka muncullah cahaya).

      Saudaraku yang Mulia..
      Anda akan terus bertanya sepanjang anda terus membaca…
      Dan tiada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan kepada anda.
      Waktu anda sangatlah berharga, seperti juga waktu saya.
      Namun.. jika waktu anda tidak berharga maka waktu saya sangat berharga…
      Saya tidak mempunyai waktu untuk berkeliling dengan Bus dan Pesawat hanya untuk bersenang-senang, bermalas-malasan atau bersantai-santai ria…
      Kalau memang itu yang anda lakukan, maka janganlah mengeluh :
      Bahwa anda tidak mendapatkan apa-apa,
      Bahwa anda tidak tahu mengapa anda datang kesini,
      Bahwa anda tidak tahu mengapa anda sedang duduk ditempat anda sekarang.
      Sungguh..! Anda tidak bisa berharap terlalu banyak sementara anda tidak melakukan apa-apa.

      Hati sebagian orang terkadang sedemikian sulitnya dan kerasnya, bahkan saat mereka sedang duduk di Hadirat Tuhan-pun tidak membuat hati mereka tegerak.
      Bayangkan.! Daya Kuasa yang Maha Tinggi saja tidak dapat menyentuh mereka.
      Sementara Daya Kuasa ini dapat menghancurkan Gunung, dapat mengeringkan Lautan bahkan dapat membuat seluruh Alam Semesta hancur lebur menjadi debu., tetapi tidak dapat menyentuh hati sebagian manusia ini.
      Saya sangat khawatir, entah mau jadi apa nantinya manusia seperti ini…..

      Salam

      2715Suka ·
        • Adi Luhur master ching hai…,metode kuan yin kh….yg anda mksd pak
          19 Juli pukul 18:12 melalui seluler · Batal Suka · 2
        • Dayat Naga semoga abang selalu di berikan kesehatan dan terus membimbing kami, terima kasih bang.
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@adi luhur, guru ching hai termasuk salah satu orang yang bersedia mengungkapkannya..
        • Rudi Kurniawan Gmn cara menemukan Tuhan ? Mohon penjelasan…..
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Rudi Kurniawan, Menemukan Tuhan = Menemukan jln utk kembali, dan setiap kita sdh di anugrahkan jln utk kembali kpdNya, kaitanya dgn apa yg sdh sy sampaikan 1. Panggilan Kerinduan=suara Ilahi 2. Mursyid = Cahaya Ilahi, suara itulah yang membawa sedang cahaya itulah yang menerangi (mobil=lampu+mesin, lampu=yang menerangi jln, mesin=membw anda melewati jln) jika 2 hal tersebut telah anda lampaui maka anda dapat mengenal Tuhan.
        • Bhangsadt Edi indah kata”.mu,,,
          n tak seorang.pun yang mau menyentuh kata” status.mu,,
        • Herry Prasetya numpang tanya “setelah melalui proses-proses dan tahapan sehingga akhirnya kita menemukan tuhan lalu Tuhan bertanya apa yang kau mau wahai hambaku”???…..
        • Ilmu Hakekat Usul Diri proses=tahapan2=tingkatan=naik=tajjali, semakin tinggi semakin halus akhirnya sirna, mana tuhan, mana hamba, siapa yg bertanya, siapa jg yg menjawab.
          20 Juli pukul 8:36 melalui seluler · Suka · 2
        • Rudi Kurniawan Saya punya kerinduan pd ALLOH. Tapi tdk punya cahaya/ mursyid. Dmana bisa saya jumpai Mursyid ?
        • Amynk Tyas bang! bagaimana cara tuk bisa mengenal diri
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Rudi Kurniawan, Kerinduan = Tekad yang kuat = Energi positif = akan menghasilkan KEBAIKAN bagi diri = pasti menjumpai Mursyid (tanamkan ini di dada).
          Bisa jd “mursyid” ada di sekitar anda, karena seorang mursyid tidak akan mengatakan bahwa dia adalah mursyid. Yang penting kembangkan terus kerinduan ini, karena ENERGI INILAH YG MEMBAWA kita berjln ke arahNya, cobaan bisa sj menghiasi perjlnan, agar memberhentikan tekad yg membara, pandai2 melihat “cobaan” sehingga tekad itu tetap berjalan
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Amynk Tyas, Kenal orang = kenal diri = kenal Tuhan (maksudnya : CARANYA mulai dgn mengenali orang2 di sekelilingmu)
        • Amynk Tyas numpang tanya ya bang! “bgmn tuk bisa membedakan antara manusia dengan tuhan? padahal manusia itu tercipta dari diri Tuhan, dari Nurullah tercipta nur Muhammad sehingga yang ghaib menjadi dzahir/tampak. jika yang terjadi demikian maka sahkah jika yang terungkap dari diri yang dzahir sebuah pengakuan bahwa diri kita Tuhan/dzat yang maha hidup???????………………
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Amynk Tyas.
          1.“….Membedakan antara manusia dengan Tuhan..?”
          Tuhan = Allah = Nyawa = Ghaib = Akhirat = Baqa = Yang terus hidup = Syahadat Tauhid.
          Hamba = Manusia = Tubuh = Dzahir = Dunia = Fana = Yang akan hancur = Syahadat Rasul.
          2.“Sahkah jika yang terungkap dari diri yang dzahir sebuah pengakuan bahwa diri kita…..?”
          Pengakuan = penyaksian = Syahadah.
          Diri kita = Tubuh + Nyawa …..
        • Amynk Tyas alhamdulilah, trimaksih atas tausyiyahnya. “Diri kita = Tubuh+ nyawa” jika demikian berarti pengakuan tidak bisa diungkap dengan suara lisan yang dampaknya bisa diketahui oleh halayak ramai. apa mungkin demikian???…
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@amynk tyas, suara lisan (terdengar) karena tubuh pada kita, sirr (tidak terdengar) karena nyawa pada kita.
        • Amynk Tyas penampakan tuhan itu apakah nyata di depan kita, ataukah nampak sebatas pandangan batin yakni bayang-bayang, ataukah kenampakannya di ilustrasikan dalam angan-angan? “mohon maaf ya bang! saya kok selama ini semakin bingung setelah mempelajari lebih dalam tentang hal ini. untuk itu saya mohon dengan hormat untuk abang jelaskan secara detail agar supaya saya tidak bingung lagi…..
        • Mualafy Saza Subhanallah..
          Robbijidni ‘ilma..
          Warjuqni fahma..
          21 Juli pukul 21:20 melalui seluler · Suka · 1
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Amynk Tyas, Hanya yang gaib saja bisa bertemu dengan yang gaib, oleh karenanya HARUS FANA.
          Pandangan batin itu juga nyata karena jelas dirasakan, bukan berupa bayang2 (bayang2 = reka2 = bukan sebenarnya = buatan pikiran) = (mengilustrasikan dalam angan2 itu juga gambaran dari pikiran).
          Pikiran tidak akan mampu menjangkauNya, maka laupaui-lah pikiran itu.
          “Saat fana kita akan merasakan bahwa ada lagi yang berfikir ketika kita sedang berfikir.”
          Dalam zona pengalaman, apapun yg akan kita ceriterakan kpd orang lain akan menjadi bayangan dari kebenaran itu sendiri, akhirnya membuat orang bingung,
          Bagaimana mungkin bisa menjelaskan manisnya madu kalau orang itu tidak merasakannya?
        • Amynk Tyas berarti, yang terungkap itu tersirat dan duduk pada “Rasa yang merasai” benar ta bang?…….
        • Ilmu Hakekat Usul Diri Tersiratlah yg mempunyai nilai tinggi yg perlu diungkap karena menyimpan rahasia diri manusia…
        • Amynk Tyas syukur alhamdulilah dan terimakasih atas kepedulian abang yang telah ikhlas meluangkan waktunya tuk menjawab pertanyaan2 al-fakir
        • Rudi Dugal mas, boleh gk q bertanya bner gk sih lw dlor4 5 pancer tu saudara kt,tlong penjelasanya.
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Rudi Dugal, “Sedulur Papat” = Empat Sahabat = Empat yang berbeda tapi Satu kesatuan yang utuh. Membantu/memelihara tanpa diminta-pun seperti dalam kandungan ibu, di alam Syahadah ini kita di jaga secara spiritual, dilindungi secara batinia….,
          Dalam Surah Al-Ra’d ayat 11 : “Pada setiap diri manusia ada malaikat penjaganya “..
        • Mas Bro Aja Bang ihud@apa hakekat ikhlas ridho dan sabar?
        • Ilmu Hakekat Usul Diri ‎@Mas Bro Aja,
          Iklas = bekerja tanpa pamrih, ridho = tawakal = berserah diri, sabar = menerima baik + buruk,
          “sucikan amalmu dgn iklas, sucikan iklasmu dgn tawakal, dan sucikan tawakalmu dgn sabar”
          Iklas + tawakal + sabar = khusyu’ = ihsan = Nur Qalbu = Rahasia
        • Mas Bro Aja Terima ksh bang ihud smg jdi pembelajaran bg mas bro,yg bdh ini.
          .
          Mursyid (12)Ke-Ilmuan para Mursyid dari waktu-ke-waktu tidak pernah berubah, bertambah atau berkurang.
          Tetap stabil pada porosnya yang telah disampaikan oleh para nabi dan rasul, guru awal sampai guru akhir yang hidup bersama kita sekarang.
          Pengetahuan yang di-ajarkan tidak terlepas dari 3 Pilar Utama :
          1. Pemahaman Ibadah yang benar dan tepat.
          2. Mahkota Rumah Tangga (Nisa’i).
          3. Menemukan Jalan Kembali.

          1. Pemahaman Ibadah yang benar dan tepat.

          Shalat itu terlalu “kamal”,
          Di dalamnya “liqa” lagi dan “wisal”,
          Apabila lenyap daripada “waham” dan “khayal”,
          Engkaulah Sultan yang tiada ber-“mithal”,
          (Maksudnya : Kamal = Sempurna, Liqa = Pertemuan, Wisal = Cinta, Waham = Salah sangka, Khayal = reka-reka, Mithal = Alam Rohani).

          Cara beribadah yang dijalani sebagian orang hanya berdasarkan pada perkiraan saja, tanpa melihat dan mengetahui esensi dari sebuah acara ibadah, akhirnya mereka merasakan bahwa ibadahnya belum “afdhal”.
          Mengapa masih ada perasaan demikian…?
          Bukankah kita harus mengetahui kebenaran dan ketepatan atas pekerjaan yang kita lakukan?
          Ritualitas Ibadah harus ada parameternya, Rasulullah Muhammad telah memberikan “juklak” dan “juknis” dalam menjalankan ibadah terhadap diriNya, dan itu diturunkan hingga ke guru akhir (Mursyid).
          Untuk melakukan peribadatan yang benar dan tepat, minimal kita harus memahami hakekat ibadah yang ter-formulasi ke dalam 6 pertanyaan mendasar yaitu :
          1. Apa itu Ibadah?
          2. Siapa yang beribadah?
          3. Dimana Beribadah?
          4. Kapan Beribadah?
          5. Mengapa Beribadah?
          6. Bagaimana Beribadah?

          Dari ke-enam pertanyaan ini, apabila di pahami dengan benar, maka seseorang dapat beribadah dengan penuh Kekhusu’an. Sehingga mencapai sasaran yang tepat.
          Kalau belum kita pahami, maka yang kita jalankan hanya kewajiban saja (Rutinitas biasa), tidak lebih dari itu, sementara disisi lain kita mengharapkan sesuatu yang baik (pahala) atas perbuatan ibadah.
          Ironos memang antara keinginan dan kenyataan..
          Bagaimana dapat mencapai derajat Khusu’ , kalau pemahaman terhadap paradigma ibadah saja belum tepat?

          2. Mahkota Rumah Tangga (Nisa’i).

          Rumah Tangga itu adalah jenjang Penyempurnaan Diri.
          Hal ini harus dilalui oleh setiap Insan yang akan memasuki gerbang Kesempurnaan.
          Rumah tangga bukan sekedar penerus dari rasa cinta antara lelaki dan perempuan yang dirajut dalam ikatan Agama yang disebut Nikah, namun dalam Rumah Tangga kalaulah ditelusuri makna Spritualnya, maka kita akan menemukan Samudra Ke-Ilahian yang tak bertepian, namun akan bermuara pada satu tujuan yang Mulia, yaitu “membantu” pengenalan Sang Pencipta.
          Sudah seharusnya pengetahuan ini didapatkan bagi mereka yang telah masuk didalamnya.

          3. Menemukan Jalan Kembali.

          “Aku Kematian dan Kebangkitan, barang siapa percaya kepadaku, maka ia akan hidup, sekalipun mati…”
          Kematian dan kehidupan adalah merupakan satu paket yang sama.
          Dimana ada kematian, maka ada kehidupan, dan dimana ada kehidupan, maka ada kematian.
          Bagaimana caranya sekarang kita memahami kematian sebagai awal untuk menyempurnakan Diri menjadi lebih baik, dalam menjalani kehidupan kembali…
          Kematian bukan akhir dari segala perjalanan hidup, tetapi kematian harus dipahami sebagai proses untuk penyempurnaan kehidupan kembali seorang manusia, maka proses kematian ini harus dipahami juga sebagai proses kehidupan.
          Dengan pemahaman demikian, maka kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, dan menyeramkan, dengan berbagai anggapan selama ini tentang adanya “neraka” ataupun “surga” namun… ini adalah suatu perjalanan yang Mulia yang akan dialami oleh tiap-tiap manusia.
          Dalam menemukan Jalan Kembali (untuk hidup lagi) maka seseoran harus mengetahui apa itu mati? Kapan akan mati? Dimana mati? Dan bagaimana untuk kembali lagi dalam realitas kehidupan ini.
          Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang kematian yang Paripurna, maka tidak diragukan lagi, seseorang akan “hidup” di dua alam.

          Salam

          Suka ·